<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Doa Keluarga Korban 1998 di Depan Istana: Kami Berkali-kali Dikhianati</title><description>Mereka memanjatkan sejumlah harapan kepada sang pecipta, di mana dalam doanya, mereka bilang telah berkali-kali dikhianati.</description><link>https://news.okezone.com/read/2024/02/11/337/2968607/doa-keluarga-korban-1998-di-depan-istana-kami-berkali-kali-dikhianati</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2024/02/11/337/2968607/doa-keluarga-korban-1998-di-depan-istana-kami-berkali-kali-dikhianati"/><item><title>Doa Keluarga Korban 1998 di Depan Istana: Kami Berkali-kali Dikhianati</title><link>https://news.okezone.com/read/2024/02/11/337/2968607/doa-keluarga-korban-1998-di-depan-istana-kami-berkali-kali-dikhianati</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2024/02/11/337/2968607/doa-keluarga-korban-1998-di-depan-istana-kami-berkali-kali-dikhianati</guid><pubDate>Minggu 11 Februari 2024 12:42 WIB</pubDate><dc:creator>Riana Rizkia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/02/11/337/2968607/doa-keluarga-korban-1998-di-depan-istana-kami-berkali-kali-dikhianati-fHUe8qXjj6.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Keluarga korban pelanggaran HAM berdoa di depan Istana (Foto: MPI)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/02/11/337/2968607/doa-keluarga-korban-1998-di-depan-istana-kami-berkali-kali-dikhianati-fHUe8qXjj6.jpg</image><title>Keluarga korban pelanggaran HAM berdoa di depan Istana (Foto: MPI)</title></images><description>JAKARTA - Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI) menggelar doa bersama di depan Istana Kepresidenan. Mereka memanjatkan sejumlah harapan kepada sang pecipta, di mana dalam doanya, mereka bilang telah berkali-kali dikhianati pemimpin negeri ini.

Sebanyak 30 orang dari keluarga korban pelanggaran HAM 1998 saling menguatkan dengan doa yang khidmat. Mereka pun meminta agar Indonesia terbebas dari calon pemimpin yang melanggar Hak Asasi Manusia (HAM), dan pernah terlibat dalam penculikan anggota keluarganya.


BACA JUGA:
Peristiwa Pelanggaran HAM Talangsari 1898


Sekretaris IKOHI, Zaenal Muttaqin mengatakan, pihaknya sengaja berdoa di depan istana sebagai simbol bahwa negara belum memberikan keadilan dan penjelasan soal keluarganya yang hilang sejak 1998.

&quot;Jadi kami hari ini melaksanakan doa bersama keluarga, untuk menyelamatkan negeri ini dari capres pelanggar HAM, capres yang telah memerintahkan penculikan kepada keluarga kami,&quot; kata Zaenal di sebrang Istana Kepresidenan, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Minggu (11/2/2024).

Para keluarga korban, kata Zaenal, tidak ingin Indonesia dipimpin oleh orang yang mempunyai rekam jejak dengan pelanggaran HAM.

&quot;Kami ingin negara ini selamat dari orang yang pernah melakukan kejahatan kejam, kejahatan terhadap kemanusiaan, kejahatan yang berlangsung hingga kini,&quot; katanya.


BACA JUGA:
Ditanya Aksi Kamisan, Mahfud MD Akan Tuntaskan Kasus Pelanggaran HAM Berat Masa Lalu


Zaenal mengatakan, setidaknya para keluarga menginginkan informasi apakah korban penculikan 1998 masih hidup atau tidak.

&quot;Karena kami yakin apabila pelanggar ham jadi presiden, maka kasus ini tidak akan dituntaskan,&quot; katanya.

Berikut salah satu doa yang dipanjatkan dalam kegiatan tersebut:

Gusti Allah yang maha baik,
Hari ini kami berkumpul di sini, depan Istana Negara, jumlah kami memang hanya puluhan, tapi kami membawa doa-doa, membawa suara hati yang paling tulus dari ribuan kawan-kawan kami di luar sana.Gusti Allah yang welas asih
Kami berdiri disini, hanya berkehendak memohon pertolonganmu. Telah panjang perjuangan kami, para ibu-ibu kawan-kawan kami yang dihilangkan.
&amp;nbsp;
Kami berupaya tidak akan pernah hilang harapan, tapi sesungguhnya, perjuangan ini alangkah beratnya. Kami dikhianati berkali-kali oleh pemimpin negeri. Kami dikhianati oleh kawan-kawan kami sendiri.
&amp;nbsp;
Kami telah berupaya semampu kami. Kami telah berjuang sekeras kami. Kami telah panjatkan doa tiada henti. Jangan biarkan kami hilang harapan.
&amp;nbsp;
Untuk itu, hanya padamu, Sang Pemilik Hidup tempat kami bersandar. Kami hanya dapat memohon kuasamu. Karena kami percaya Engkau Maha Kasih dan Maha Digdaya Segala.
&amp;nbsp;
Gusti Allah yang maha baik,
Kau tahu kepahitan apa yang paling menusuk kalbu, saat orang yang dicintai hilang, tanpa kepastian hidup atau mati. Para ibu ini telah melewati puluhan ribuan malam yang letih dan sendirian.
&amp;nbsp;
Satu per satu dari mereka telah meninggalkan kami. Sepanjang hidup mereka, mereka hanya berharap, terus berharap temukanlah anak kami: hidup atau mati. Sayangnya, harapan itu kandas, hingga mereka wafat.
&amp;nbsp;
Mereka adalah ibu-ibu kami
Kesakitan mereka adalah kesakitan kami.
Doa-doa yang terpanjat siang malam mereka adalah doa kami.</description><content:encoded>JAKARTA - Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI) menggelar doa bersama di depan Istana Kepresidenan. Mereka memanjatkan sejumlah harapan kepada sang pecipta, di mana dalam doanya, mereka bilang telah berkali-kali dikhianati pemimpin negeri ini.

