<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Humor Gus Dur: Soeharto Bingung Antara NU Lama dan Baru</title><description>&amp;nbsp;
Gus Dur tidak segan untuk bercanda dengan siapa pun, bahkan Soeharto, Presiden kedua RI, pernah menjadi sasaran guyonan dari sang kiai.</description><link>https://news.okezone.com/read/2024/03/02/337/2977966/humor-gus-dur-soeharto-bingung-antara-nu-lama-dan-baru</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2024/03/02/337/2977966/humor-gus-dur-soeharto-bingung-antara-nu-lama-dan-baru"/><item><title>Humor Gus Dur: Soeharto Bingung Antara NU Lama dan Baru</title><link>https://news.okezone.com/read/2024/03/02/337/2977966/humor-gus-dur-soeharto-bingung-antara-nu-lama-dan-baru</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2024/03/02/337/2977966/humor-gus-dur-soeharto-bingung-antara-nu-lama-dan-baru</guid><pubDate>Sabtu 02 Maret 2024 06:38 WIB</pubDate><dc:creator>Arief Setyadi </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/03/02/337/2977966/humor-gus-dur-soeharto-bingung-antara-nu-lama-dan-baru-hqlyaBcJCz.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Humor Gus Dur (Foto: Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/03/02/337/2977966/humor-gus-dur-soeharto-bingung-antara-nu-lama-dan-baru-hqlyaBcJCz.jpg</image><title>Humor Gus Dur (Foto: Ist)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; KH Abdurrahman Wahid atau yang lebih dikenal dengan Gus Dur terkenal dengan kepiawaiannya dalam humor yang mampu menghangatkan suasana dan mengundang tawa.

Gus Dur tidak segan untuk bercanda dengan siapa pun, bahkan Soeharto, Presiden kedua RI, pernah menjadi sasaran guyonan dari sang kiai.

BACA JUGA:
 Gempa M4,0 Guncang Bantul&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;


Dikutip dari buku &quot;Mati Tertawa Bareng Gus Dur&quot;, pada suatu bulan Ramadan, Gus Dur diundang oleh Soeharto untuk berbuka puasa di kediaman presiden. Kiai Asrowi, seorang kiai Nahdlatul Ulama (NU), juga ikut hadir dalam undangan tersebut.

Setelah bersama-sama berbuka dan menjalani Sholat Maghrib berjamaah, Gus Dur dan Soeharto duduk bersama, menikmati kopi, dan berbincang santai. Soeharto pun bertanya apakah Gus Dur akan tinggal sampai malam di sana.

BACA JUGA:
 Siswi SMA Ditemukan Tewas Tergantung di Dalam Rumah&amp;nbsp; &amp;nbsp;


Gus Dur dengan santainya menjawab bahwa ia harus segera pergi ke tempat lain. Mendengar jawaban itu, Soeharto meminta agar Kiai Asrowi tetap tinggal.

Soeharto: &amp;ldquo;Oh, iya ya ya silaken. Tapi kiainya kan ditinggal di sini ya?&amp;rdquo;

Gus Dur: &amp;ldquo;Oh, iya Pak, tapi harus ada penjelasan.&amp;rdquo;

Soeharto: &amp;ldquo;Penjelasan apa?&amp;rdquo;

Gus Dur: &amp;ldquo;Sholat Tarawihnya nanti itu ngikutin NU lama atau NU baru?&amp;rdquo;

Jawaban kocak Gus Dur membuat Soeharto bingung, karena ia baru pertama kali mendengar tentang NU lama dan NU baru.



Soeharto pun bertanya balik pada Gus Dur: &quot;Lho, NU lama dan NU baru apa bedanya?&quot;



Gus Dur: &quot;Kalau NU lama, sholat Tarawih dan Witirnya itu 23 rakaat.&quot;



&amp;ldquo;Oh, iya iya ya ya ga apa-apa,&amp;rdquo; kata Soeharto sambil manggut-manggut.



Gus Dur sementara diam.



&amp;ldquo;Lha kalau NU baru?&amp;rdquo; tanya Soeharto lagi.



&amp;ldquo;Diskon 60 persen. Sholat Tarawih dan Witirnya cuma tinggal 11 rakaat,&amp;rdquo; jawab Gus Dur.



Jawaban ringan dari Gus Dur sukses membuat semua tamu buka puasa, termasuk Soeharto, tertawa dengan ceria.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; KH Abdurrahman Wahid atau yang lebih dikenal dengan Gus Dur terkenal dengan kepiawaiannya dalam humor yang mampu menghangatkan suasana dan mengundang tawa.

Gus Dur tidak segan untuk bercanda dengan siapa pun, bahkan Soeharto, Presiden kedua RI, pernah menjadi sasaran guyonan dari sang kiai.

BACA JUGA:
 Gempa M4,0 Guncang Bantul&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;


Dikutip dari buku &quot;Mati Tertawa Bareng Gus Dur&quot;, pada suatu bulan Ramadan, Gus Dur diundang oleh Soeharto untuk berbuka puasa di kediaman presiden. Kiai Asrowi, seorang kiai Nahdlatul Ulama (NU), juga ikut hadir dalam undangan tersebut.

Setelah bersama-sama berbuka dan menjalani Sholat Maghrib berjamaah, Gus Dur dan Soeharto duduk bersama, menikmati kopi, dan berbincang santai. Soeharto pun bertanya apakah Gus Dur akan tinggal sampai malam di sana.

BACA JUGA:
 Siswi SMA Ditemukan Tewas Tergantung di Dalam Rumah&amp;nbsp; &amp;nbsp;


Gus Dur dengan santainya menjawab bahwa ia harus segera pergi ke tempat lain. Mendengar jawaban itu, Soeharto meminta agar Kiai Asrowi tetap tinggal.

Soeharto: &amp;ldquo;Oh, iya ya ya silaken. Tapi kiainya kan ditinggal di sini ya?&amp;rdquo;

Gus Dur: &amp;ldquo;Oh, iya Pak, tapi harus ada penjelasan.&amp;rdquo;

Soeharto: &amp;ldquo;Penjelasan apa?&amp;rdquo;

Gus Dur: &amp;ldquo;Sholat Tarawihnya nanti itu ngikutin NU lama atau NU baru?&amp;rdquo;

Jawaban kocak Gus Dur membuat Soeharto bingung, karena ia baru pertama kali mendengar tentang NU lama dan NU baru.



Soeharto pun bertanya balik pada Gus Dur: &quot;Lho, NU lama dan NU baru apa bedanya?&quot;



Gus Dur: &quot;Kalau NU lama, sholat Tarawih dan Witirnya itu 23 rakaat.&quot;



&amp;ldquo;Oh, iya iya ya ya ga apa-apa,&amp;rdquo; kata Soeharto sambil manggut-manggut.



Gus Dur sementara diam.



&amp;ldquo;Lha kalau NU baru?&amp;rdquo; tanya Soeharto lagi.



&amp;ldquo;Diskon 60 persen. Sholat Tarawih dan Witirnya cuma tinggal 11 rakaat,&amp;rdquo; jawab Gus Dur.



Jawaban ringan dari Gus Dur sukses membuat semua tamu buka puasa, termasuk Soeharto, tertawa dengan ceria.</content:encoded></item></channel></rss>
