<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Aksi Pecahkan Tujuh Gentong, Simbol Permintaan Pertolongan Atas Rusaknya Demokrasi</title><description>Aksi pecah gentong itu sebagai simbol permintaan pertolongan kepada alam semesta atas rusaknya demokrasi Indonesia.</description><link>https://news.okezone.com/read/2024/02/15/510/2970655/aksi-pecahkan-tujuh-gentong-simbol-permintaan-pertolongan-atas-rusaknya-demokrasi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2024/02/15/510/2970655/aksi-pecahkan-tujuh-gentong-simbol-permintaan-pertolongan-atas-rusaknya-demokrasi"/><item><title>Aksi Pecahkan Tujuh Gentong, Simbol Permintaan Pertolongan Atas Rusaknya Demokrasi</title><link>https://news.okezone.com/read/2024/02/15/510/2970655/aksi-pecahkan-tujuh-gentong-simbol-permintaan-pertolongan-atas-rusaknya-demokrasi</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2024/02/15/510/2970655/aksi-pecahkan-tujuh-gentong-simbol-permintaan-pertolongan-atas-rusaknya-demokrasi</guid><pubDate>Kamis 15 Februari 2024 13:38 WIB</pubDate><dc:creator>Yohanes Demo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/02/15/510/2970655/aksi-pecahkan-tujuh-gentong-simbol-permintaan-pertolongan-atas-rusaknya-demokrasi-aZBUNXl60O.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Demo Gejayan Memanggil/Foto: MNC Portal</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/02/15/510/2970655/aksi-pecahkan-tujuh-gentong-simbol-permintaan-pertolongan-atas-rusaknya-demokrasi-aZBUNXl60O.jpg</image><title>Demo Gejayan Memanggil/Foto: MNC Portal</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wMi8xNS8xLzE3NzMwMC81L3g4c3E1bW8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
YOGYAKARTA - Massa yang mengatasnamakan sebagai Jaringan Gugad Demokrasi membuat aksi memecahkan tujuh gentong pada demo yang berlangsung di pertigaan Gejayan.
Aksi pecah gentong itu sebagai simbol permintaan pertolongan kepada alam semesta atas rusaknya demokrasi Indonesia.
Humas Jaringan Gugad Demokrasi, Sana menjelaskan, pada aksi kali ini mereka membawa tujuh kentongan dan gentong yang disimbolkan wujud meminta pertolongan menurut filosofi Jawa.


Ini 11 Tuntuntan Demonstrasi Gejayan Memanggil&amp;nbsp; &amp;nbsp;

&quot;Tujuh yang dalam arti bahasa Jawa pitu atau bisa disimbolkan pitulungan. Hari ini kita berkumpul untuk meminta pertolongan kepada semesta, kepada semua orang yang masih peduli terhadap demokrasi hari ini,&quot; kata dia.
Dalam gentong tersebut, kata dia, terdapat juga tujuh tulisan yang mereka anggap sebagai tujuh dosa Jokowi yang dilakukan selama menjabat sebagai presiden.

BACA JUGA:
Demo Gejayan Memanggil Kembali, Massa Berkumpul di Bundaran UGM

&quot;Ada tujuh dosa Jokowi, dimana dia sebagai rezim nepotis, rezim PSN, dia sebagai rezim pelanggar HAM, dia sebagai rezim dinasti dan dia juga sebagai rezim penghianat reformasi 98 dan disitu dia juga tertulis sebagai rezim yang anti demokrasi. Nah, disitulah kenapa kita memecahkan tujuh gentong tersebut, kita berharap bahwa tujuh ketamakan Jokowi bersama rezim-rezimnya itu harus benar-benar dienyahkan dihancurkan dari muka bumi ini,&quot; paparnya.
Dengan aksi simbolik ini, Sani mengajak seluruh elemen masyarakat Indonesia yang memiliki hak suara pada Pemilu 2024 nanti untuk betul-betul memilih calon dengan pemikiran yang matang berdasarkan nalar kritis dan alasan-alasan logis.
Menurutnya, Jokowi telah menutup demokrasi dengan tidak mengakui adanya HAM, tidak melakukan penghormatan terhadap HAM, serta tidak menerapkan prinsip-prinsip HAM.&amp;nbsp;
&quot;Jokowi menunjukkan kekuasaannya secara maskulin, bahkan hyper maskulinitas karena dia menguasai tidak hanya sumber daya alam dalam periode terakhir, tetapi juga menguasai seluruh nalar kritis elemen negara ini,&quot;pungkasnya.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wMi8xNS8xLzE3NzMwMC81L3g4c3E1bW8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
YOGYAKARTA - Massa yang mengatasnamakan sebagai Jaringan Gugad Demokrasi membuat aksi memecahkan tujuh gentong pada demo yang berlangsung di pertigaan Gejayan.
Aksi pecah gentong itu sebagai simbol permintaan pertolongan kepada alam semesta atas rusaknya demokrasi Indonesia.
Humas Jaringan Gugad Demokrasi, Sana menjelaskan, pada aksi kali ini mereka membawa tujuh kentongan dan gentong yang disimbolkan wujud meminta pertolongan menurut filosofi Jawa.


Ini 11 Tuntuntan Demonstrasi Gejayan Memanggil&amp;nbsp; &amp;nbsp;

&quot;Tujuh yang dalam arti bahasa Jawa pitu atau bisa disimbolkan pitulungan. Hari ini kita berkumpul untuk meminta pertolongan kepada semesta, kepada semua orang yang masih peduli terhadap demokrasi hari ini,&quot; kata dia.
Dalam gentong tersebut, kata dia, terdapat juga tujuh tulisan yang mereka anggap sebagai tujuh dosa Jokowi yang dilakukan selama menjabat sebagai presiden.

BACA JUGA:
Demo Gejayan Memanggil Kembali, Massa Berkumpul di Bundaran UGM

&quot;Ada tujuh dosa Jokowi, dimana dia sebagai rezim nepotis, rezim PSN, dia sebagai rezim pelanggar HAM, dia sebagai rezim dinasti dan dia juga sebagai rezim penghianat reformasi 98 dan disitu dia juga tertulis sebagai rezim yang anti demokrasi. Nah, disitulah kenapa kita memecahkan tujuh gentong tersebut, kita berharap bahwa tujuh ketamakan Jokowi bersama rezim-rezimnya itu harus benar-benar dienyahkan dihancurkan dari muka bumi ini,&quot; paparnya.
Dengan aksi simbolik ini, Sani mengajak seluruh elemen masyarakat Indonesia yang memiliki hak suara pada Pemilu 2024 nanti untuk betul-betul memilih calon dengan pemikiran yang matang berdasarkan nalar kritis dan alasan-alasan logis.
Menurutnya, Jokowi telah menutup demokrasi dengan tidak mengakui adanya HAM, tidak melakukan penghormatan terhadap HAM, serta tidak menerapkan prinsip-prinsip HAM.&amp;nbsp;
&quot;Jokowi menunjukkan kekuasaannya secara maskulin, bahkan hyper maskulinitas karena dia menguasai tidak hanya sumber daya alam dalam periode terakhir, tetapi juga menguasai seluruh nalar kritis elemen negara ini,&quot;pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
