<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Mahasiswa, Dosen, Guru Besar dan Alumni Trisakti Menentang Pelanggaran Etika Demokrasi</title><description>ara mahasiswa, dosen, guru besar, hingga alumni kompak menyerukan maklumat bertajuk &amp;ldquo;Trisakti Melawan Tirani&amp;rdquo;.
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2024/02/10/337/2968082/mahasiswa-dosen-guru-besar-dan-alumni-trisakti-menentang-pelanggaran-etika-demokrasi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2024/02/10/337/2968082/mahasiswa-dosen-guru-besar-dan-alumni-trisakti-menentang-pelanggaran-etika-demokrasi"/><item><title>Mahasiswa, Dosen, Guru Besar dan Alumni Trisakti Menentang Pelanggaran Etika Demokrasi</title><link>https://news.okezone.com/read/2024/02/10/337/2968082/mahasiswa-dosen-guru-besar-dan-alumni-trisakti-menentang-pelanggaran-etika-demokrasi</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2024/02/10/337/2968082/mahasiswa-dosen-guru-besar-dan-alumni-trisakti-menentang-pelanggaran-etika-demokrasi</guid><pubDate>Sabtu 10 Februari 2024 04:01 WIB</pubDate><dc:creator>Ismet Humaedi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/02/10/337/2968082/mahasiswa-dosen-guru-besar-dan-alumni-trisakti-menentang-pelanggaran-etika-demokrasi-pO4zOd8Yb8.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Mahasiswa, dosen, guru besar hingga alumni Trisakti menentang pelanggaran etika demokrasi (Foto: Ismet Humaedi)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/02/10/337/2968082/mahasiswa-dosen-guru-besar-dan-alumni-trisakti-menentang-pelanggaran-etika-demokrasi-pO4zOd8Yb8.jpg</image><title>Mahasiswa, dosen, guru besar hingga alumni Trisakti menentang pelanggaran etika demokrasi (Foto: Ismet Humaedi)</title></images><description>JAKARTA&amp;nbsp;- Menanggapi situasi kekhawatiran matinya reformasi di Indonesia, sivitas akademika Universitas Trisakti menggelar mimbar bebas di Tugu Reformasi 12 Mei, Jakarta, Jumat (9/2/2024). Para mahasiswa, dosen, guru besar, hingga alumni kompak menyerukan maklumat bertajuk &amp;ldquo;Trisakti Melawan Tirani&amp;rdquo;.
Maklumat yang dibacakan Presiden Mahasiswa Universitas Trisakti, Vladima Insan Mardika, menjelaskan mereka menentang berbagai pelanggaran etika kehidupan berbangsa yang diperlihatkan oleh penyelenggara negara. Terutama isu dinasti politik yang belakangan mencuat ke permukaan setelah pencalonan wakil presiden Gibran Rakabuming Raka, anak dari Presiden Joko Widodo.

BACA JUGA:
Masa Tenang Pilpres 2024, Ganjar Akan Jalan-Jalan hingga Temui Relawan

Mereka menyoroti banyak hal seperti Mahkamah Konstitusi, sejumlah menteri hingga KPU sebagai penyelenggara Pemilu.
Vladima mengatakan, kegelisahan ini juga terjadi karena adanya manipulasi rakyat melalui personifikasi bantuan sosial yang merupakan kewajiban negara atas hak-hak rakyat sebagai pemberian pribadi untuk tujuan kepentingan elektoral terhadap paslon tertentu.

&quot;Kami menolak personifikasi dan personalisasi kewajiban negara atas hak-hak rakyat untuk tujuan partisan elektoral,&quot; ujar Vladima kepada wartawan.

BACA JUGA:
Dukung Ganjar-Mahfud, Ribuan Alumni Kampus Ternama di Jabar Sampaikan Pesan Cinta


Para sivitas akademika Universitas Trisakti juga menyoroti pemberantsan korupsi yang dilakukan Jokowi saat ini penuh dengan intrik. Banyak terduga koruptor yang ikut dalam tim kampanye yang didukung oleh para penguasa negeri dan penyelidikan kasusnya dihentikan.

&quot;Kami juga menolak pemberantasan korupsi yang bermotif dan bertujuan politik partisan. Jika negara serius, maka penanganan korupsi tidak berhenti ketika pejabat yang diperiksa justru menjadi juru kampanye paslon tertentu yang didukung penguasa,&quot; ujarnya.
Vladima menilai, Pemilu 2024 menjadi pemilu pertama yang tidak fair, tidak bebas dan tidak demokratis semenjak masa Reformasi. Dia mengatakan terlalu banyak ketidaknetralan pejabat dan aparat negara, termasuk penyelahgunaan fasilitas dan sumber daya negara lainnya hanya untuk kepentingan partisan paslon tertentu.
&amp;ldquo;Kami mendukung suara gerakan keprihatinan guru besar sertia sivitas akademika dari berbagai kampus universitas atas kemunduran demokrasi saat ini. Dan kami mendukung seruan untuk kembali ke jalan demokrasi yang benar,&amp;rdquo; ucap Vladima.

