<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>   Usulkan Kalender Hijriah Global, Muhammadiyah: Umat Islam Belum Beranjak Maju ke Peradaban Tinggi</title><description></description><link>https://news.okezone.com/read/2024/03/13/337/2982477/usulkan-kalender-hijriah-global-muhammadiyah-umat-islam-belum-beranjak-maju-ke-peradaban-tinggi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2024/03/13/337/2982477/usulkan-kalender-hijriah-global-muhammadiyah-umat-islam-belum-beranjak-maju-ke-peradaban-tinggi"/><item><title>   Usulkan Kalender Hijriah Global, Muhammadiyah: Umat Islam Belum Beranjak Maju ke Peradaban Tinggi</title><link>https://news.okezone.com/read/2024/03/13/337/2982477/usulkan-kalender-hijriah-global-muhammadiyah-umat-islam-belum-beranjak-maju-ke-peradaban-tinggi</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2024/03/13/337/2982477/usulkan-kalender-hijriah-global-muhammadiyah-umat-islam-belum-beranjak-maju-ke-peradaban-tinggi</guid><pubDate>Rabu 13 Maret 2024 04:11 WIB</pubDate><dc:creator>Widya Michella</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/03/13/337/2982477/usulkan-kalender-hijriah-global-muhammadiyah-umat-islam-belum-beranjak-maju-ke-peradaban-tinggi-ppPdSTsgrE.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir (Foto: Ant)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/03/13/337/2982477/usulkan-kalender-hijriah-global-muhammadiyah-umat-islam-belum-beranjak-maju-ke-peradaban-tinggi-ppPdSTsgrE.jpg</image><title>Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir (Foto: Ant)</title></images><description>&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wMy8xMS82Ni8xNzgxNTIvNS94OHU3ZWdp&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Ketua Umum (Ketum) PP Muhammadiyah, Haedar Nashir menyebut umat Islam sedunia memiliki sebuah tantangan, di mana kini tengah mencari solusi memberi kepastian tentang disepakatinya kalender Hijriah Islam global tunggal untuk penentuan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha.
Dia pun menyayangkan jika kaum muslim dunia masih menggunakan cara lama dengan menentukan kehadiran bulan baru.
&quot;Malu rasanya di era abad ilmu pengetahuan dan hadirnya kalender Masehi yang telah lama jadi rujukan pasti, kaum muslim sejagad masih berkutat pada ketidakpastian dalam penentuan kehadiran bulan baru. Bagaimana ke depan mencari ijtihad solutif bagi seluruh Dunia Muslim untuk memberi kepastian tentang disepakatinya kalender Hijriyah Islam global tunggal,&quot; kata Haedar dikutip dalam laman resmi Muhammadiyah, Selasa (12/3/2024).

BACA JUGA:
Pemikiran Haedar Nashir soal Moderasi Beragama Jadi Oase di Tengah Dinamika Pilpres 2024

&quot;Umat Islam masih belum beranjak maju ke tingkat peradaban tinggi berbasis ilmu pengetahuan yang memberi kepastian optimum. Seraya meninggalkan ketidakpastian dalam menentukan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha!,&quot; sambungnya.

BACA JUGA:
Haedar Nashir Minta Pemilu 2024 Tak Dijadikan Pasar Politik, Harus Demokratis Tanpa Tekanan

Pada kesempatan itu, dia mengatakan bahwa Puasa mampu menaklukkan hawa nafsu dan segala keangkuhan diri yang merasa serba digdaya untuk tetap menjadi insan biasa. Insan bertaqwa itu tawadhu atau rendah hati, tidak menjadi manusia yang angkuh diri.
Menurutnya, menahan makan, minum, dan pemenuhan nafsu biologis adalah penanda menaklukkan segala kuasa diri yang bersifat serbainderawi dan serbadunia. Serta puasa dapat membebaskan diri dari segala sangkar besi kedigdayaan.
&quot;Maka, jadikan puasa sebagai ruang refleksi tertinggi yang menembus jantung mata hati terdalam. Agar terbentuk  karakter insan bertaqwa yang autentik nan rendah hati. Dirinya hanya hamba biasa di bawah Kuasa Tuhan Yang Maha Segala. Semoga dengan berpuasa menjadikan diri setiap insan Muslim siapapun dia,  makin rendah hati dan tidak terjangkiti virus angkuh diri!,&quot;tuturnya.</description><content:encoded>&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wMy8xMS82Ni8xNzgxNTIvNS94OHU3ZWdp&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Ketua Umum (Ketum) PP Muhammadiyah, Haedar Nashir menyebut umat Islam sedunia memiliki sebuah tantangan, di mana kini tengah mencari solusi memberi kepastian tentang disepakatinya kalender Hijriah Islam global tunggal untuk penentuan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha.
Dia pun menyayangkan jika kaum muslim dunia masih menggunakan cara lama dengan menentukan kehadiran bulan baru.
&quot;Malu rasanya di era abad ilmu pengetahuan dan hadirnya kalender Masehi yang telah lama jadi rujukan pasti, kaum muslim sejagad masih berkutat pada ketidakpastian dalam penentuan kehadiran bulan baru. Bagaimana ke depan mencari ijtihad solutif bagi seluruh Dunia Muslim untuk memberi kepastian tentang disepakatinya kalender Hijriyah Islam global tunggal,&quot; kata Haedar dikutip dalam laman resmi Muhammadiyah, Selasa (12/3/2024).

BACA JUGA:
Pemikiran Haedar Nashir soal Moderasi Beragama Jadi Oase di Tengah Dinamika Pilpres 2024

&quot;Umat Islam masih belum beranjak maju ke tingkat peradaban tinggi berbasis ilmu pengetahuan yang memberi kepastian optimum. Seraya meninggalkan ketidakpastian dalam menentukan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha!,&quot; sambungnya.

BACA JUGA:
Haedar Nashir Minta Pemilu 2024 Tak Dijadikan Pasar Politik, Harus Demokratis Tanpa Tekanan

Pada kesempatan itu, dia mengatakan bahwa Puasa mampu menaklukkan hawa nafsu dan segala keangkuhan diri yang merasa serba digdaya untuk tetap menjadi insan biasa. Insan bertaqwa itu tawadhu atau rendah hati, tidak menjadi manusia yang angkuh diri.
Menurutnya, menahan makan, minum, dan pemenuhan nafsu biologis adalah penanda menaklukkan segala kuasa diri yang bersifat serbainderawi dan serbadunia. Serta puasa dapat membebaskan diri dari segala sangkar besi kedigdayaan.
&quot;Maka, jadikan puasa sebagai ruang refleksi tertinggi yang menembus jantung mata hati terdalam. Agar terbentuk  karakter insan bertaqwa yang autentik nan rendah hati. Dirinya hanya hamba biasa di bawah Kuasa Tuhan Yang Maha Segala. Semoga dengan berpuasa menjadikan diri setiap insan Muslim siapapun dia,  makin rendah hati dan tidak terjangkiti virus angkuh diri!,&quot;tuturnya.</content:encoded></item></channel></rss>
