<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sunan Bejagung Lor, Sosok Wali yang Pernah Dua Kali Kalahkan Gajah Mada</title><description>Gajah Mada, merupakan sosok maha patih dari Kerajaan Majapahit pada abad ke-14.</description><link>https://news.okezone.com/read/2024/03/05/337/2978994/sunan-bejagung-lor-sosok-wali-yang-pernah-dua-kali-kalahkan-gajah-mada</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2024/03/05/337/2978994/sunan-bejagung-lor-sosok-wali-yang-pernah-dua-kali-kalahkan-gajah-mada"/><item><title>Sunan Bejagung Lor, Sosok Wali yang Pernah Dua Kali Kalahkan Gajah Mada</title><link>https://news.okezone.com/read/2024/03/05/337/2978994/sunan-bejagung-lor-sosok-wali-yang-pernah-dua-kali-kalahkan-gajah-mada</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2024/03/05/337/2978994/sunan-bejagung-lor-sosok-wali-yang-pernah-dua-kali-kalahkan-gajah-mada</guid><pubDate>Selasa 05 Maret 2024 08:15 WIB</pubDate><dc:creator>Arief Setyadi </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/03/04/337/2978994/sunan-bejagung-lor-sosok-wali-yang-pernah-dua-kali-kalahkan-gajah-mada-G4PDFgUq4V.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Gajah Mada (Foto: Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/03/04/337/2978994/sunan-bejagung-lor-sosok-wali-yang-pernah-dua-kali-kalahkan-gajah-mada-G4PDFgUq4V.jpg</image><title>Gajah Mada (Foto: Ist)</title></images><description>JAKARTA - Gajah Mada, merupakan sosok maha patih dari Kerajaan Majapahit pada abad ke-14. Ia menjadi legenda terkenal di masyarakat Indonesia.

Keunggulan dalam strategi perang dan kekuatan militer memungkinkannya menguasai berbagai wilayah di Nusantara.

Gajah Mada, pencetus Sumpah Palapa, memegang peran sentral dalam masa keemasan Majapahit pada pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Misi utamanya adalah menyatukan Nusantara.

BACA JUGA:
Atasi Perubahan Iklim, Perdagangan Karbon di Indonesia Kini Jadi Rujukan Dunia


Meski diakui sebagai pemenang dalam berbagai pertempuran dan kampanye militer, Gajah Mada akhirnya menemui kekalahan saat melaksanakan misi tersebut.

Penantangnya bukanlah figur sembarangan, melainkan Sunan Bejagung Lor atau Syekh Abdullah Asyari, seorang wali dengan keahlian luar biasa yang berhasil mengungguli Gajah Mada.

BACA JUGA:
Longsor di Kabupaten Pemalang, BNPB Catat 133 Jiwa Mengungsi


Sunan Bejagung Lor, seorang penyebar agama Islam pada masanya, menjalani kehidupan di Desa Bejagung, Semanding, Tuban. Pertarungan antara keduanya pun dimulai setelah Raja Majapahit, Hayam Wuruk, memerintahkan Gajah Mada untuk menjemput putri raja, Kusumawardhani, yang diinginkan sebagai penerus tahta.

Sang raja tidak setuju putrinya berguru kepada Sunan Bejagung Lor. Gajah Mada kemudian datang ke Bejagung untuk menjemput Putri Kusumawardhani, membawa pasukan gajah, dan menyerang padepokan Sunan Bejagung Lor.

Meski dihukum oleh Gajah Mada, Sunan Bejagung Lor berhasil mengubah pasukan gajah tersebut menjadi batu besar dengan bantuan kesaktiannya. Batuan besar itu, dikenal sebagai watu gajah (batu gajah), masih dapat ditemui hingga saat ini, terletak sekitar 2 km di utara makam Sunan Bejagung Lor.



Dalam pertempuran sengit, Gajah Mada menyerang dengan pasukannya, namun Sunan Bejagung Lor menggunakan kesaktiannya untuk mengubah pasukan gajah menjadi batu. Meski marah, Gajah Mada terus bertarung.

BACA JUGA:
10 Parpol Tolak Hasil Rekapitulasi, Ketua KPU Kabupaten Bandung Santai




Klimaks pertarungan terjadi saat Gajah Mada, dalam kemarahannya, menghantam pohon kelapa di lokasi pertarungan. Buah kelapa jatuh, dan melihat ini, Sunan Bejagung Lor berayun ke pohon kelapa lain, melengkungkan batangnya hingga menyentuh tanah.



Sang wali memetik kelapa dan memberikannya kepada Gajah Mada.



