<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Haiti Memanas, Warga Hidup dalam Kondisi Serba Kesusahan</title><description>Masyarakat sulit untuk mengakses layanan dasar seperti layanan kesehatan, makanan dan air.
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2024/03/06/18/2979780/haiti-memanas-warga-hidup-dalam-kondisi-serba-kesusahan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2024/03/06/18/2979780/haiti-memanas-warga-hidup-dalam-kondisi-serba-kesusahan"/><item><title>Haiti Memanas, Warga Hidup dalam Kondisi Serba Kesusahan</title><link>https://news.okezone.com/read/2024/03/06/18/2979780/haiti-memanas-warga-hidup-dalam-kondisi-serba-kesusahan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2024/03/06/18/2979780/haiti-memanas-warga-hidup-dalam-kondisi-serba-kesusahan</guid><pubDate>Rabu 06 Maret 2024 14:30 WIB</pubDate><dc:creator>Susi Susanti</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/03/06/18/2979780/haiti-memanas-warga-hidup-dalam-kondisi-serba-kesusahan-dUO6EPdymj.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Warga Haiti hidup serba kesusahan akibat kerusuhan dan kekerasan yang terus memanas (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/03/06/18/2979780/haiti-memanas-warga-hidup-dalam-kondisi-serba-kesusahan-dUO6EPdymj.jpg</image><title>Warga Haiti hidup serba kesusahan akibat kerusuhan dan kekerasan yang terus memanas (Foto: Reuters)</title></images><description>HAITI &amp;ndash; Kondisi Haiti yang terus bergejolak dan memanas membuat warga hidup serba kesusahan. Penduduk ibu kota sebagian besar tinggal di rumah pada Senin (4/3/2024) dan hanya sedikit orang yang keluar untuk mendapatkan air minum atau makanan.
Kantor berita AFP melaporkan, berbicara dari Haiti, Serge Dalexis dari Komite Penyelamatan Internasional mengatakan masyarakat sangat sulit mengakses layanan dasar seperti layanan kesehatan, makanan dan air.


BACA JUGA:
Semakin Memanas, Geng Kriminal Haiti Berusaha Keras Kudeta Bandara di Ibu Kota Port-au-Prince

&amp;ldquo;Sekarang ada kekurangan segalanya di Port-au-Prince,&amp;rdquo; kata Dalexis, seraya menambahkan bahwa penembakan dilaporkan terjadi di banyak wilayah di kota tersebut.


BACA JUGA:
KBRI Havana Pastikan 7 WNI Aman Usai Kerusuhan dan Kekerasan yang Terjadi di Haiti

Diperkirakan 15.000 orang terpaksa mengungsi dari rumah mereka selama beberapa minggu terakhir akibat kekerasan tersebut.
Seperti diketahui, kerusuhan terus terjadi di Haiti sejak Februari lalu.
Geng-geng bersenjata, yang menggunakan senjata yang diselundupkan dari AS, telah menguasai sekitar 80% ibu kota dalam beberapa tahun terakhir.
Pemimpin geng yang dikenal sebagai Barbecue telah menyerukan pemecatan Perdana Menteri (PM) Ariel sejak dilantik sebagai penerus Presiden Jovenel Mo&amp;iuml;se pada Juli 2021.
Dalam sebuah video yang diposting di media sosial, Barbecue pekan lalu menyatakan bahwa tujuan pertama perjuangan mereka adalah untuk memastikan bahwa pemerintahan tidak berkuasa.
Pada Sabtu (2/3/2024), gengnya menyerang beberapa kantor polisi sebelum membebaskan ribuan tahanan dari Lembaga Pemasyarakatan Nasional dan penjara Croix des Bouquets.



Hanya sekitar 100 tahanan yang masih berada di sel mereka di Lembaga Pemasyarakatan Nasional.



Di antara mereka yang tetap tinggal adalah 17 mantan tentara Kolombia yang diduga melakukan pembunuhan Presiden Mo&amp;iuml;se.



Dalam sebuah video, mereka memohon bantuan, mengatakan bahwa narapidana lain berusaha membuat mereka meninggalkan sel dan akan menggunakan mereka &quot;sebagai umpan meriam&quot;.



Kementerian Luar Negeri Kolombia kemudian mengumumkan bahwa 17 orang tersebut telah dipindahkan ke penjara lain.



</description><content:encoded>HAITI &amp;ndash; Kondisi Haiti yang terus bergejolak dan memanas membuat warga hidup serba kesusahan. Penduduk ibu kota sebagian besar tinggal di rumah pada Senin (4/3/2024) dan hanya sedikit orang yang keluar untuk mendapatkan air minum atau makanan.
Kantor berita AFP melaporkan, berbicara dari Haiti, Serge Dalexis dari Komite Penyelamatan Internasional mengatakan masyarakat sangat sulit mengakses layanan dasar seperti layanan kesehatan, makanan dan air.


BACA JUGA:
Semakin Memanas, Geng Kriminal Haiti Berusaha Keras Kudeta Bandara di Ibu Kota Port-au-Prince

&amp;ldquo;Sekarang ada kekurangan segalanya di Port-au-Prince,&amp;rdquo; kata Dalexis, seraya menambahkan bahwa penembakan dilaporkan terjadi di banyak wilayah di kota tersebut.


BACA JUGA:
KBRI Havana Pastikan 7 WNI Aman Usai Kerusuhan dan Kekerasan yang Terjadi di Haiti

Diperkirakan 15.000 orang terpaksa mengungsi dari rumah mereka selama beberapa minggu terakhir akibat kekerasan tersebut.
Seperti diketahui, kerusuhan terus terjadi di Haiti sejak Februari lalu.
Geng-geng bersenjata, yang menggunakan senjata yang diselundupkan dari AS, telah menguasai sekitar 80% ibu kota dalam beberapa tahun terakhir.
Pemimpin geng yang dikenal sebagai Barbecue telah menyerukan pemecatan Perdana Menteri (PM) Ariel sejak dilantik sebagai penerus Presiden Jovenel Mo&amp;iuml;se pada Juli 2021.
Dalam sebuah video yang diposting di media sosial, Barbecue pekan lalu menyatakan bahwa tujuan pertama perjuangan mereka adalah untuk memastikan bahwa pemerintahan tidak berkuasa.
Pada Sabtu (2/3/2024), gengnya menyerang beberapa kantor polisi sebelum membebaskan ribuan tahanan dari Lembaga Pemasyarakatan Nasional dan penjara Croix des Bouquets.



Hanya sekitar 100 tahanan yang masih berada di sel mereka di Lembaga Pemasyarakatan Nasional.



Di antara mereka yang tetap tinggal adalah 17 mantan tentara Kolombia yang diduga melakukan pembunuhan Presiden Mo&amp;iuml;se.



Dalam sebuah video, mereka memohon bantuan, mengatakan bahwa narapidana lain berusaha membuat mereka meninggalkan sel dan akan menggunakan mereka &quot;sebagai umpan meriam&quot;.



Kementerian Luar Negeri Kolombia kemudian mengumumkan bahwa 17 orang tersebut telah dipindahkan ke penjara lain.



</content:encoded></item></channel></rss>
