<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Film Dirty Vote: Dugaan Kecurangan Pemilu 2024 Libatkan 3 Ahli Hukum</title><description>Film Dirty Vote merupakan dokumenter eksplanatori yang disampaikan tiga Ahli Hukum Tata Negara.</description><link>https://news.okezone.com/read/2024/02/11/337/2968615/film-dirty-vote-dugaan-kecurangan-pemilu-2024-libatkan-3-ahli-hukum</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2024/02/11/337/2968615/film-dirty-vote-dugaan-kecurangan-pemilu-2024-libatkan-3-ahli-hukum"/><item><title>Film Dirty Vote: Dugaan Kecurangan Pemilu 2024 Libatkan 3 Ahli Hukum</title><link>https://news.okezone.com/read/2024/02/11/337/2968615/film-dirty-vote-dugaan-kecurangan-pemilu-2024-libatkan-3-ahli-hukum</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2024/02/11/337/2968615/film-dirty-vote-dugaan-kecurangan-pemilu-2024-libatkan-3-ahli-hukum</guid><pubDate>Minggu 11 Februari 2024 13:10 WIB</pubDate><dc:creator>Binti Mufarida</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/02/11/337/2968615/film-dirty-vote-dugaan-kecurangan-pemilu-2024-libatkan-3-ahli-hukum-rZwyrd60c0.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Film Dirty Vote (Foto: Tangkapan Layar)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/02/11/337/2968615/film-dirty-vote-dugaan-kecurangan-pemilu-2024-libatkan-3-ahli-hukum-rZwyrd60c0.jpg</image><title>Film Dirty Vote (Foto: Tangkapan Layar)</title></images><description>JAKARTA - Film Dirty Vote merupakan dokumenter eksplanatori yang disampaikan tiga Ahli Hukum Tata Negara yakni Zainal Arifin Mochtar, Bivitri Susanti, dan Feri Amsari. Ketiga ahli hukum ini secara terang benderang mengungkap kecurangan Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 dalam film yang tayang perdana pada Minggu, 11 Februari 2024 pukul 11.11 WIB.

&amp;ldquo;Jika Anda nonton film ini saya punya pesan sederhana, satu tolong jadikan film ini sebagai landasan untuk Anda melakukan penghukuman,&amp;rdquo; ungkap Zainal Arifin Mochtar mengawali film dokumenter ini, dikutip dari YouTube Dirty Vote, Minggu (11/2/2024).

Sementara itu, Bivitri Susanti mengatakan bahwa dia mau terlibat dalam film agar semakin banyak masyarakat tahu bahwa Pemilu tidak baik-baik saja.

&amp;ldquo;Saya mau terlibat dalam film ini karena banyak orang yang akan makin paham, bahwa memang telah terjadi kecurangan yang luar biasa. Sehingga Pemilu ini tidak bisa dianggap baik-baik saja,&amp;rdquo; ujarnya.


BACA JUGA:
Ganjar : Kami Minta Maaf, Mudah-mudahan Tidak Baperan


Kemudian, Feri Amsari pun melanjutkan bahwa film Dirty Vote akan memberikan pendidikan kepada masyarakat bagaimana politisi telah mempermainkan publik hanya untuk kepentingan golongan.

&amp;ldquo;Selain diajak oleh figur-figur yang saya hormati, tentu saja film ini dianggap akan mampu mendidik publik betapa curangnya Pemilu kita dan bagaimana politisi telah mempermainkan publik pemilih hanya untuk memenangkan kepentingan mereka,&amp;rdquo; kata Feri.


BACA JUGA:
TNI AL Kerahkan Kapal Perang Distribusikan Logistik Pemilu ke Daerah Terpencil


Lebih lanjut, Bivitri meminta agar kecurangan yang terjadi tidak boleh didiamkan khususnya atas nama kelancaran Pemilu. &amp;ldquo;Kecurangan ini jangan didiamkan atas nama kelancaran Pemilu.&amp;rdquo;

Film Dirty Vote yang berdurasi selama 1 jam 57 menit 21 detik itu memperlihatkan fakta-fakta dan data-data bagaimana kecurangan Pemilu berjalan. Di mana di akhir film, ketiga Ahli Hukum Tata Negara itu memberikan pernyataan pamungkasnya.Diawali dari Feri Amsari yang mengatakan jika semua rencana kecurangan Pemilu ini tidak didesain dalam semalam juga tidak didesain sendirian.

&amp;ldquo;Sebagian besar rencana kecurangan yang terstruktur sistematis dan masif untuk mengakali Pemilu ini sebenarnya disusun bersama dengan pihak-pihak lain. Mereka adalah kekuatan yang selama 10 tahun terakhir berkuasa bersama,&amp;rdquo; katanya.

Kemudian, Zainal pun mengatakan jika persaingan politik dan perebutan kekuasaan yang disusun bersama-sama kini digerakkan oleh satu pihak pemegang kunci.

&amp;ldquo;Persaingan politik dan perebutan kekuasaan desain kecurangan yang sudah disusun bareng-bareng ini akhirnya jatuh ke tangan satu pihak yakni pihak yang sedang memegang kunci kekuasaan di mana ia dapat menggerakkan aparatur dan anggaran,&amp;rdquo; tuturnya.