BACA JUGA:
Alumni Perguruan Muhammadiyah Suarakan Menolak Dukung Prabowo-Gibran

Pada kesempatan yang sama, Guru Besar Fakultas Teknologi Industri Trisakti, Dadan Umar Daihani, mengatakan, gerakan ini merupakan aksi lanjutan dari apa yang sudah disampaikan oleh kampus-kampus lainnya di Indonesia.
&amp;ldquo;Kami sedih kampus sudah mengajarkan etika, di luar etika dikoyak. Ini menjadi panggilan dan kami ini hanya melengkapi semua guru besar yang sebelumnya sudah bicara,&quot; kata Dadan.</description><content:encoded>JAKARTA&amp;nbsp;- Menanggapi situasi kekhawatiran matinya reformasi di Indonesia, sivitas akademika Universitas Trisakti menggelar mimbar bebas di Tugu Reformasi 12 Mei, Jakarta, Jumat (9/2/2024). Para mahasiswa, dosen, guru besar, hingga alumni kompak menyerukan maklumat bertajuk &amp;ldquo;Trisakti Melawan Tirani&amp;rdquo;.
Maklumat yang dibacakan Presiden Mahasiswa Universitas Trisakti, Vladima Insan Mardika, menjelaskan mereka menentang berbagai pelanggaran etika kehidupan berbangsa yang diperlihatkan oleh penyelenggara negara. Terutama isu dinasti politik yang belakangan mencuat ke permukaan setelah pencalonan wakil presiden Gibran Rakabuming Raka, anak dari Presiden Joko Widodo.

BACA JUGA:
Masa Tenang Pilpres 2024, Ganjar Akan Jalan-Jalan hingga Temui Relawan

Mereka menyoroti banyak hal seperti Mahkamah Konstitusi, sejumlah menteri hingga KPU sebagai penyelenggara Pemilu.
Vladima mengatakan, kegelisahan ini juga terjadi karena adanya manipulasi rakyat melalui personifikasi bantuan sosial yang merupakan kewajiban negara atas hak-hak rakyat sebagai pemberian pribadi untuk tujuan kepentingan elektoral terhadap paslon tertentu.

&quot;Kami menolak personifikasi dan personalisasi kewajiban negara atas hak-hak rakyat untuk tujuan partisan elektoral,&quot; ujar Vladima kepada wartawan.

BACA JUGA:
Dukung Ganjar-Mahfud, Ribuan Alumni Kampus Ternama di Jabar Sampaikan Pesan Cinta


Para sivitas akademika Universitas Trisakti juga menyoroti pemberantsan korupsi yang dilakukan Jokowi saat ini penuh dengan intrik. Banyak terduga koruptor yang ikut dalam tim kampanye yang didukung oleh para penguasa negeri dan penyelidikan kasusnya dihentikan.

&quot;Kami juga menolak pemberantasan korupsi yang bermotif dan bertujuan politik partisan. Jika negara serius, maka penanganan korupsi tidak berhenti ketika pejabat yang diperiksa justru menjadi juru kampanye paslon tertentu yang didukung penguasa,&quot; ujarnya.
Vladima menilai, Pemilu 2024 menjadi pemilu pertama yang tidak fair, tidak bebas dan tidak demokratis semenjak masa Reformasi. Dia mengatakan terlalu banyak ketidaknetralan pejabat dan aparat negara, termasuk penyelahgunaan fasilitas dan sumber daya negara lainnya hanya untuk kepentingan partisan paslon tertentu.
&amp;ldquo;Kami mendukung suara gerakan keprihatinan guru besar sertia sivitas akademika dari berbagai kampus universitas atas kemunduran demokrasi saat ini. Dan kami mendukung seruan untuk kembali ke jalan demokrasi yang benar,&amp;rdquo; ucap Vladima.

BACA JUGA:
Alumni Perguruan Muhammadiyah Suarakan Menolak Dukung Prabowo-Gibran

Pada kesempatan yang sama, Guru Besar Fakultas Teknologi Industri Trisakti, Dadan Umar Daihani, mengatakan, gerakan ini merupakan aksi lanjutan dari apa yang sudah disampaikan oleh kampus-kampus lainnya di Indonesia.
&amp;ldquo;Kami sedih kampus sudah mengajarkan etika, di luar etika dikoyak. Ini menjadi panggilan dan kami ini hanya melengkapi semua guru besar yang sebelumnya sudah bicara,&quot; kata Dadan.</content:encoded></item></channel></rss>