Pertarungan belum berakhir di sana. Sunan Bejagung Lor dan Gajah Mada mempertaruhkan kesaktian mereka dalam mencoba membawa ikan hidup dari laut ke daratan. Gajah Mada berhasil mengambil ikan di laut, tetapi ikan itu mati saat dibawa ke daratan.

BACA JUGA:
Suara PSI Menggelembung, Formappi ke Bawaslu: Tidak Terlihat Kerjanya




Saat giliran Sunan Bejagung Lor, ia menggunakan daun waru dan timba yang sudah diisi air untuk mengambil ikan. Ikan tersebut tetap hidup hingga di daratan.



Gajah Mada harus menelan pil kekalahan dua kali. Ia terpaksa kembali ke Majapahit tanpa berhasil menjalankan misi membawa pulang Putri Kusumawardhani.

</description><content:encoded>JAKARTA - Gajah Mada, merupakan sosok maha patih dari Kerajaan Majapahit pada abad ke-14. Ia menjadi legenda terkenal di masyarakat Indonesia.

Keunggulan dalam strategi perang dan kekuatan militer memungkinkannya menguasai berbagai wilayah di Nusantara.

Gajah Mada, pencetus Sumpah Palapa, memegang peran sentral dalam masa keemasan Majapahit pada pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Misi utamanya adalah menyatukan Nusantara.

BACA JUGA:
Atasi Perubahan Iklim, Perdagangan Karbon di Indonesia Kini Jadi Rujukan Dunia


Meski diakui sebagai pemenang dalam berbagai pertempuran dan kampanye militer, Gajah Mada akhirnya menemui kekalahan saat melaksanakan misi tersebut.

Penantangnya bukanlah figur sembarangan, melainkan Sunan Bejagung Lor atau Syekh Abdullah Asyari, seorang wali dengan keahlian luar biasa yang berhasil mengungguli Gajah Mada.

BACA JUGA:
Longsor di Kabupaten Pemalang, BNPB Catat 133 Jiwa Mengungsi


Sunan Bejagung Lor, seorang penyebar agama Islam pada masanya, menjalani kehidupan di Desa Bejagung, Semanding, Tuban. Pertarungan antara keduanya pun dimulai setelah Raja Majapahit, Hayam Wuruk, memerintahkan Gajah Mada untuk menjemput putri raja, Kusumawardhani, yang diinginkan sebagai penerus tahta.

Sang raja tidak setuju putrinya berguru kepada Sunan Bejagung Lor. Gajah Mada kemudian datang ke Bejagung untuk menjemput Putri Kusumawardhani, membawa pasukan gajah, dan menyerang padepokan Sunan Bejagung Lor.

Meski dihukum oleh Gajah Mada, Sunan Bejagung Lor berhasil mengubah pasukan gajah tersebut menjadi batu besar dengan bantuan kesaktiannya. Batuan besar itu, dikenal sebagai watu gajah (batu gajah), masih dapat ditemui hingga saat ini, terletak sekitar 2 km di utara makam Sunan Bejagung Lor.



Dalam pertempuran sengit, Gajah Mada menyerang dengan pasukannya, namun Sunan Bejagung Lor menggunakan kesaktiannya untuk mengubah pasukan gajah menjadi batu. Meski marah, Gajah Mada terus bertarung.

BACA JUGA:
10 Parpol Tolak Hasil Rekapitulasi, Ketua KPU Kabupaten Bandung Santai




Klimaks pertarungan terjadi saat Gajah Mada, dalam kemarahannya, menghantam pohon kelapa di lokasi pertarungan. Buah kelapa jatuh, dan melihat ini, Sunan Bejagung Lor berayun ke pohon kelapa lain, melengkungkan batangnya hingga menyentuh tanah.



Sang wali memetik kelapa dan memberikannya kepada Gajah Mada.



Pertarungan belum berakhir di sana. Sunan Bejagung Lor dan Gajah Mada mempertaruhkan kesaktian mereka dalam mencoba membawa ikan hidup dari laut ke daratan. Gajah Mada berhasil mengambil ikan di laut, tetapi ikan itu mati saat dibawa ke daratan.

BACA JUGA:
Suara PSI Menggelembung, Formappi ke Bawaslu: Tidak Terlihat Kerjanya




Saat giliran Sunan Bejagung Lor, ia menggunakan daun waru dan timba yang sudah diisi air untuk mengambil ikan. Ikan tersebut tetap hidup hingga di daratan.



Gajah Mada harus menelan pil kekalahan dua kali. Ia terpaksa kembali ke Majapahit tanpa berhasil menjalankan misi membawa pulang Putri Kusumawardhani.

</content:encoded></item></channel></rss>