Sebanyak 30 orang dari keluarga korban pelanggaran HAM 1998 saling menguatkan dengan doa yang khidmat. Mereka pun meminta agar Indonesia terbebas dari calon pemimpin yang melanggar Hak Asasi Manusia (HAM), dan pernah terlibat dalam penculikan anggota keluarganya.


BACA JUGA:
Peristiwa Pelanggaran HAM Talangsari 1898


Sekretaris IKOHI, Zaenal Muttaqin mengatakan, pihaknya sengaja berdoa di depan istana sebagai simbol bahwa negara belum memberikan keadilan dan penjelasan soal keluarganya yang hilang sejak 1998.

&quot;Jadi kami hari ini melaksanakan doa bersama keluarga, untuk menyelamatkan negeri ini dari capres pelanggar HAM, capres yang telah memerintahkan penculikan kepada keluarga kami,&quot; kata Zaenal di sebrang Istana Kepresidenan, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Minggu (11/2/2024).

Para keluarga korban, kata Zaenal, tidak ingin Indonesia dipimpin oleh orang yang mempunyai rekam jejak dengan pelanggaran HAM.

&quot;Kami ingin negara ini selamat dari orang yang pernah melakukan kejahatan kejam, kejahatan terhadap kemanusiaan, kejahatan yang berlangsung hingga kini,&quot; katanya.


BACA JUGA:
Ditanya Aksi Kamisan, Mahfud MD Akan Tuntaskan Kasus Pelanggaran HAM Berat Masa Lalu


Zaenal mengatakan, setidaknya para keluarga menginginkan informasi apakah korban penculikan 1998 masih hidup atau tidak.

&quot;Karena kami yakin apabila pelanggar ham jadi presiden, maka kasus ini tidak akan dituntaskan,&quot; katanya.

Berikut salah satu doa yang dipanjatkan dalam kegiatan tersebut:

Gusti Allah yang maha baik,
Hari ini kami berkumpul di sini, depan Istana Negara, jumlah kami memang hanya puluhan, tapi kami membawa doa-doa, membawa suara hati yang paling tulus dari ribuan kawan-kawan kami di luar sana.Gusti Allah yang welas asih
Kami berdiri disini, hanya berkehendak memohon pertolonganmu. Telah panjang perjuangan kami, para ibu-ibu kawan-kawan kami yang dihilangkan.
&amp;nbsp;
Kami berupaya tidak akan pernah hilang harapan, tapi sesungguhnya, perjuangan ini alangkah beratnya. Kami dikhianati berkali-kali oleh pemimpin negeri. Kami dikhianati oleh kawan-kawan kami sendiri.
&amp;nbsp;
Kami telah berupaya semampu kami. Kami telah berjuang sekeras kami. Kami telah panjatkan doa tiada henti. Jangan biarkan kami hilang harapan.
&amp;nbsp;
Untuk itu, hanya padamu, Sang Pemilik Hidup tempat kami bersandar. Kami hanya dapat memohon kuasamu. Karena kami percaya Engkau Maha Kasih dan Maha Digdaya Segala.
&amp;nbsp;
Gusti Allah yang maha baik,
Kau tahu kepahitan apa yang paling menusuk kalbu, saat orang yang dicintai hilang, tanpa kepastian hidup atau mati. Para ibu ini telah melewati puluhan ribuan malam yang letih dan sendirian.
&amp;nbsp;
Satu per satu dari mereka telah meninggalkan kami. Sepanjang hidup mereka, mereka hanya berharap, terus berharap temukanlah anak kami: hidup atau mati. Sayangnya, harapan itu kandas, hingga mereka wafat.
&amp;nbsp;
Mereka adalah ibu-ibu kami
Kesakitan mereka adalah kesakitan kami.
Doa-doa yang terpanjat siang malam mereka adalah doa kami.</content:encoded></item></channel></rss>
