<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Raja Kertajaya bak Firaun yang Minta Disembah Tapi Kabur saat Diserang Ken Arok</title><description>Raja Kertajaya, penguasa Kerajaan Kediri dari tahun 1194 hingga 1222.</description><link>https://news.okezone.com/read/2024/03/06/337/2979821/kisah-raja-kertajaya-bak-firaun-yang-minta-disembah-tapi-kabur-saat-diserang-ken-arok</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2024/03/06/337/2979821/kisah-raja-kertajaya-bak-firaun-yang-minta-disembah-tapi-kabur-saat-diserang-ken-arok"/><item><title>Kisah Raja Kertajaya bak Firaun yang Minta Disembah Tapi Kabur saat Diserang Ken Arok</title><link>https://news.okezone.com/read/2024/03/06/337/2979821/kisah-raja-kertajaya-bak-firaun-yang-minta-disembah-tapi-kabur-saat-diserang-ken-arok</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2024/03/06/337/2979821/kisah-raja-kertajaya-bak-firaun-yang-minta-disembah-tapi-kabur-saat-diserang-ken-arok</guid><pubDate>Rabu 06 Maret 2024 15:15 WIB</pubDate><dc:creator>Arief Setyadi </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/03/06/337/2979821/kisah-raja-kertajaya-bak-firaun-yang-minta-disembah-tapi-kabur-saat-diserang-ken-arok-ychneIkmyM.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ken Arok (Foto: Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/03/06/337/2979821/kisah-raja-kertajaya-bak-firaun-yang-minta-disembah-tapi-kabur-saat-diserang-ken-arok-ychneIkmyM.jpg</image><title>Ken Arok (Foto: Ist)</title></images><description>JAKARTA - Raja Kertajaya, penguasa Kerajaan Kediri dari tahun 1194 hingga 1222. Sosoknya dikenal dengan sebutan Sri Maharaja Kertajaya atau Prabu Dandhang Gendis.
Dirangkum dari berbagai sumber, dalam Kitab Pararaton dan beberapa prasasti seperti Prasasti Galunggung, Prasasti Kamulan, Prasasti Palah, Prasasti Biri, dan Prasasti Lawadan, mencatat gelarnya sebagai Sri Maharaja Sri Sarweswara Triwikramawatara Anindita Srenggalancana Digjaya Uttunggadewa.

BACA JUGA:
Bobby Nasution Dikukuhkan Jadi Tokoh Nasional, Ini Alasannya

Kertajaya disebut memiliki keahlian luar biasa, bahkan dikatakan mampu duduk di ujung tombak yang berdiri tegak. Keangkuhan Raja ini mencapai puncaknya ketika ia mengklaim sebagai Tuhan yang hanya bisa dikalahkan oleh Dewa Siwa.
Ketika Raja meminta para pendeta Hindu dan Buddha untuk menyembahnya, kaum Brahmana&amp;mdash;kasta tertinggi dalam masyarakat Hindu&amp;mdash;berdiri menentangnya.

BACA JUGA:
 KPU: Publikasi Tabulasi Perolehan Suara Dihentikan Sementara&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Kaum Brahmana yang tidak setuju dengan klaim Kertajaya memilih melarikan diri ke Tumapel, mencari perlindungan pada Ken Arok, Akuwu Tumapel.
Mereka mendukung Ken Arok, yang kemudian diangkat sebagai Raja Tumapel dengan gelar Batara Guru, merujuk pada Dewa Siwa. Ken Arok memberontak dan berhasil mengalahkan pasukan Kerajaan Kediri, memaksa Raja Kertajaya tunduk padanya.Namun, keberadaan Raja Kertajaya setelah kekalahan ada beberapa versi. Kitab Pararaton menyebutkan bahwa Kertajaya bersembunyi di Kahyangan.
Sementara Kitab Negarakertagama menyebutkan ia bersembunyi dalam Dewalaya. Kedua kitab tersebut menimbulkan tanda tanya apakah Kertajaya menghilang ke alam dewata atau bahkan telah meninggal.

BACA JUGA:
 Ini Senapan Mematikan dan Berstandar NATO yang Dibawa Kabur Yotam Bugiangge, Pecatan TNI Kini Jadi Pentolan KKB Papua&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Kekalahan Raja Kertajaya, yang mengklaim sebagai Tuhan, menjadi akhir dari Kerajaan Kediri. Selain itu, membuka babak baru dengan berdirinya Kerajaan Tumapel atau Singasari di bawah pemerintahan Ken Arok.</description><content:encoded>JAKARTA - Raja Kertajaya, penguasa Kerajaan Kediri dari tahun 1194 hingga 1222. Sosoknya dikenal dengan sebutan Sri Maharaja Kertajaya atau Prabu Dandhang Gendis.
Dirangkum dari berbagai sumber, dalam Kitab Pararaton dan beberapa prasasti seperti Prasasti Galunggung, Prasasti Kamulan, Prasasti Palah, Prasasti Biri, dan Prasasti Lawadan, mencatat gelarnya sebagai Sri Maharaja Sri Sarweswara Triwikramawatara Anindita Srenggalancana Digjaya Uttunggadewa.

BACA JUGA:
Bobby Nasution Dikukuhkan Jadi Tokoh Nasional, Ini Alasannya

Kertajaya disebut memiliki keahlian luar biasa, bahkan dikatakan mampu duduk di ujung tombak yang berdiri tegak. Keangkuhan Raja ini mencapai puncaknya ketika ia mengklaim sebagai Tuhan yang hanya bisa dikalahkan oleh Dewa Siwa.
Ketika Raja meminta para pendeta Hindu dan Buddha untuk menyembahnya, kaum Brahmana&amp;mdash;kasta tertinggi dalam masyarakat Hindu&amp;mdash;berdiri menentangnya.

BACA JUGA:
 KPU: Publikasi Tabulasi Perolehan Suara Dihentikan Sementara&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Kaum Brahmana yang tidak setuju dengan klaim Kertajaya memilih melarikan diri ke Tumapel, mencari perlindungan pada Ken Arok, Akuwu Tumapel.
Mereka mendukung Ken Arok, yang kemudian diangkat sebagai Raja Tumapel dengan gelar Batara Guru, merujuk pada Dewa Siwa. Ken Arok memberontak dan berhasil mengalahkan pasukan Kerajaan Kediri, memaksa Raja Kertajaya tunduk padanya.Namun, keberadaan Raja Kertajaya setelah kekalahan ada beberapa versi. Kitab Pararaton menyebutkan bahwa Kertajaya bersembunyi di Kahyangan.
Sementara Kitab Negarakertagama menyebutkan ia bersembunyi dalam Dewalaya. Kedua kitab tersebut menimbulkan tanda tanya apakah Kertajaya menghilang ke alam dewata atau bahkan telah meninggal.

BACA JUGA:
 Ini Senapan Mematikan dan Berstandar NATO yang Dibawa Kabur Yotam Bugiangge, Pecatan TNI Kini Jadi Pentolan KKB Papua&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Kekalahan Raja Kertajaya, yang mengklaim sebagai Tuhan, menjadi akhir dari Kerajaan Kediri. Selain itu, membuka babak baru dengan berdirinya Kerajaan Tumapel atau Singasari di bawah pemerintahan Ken Arok.</content:encoded></item></channel></rss>