BACA JUGA:
Pilpres 2024, LPOI: Penyalahgunaan Kekuasaan Bentuk Kezaliman!


Selanjutnya, Bivitri mengatakan bahwa skenario kecurangan Pemilu ini telah dilakukan oleh rezim-rezim sebelumnya di banyak negara.

&amp;ldquo;Tapi sebenarnya ini bukan rencana atau desain yang hebat-hebat amat skenario seperti ini dilakukan oleh rezim-rezim sebelumnya di banyak negara dan sepanjang sejarah,&amp;rdquo; kata dia.

&amp;ldquo;Karena itu untuk menyusun dan menjalankan skenario kotor seperti ini tak perlu kepintaran atau kecerdasan, yang diperlukan cuma dua mental culas dan tahan malu,&amp;rdquo; tutupnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Film Dirty Vote merupakan dokumenter eksplanatori yang disampaikan tiga Ahli Hukum Tata Negara yakni Zainal Arifin Mochtar, Bivitri Susanti, dan Feri Amsari. Ketiga ahli hukum ini secara terang benderang mengungkap kecurangan Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 dalam film yang tayang perdana pada Minggu, 11 Februari 2024 pukul 11.11 WIB.

&amp;ldquo;Jika Anda nonton film ini saya punya pesan sederhana, satu tolong jadikan film ini sebagai landasan untuk Anda melakukan penghukuman,&amp;rdquo; ungkap Zainal Arifin Mochtar mengawali film dokumenter ini, dikutip dari YouTube Dirty Vote, Minggu (11/2/2024).

Sementara itu, Bivitri Susanti mengatakan bahwa dia mau terlibat dalam film agar semakin banyak masyarakat tahu bahwa Pemilu tidak baik-baik saja.

&amp;ldquo;Saya mau terlibat dalam film ini karena banyak orang yang akan makin paham, bahwa memang telah terjadi kecurangan yang luar biasa. Sehingga Pemilu ini tidak bisa dianggap baik-baik saja,&amp;rdquo; ujarnya.


BACA JUGA:
Ganjar : Kami Minta Maaf, Mudah-mudahan Tidak Baperan


Kemudian, Feri Amsari pun melanjutkan bahwa film Dirty Vote akan memberikan pendidikan kepada masyarakat bagaimana politisi telah mempermainkan publik hanya untuk kepentingan golongan.

&amp;ldquo;Selain diajak oleh figur-figur yang saya hormati, tentu saja film ini dianggap akan mampu mendidik publik betapa curangnya Pemilu kita dan bagaimana politisi telah mempermainkan publik pemilih hanya untuk memenangkan kepentingan mereka,&amp;rdquo; kata Feri.


BACA JUGA:
TNI AL Kerahkan Kapal Perang Distribusikan Logistik Pemilu ke Daerah Terpencil


Lebih lanjut, Bivitri meminta agar kecurangan yang terjadi tidak boleh didiamkan khususnya atas nama kelancaran Pemilu. &amp;ldquo;Kecurangan ini jangan didiamkan atas nama kelancaran Pemilu.&amp;rdquo;

Film Dirty Vote yang berdurasi selama 1 jam 57 menit 21 detik itu memperlihatkan fakta-fakta dan data-data bagaimana kecurangan Pemilu berjalan. Di mana di akhir film, ketiga Ahli Hukum Tata Negara itu memberikan pernyataan pamungkasnya.Diawali dari Feri Amsari yang mengatakan jika semua rencana kecurangan Pemilu ini tidak didesain dalam semalam juga tidak didesain sendirian.

&amp;ldquo;Sebagian besar rencana kecurangan yang terstruktur sistematis dan masif untuk mengakali Pemilu ini sebenarnya disusun bersama dengan pihak-pihak lain. Mereka adalah kekuatan yang selama 10 tahun terakhir berkuasa bersama,&amp;rdquo; katanya.

Kemudian, Zainal pun mengatakan jika persaingan politik dan perebutan kekuasaan yang disusun bersama-sama kini digerakkan oleh satu pihak pemegang kunci.

&amp;ldquo;Persaingan politik dan perebutan kekuasaan desain kecurangan yang sudah disusun bareng-bareng ini akhirnya jatuh ke tangan satu pihak yakni pihak yang sedang memegang kunci kekuasaan di mana ia dapat menggerakkan aparatur dan anggaran,&amp;rdquo; tuturnya.


BACA JUGA:
Pilpres 2024, LPOI: Penyalahgunaan Kekuasaan Bentuk Kezaliman!


Selanjutnya, Bivitri mengatakan bahwa skenario kecurangan Pemilu ini telah dilakukan oleh rezim-rezim sebelumnya di banyak negara.

&amp;ldquo;Tapi sebenarnya ini bukan rencana atau desain yang hebat-hebat amat skenario seperti ini dilakukan oleh rezim-rezim sebelumnya di banyak negara dan sepanjang sejarah,&amp;rdquo; kata dia.

&amp;ldquo;Karena itu untuk menyusun dan menjalankan skenario kotor seperti ini tak perlu kepintaran atau kecerdasan, yang diperlukan cuma dua mental culas dan tahan malu,&amp;rdquo; tutupnya.</content:encoded></item></channel></rss>
