<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>   Aktivis 98 ke Jokowi: Kepuasan Rakyat Tidak Bisa Diset</title><description>Azwar sedikit mempertanyakan apakah tindakan itu benar-benar memperhatikan nasib masyarakat atau bersifat politik semata.
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2024/02/15/337/2970446/aktivis-98-ke-jokowi-kepuasan-rakyat-tidak-bisa-diset</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2024/02/15/337/2970446/aktivis-98-ke-jokowi-kepuasan-rakyat-tidak-bisa-diset"/><item><title>   Aktivis 98 ke Jokowi: Kepuasan Rakyat Tidak Bisa Diset</title><link>https://news.okezone.com/read/2024/02/15/337/2970446/aktivis-98-ke-jokowi-kepuasan-rakyat-tidak-bisa-diset</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2024/02/15/337/2970446/aktivis-98-ke-jokowi-kepuasan-rakyat-tidak-bisa-diset</guid><pubDate>Kamis 15 Februari 2024 01:06 WIB</pubDate><dc:creator>Selvianus</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/02/15/337/2970446/aktivis-98-ke-jokowi-kepuasan-rakyat-tidak-bisa-diset-B2ehzUciUr.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Podcast Gerakan Aktivis 98 (Foto: tangkapan layar)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/02/15/337/2970446/aktivis-98-ke-jokowi-kepuasan-rakyat-tidak-bisa-diset-B2ehzUciUr.jpg</image><title>Podcast Gerakan Aktivis 98 (Foto: tangkapan layar)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wMi8xNC8xLzE3NzI4Mi81L3g4c293MWM=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Aktivis 98, Azwar Furgudyama secara tegas mengatakan kalau dirinya tak ingin terjebak ke dalam tingkat kepercayaan kepuasan kinerja terhadap Presiden Joko Widodo (Jokowi) di atas 80 persen.
Pasalnya, Azwar dan sekumpulan aktivis lainnya menginginkan demokrasi berkualitas, belakangan ini menjadi sorotan publik. Ketika adanya gelombang protes dari puluhan guru besar, dosen, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sejumlah universitas menyatakan sikap prihatin terhadap kemunduran demokrasi.
&quot;Saya tidak ingin menafikan dan terjebak pada persoalan kuantitatif itu yang kita perjuangkan adalah demokrasi berkualitas, bukan kuantitatif seberapa besar orang puas terhadap Jokowi,&quot; kata Azwar Furgudyama dalam podcast Gerakan Aktivis 98 Rabu (14/2/2024).

BACA JUGA:
Ceritakan Tragedi Orde Baru, Aktivis 98: Kami Punya Tanggung Jawab Moral untuk Korban

Menurut Azwar, demokrasi merupakan sesuatu yang tidak dapat diukur seperti tingkat kepercayaan diakhir jabatannya, Jokowi mendapatkan tingkat kepercayaan diatas 80 persen. Apalagi bansos terhadap masyarakat berulang kali dilakukan.

BACA JUGA:
Sebut Jokowi Dukung Prabowo dan Gibran, Aktivis 98: Membuat Mundur Demokrasi

Namun begitu, Azwar sedikit mempertanyakan apakah tindakan itu benar-benar memperhatikan nasib masyarakat atau bersifat politik semata.&quot;Kerena kepuasan rakyat nggak bisa diset, kalau saya bilang bagaimana tidak masyarakat tidak puas kalau bansosnya terus berulang-ulang. Apakah secara kualitas, masyarakat Indonesia betul-betul diperhatikan nasibnya,&quot; paparnya.

Lebih lanjut, Azwar mencontohkan negara seperti Swiss dan Swedia telah mempunyai tingkat kepercayaan tinggi. Bahkan Swiss sendiri tak lagi adanya polisi maupun tentara, karena tumbuhnya tingkat kesadaran dan demokrasi tinggi disana.

&quot;Kalau tingkat peradaban tinggi seperti Swiss, Swedia dimana orang mempunyai tingkat kesadaran begitu tinggi, bahkan di Swiss tidak ada polisi dan tentara disana kenapa ada banyak polisi, karena untuk menjaga dan mengamankan gitu loh,&quot; tutur Azwar Furgudyama.

</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wMi8xNC8xLzE3NzI4Mi81L3g4c293MWM=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Aktivis 98, Azwar Furgudyama secara tegas mengatakan kalau dirinya tak ingin terjebak ke dalam tingkat kepercayaan kepuasan kinerja terhadap Presiden Joko Widodo (Jokowi) di atas 80 persen.
Pasalnya, Azwar dan sekumpulan aktivis lainnya menginginkan demokrasi berkualitas, belakangan ini menjadi sorotan publik. Ketika adanya gelombang protes dari puluhan guru besar, dosen, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sejumlah universitas menyatakan sikap prihatin terhadap kemunduran demokrasi.
&quot;Saya tidak ingin menafikan dan terjebak pada persoalan kuantitatif itu yang kita perjuangkan adalah demokrasi berkualitas, bukan kuantitatif seberapa besar orang puas terhadap Jokowi,&quot; kata Azwar Furgudyama dalam podcast Gerakan Aktivis 98 Rabu (14/2/2024).

BACA JUGA:
Ceritakan Tragedi Orde Baru, Aktivis 98: Kami Punya Tanggung Jawab Moral untuk Korban

Menurut Azwar, demokrasi merupakan sesuatu yang tidak dapat diukur seperti tingkat kepercayaan diakhir jabatannya, Jokowi mendapatkan tingkat kepercayaan diatas 80 persen. Apalagi bansos terhadap masyarakat berulang kali dilakukan.

BACA JUGA:
Sebut Jokowi Dukung Prabowo dan Gibran, Aktivis 98: Membuat Mundur Demokrasi

Namun begitu, Azwar sedikit mempertanyakan apakah tindakan itu benar-benar memperhatikan nasib masyarakat atau bersifat politik semata.&quot;Kerena kepuasan rakyat nggak bisa diset, kalau saya bilang bagaimana tidak masyarakat tidak puas kalau bansosnya terus berulang-ulang. Apakah secara kualitas, masyarakat Indonesia betul-betul diperhatikan nasibnya,&quot; paparnya.

Lebih lanjut, Azwar mencontohkan negara seperti Swiss dan Swedia telah mempunyai tingkat kepercayaan tinggi. Bahkan Swiss sendiri tak lagi adanya polisi maupun tentara, karena tumbuhnya tingkat kesadaran dan demokrasi tinggi disana.

&quot;Kalau tingkat peradaban tinggi seperti Swiss, Swedia dimana orang mempunyai tingkat kesadaran begitu tinggi, bahkan di Swiss tidak ada polisi dan tentara disana kenapa ada banyak polisi, karena untuk menjaga dan mengamankan gitu loh,&quot; tutur Azwar Furgudyama.

</content:encoded></item></channel></rss>
