<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kesenjangan Gender Kepemimpinan Puncak China Disoroti, Laki-Laki Masih Jauh Diprioritaskan Atas Perempuan</title><description>Angka keterwakilan perempuan pada lingkaran politik utama di China dinilai sangat kecil.</description><link>https://news.okezone.com/read/2024/03/27/18/2988922/kesenjangan-gender-kepemimpinan-puncak-china-disoroti-laki-laki-masih-jauh-diprioritaskan-atas-perempuan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2024/03/27/18/2988922/kesenjangan-gender-kepemimpinan-puncak-china-disoroti-laki-laki-masih-jauh-diprioritaskan-atas-perempuan"/><item><title>Kesenjangan Gender Kepemimpinan Puncak China Disoroti, Laki-Laki Masih Jauh Diprioritaskan Atas Perempuan</title><link>https://news.okezone.com/read/2024/03/27/18/2988922/kesenjangan-gender-kepemimpinan-puncak-china-disoroti-laki-laki-masih-jauh-diprioritaskan-atas-perempuan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2024/03/27/18/2988922/kesenjangan-gender-kepemimpinan-puncak-china-disoroti-laki-laki-masih-jauh-diprioritaskan-atas-perempuan</guid><pubDate>Rabu 27 Maret 2024 13:21 WIB</pubDate><dc:creator>Rahman Asmardika</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/03/27/18/2988922/kesenjangan-gender-kepemimpinan-puncak-china-disoroti-laki-laki-masih-jauh-diprioritaskan-atas-perempuan-G4gKHn5tSk.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Reuters.</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/03/27/18/2988922/kesenjangan-gender-kepemimpinan-puncak-china-disoroti-laki-laki-masih-jauh-diprioritaskan-atas-perempuan-G4gKHn5tSk.jpg</image><title>Foto: Reuters.</title></images><description>BEIJING - Keterwakilan perempuan di Kongres Rakyat Nasional (NPC) China telah menimbulkan kecurigaan terkait status kaum Hawa di sana. Bahkan, ketika China merayakan Hari Perempuan Internasional bulan ini, komunitas global merasa heran atas tidak adanya keterwakilan perempuan di lingkaran politik utama China.

BACA JUGA:
&amp;nbsp;Wapres Bertemu Sekretaris Partai Komunis Zhejiang China, Ini yang Dibahas&amp;nbsp;

Politbiro Partai Komunis China (CCP) saat ini mempunyai 24 laki-laki dan tidak ada perempuan. Menurut sebuah opini di South China Morning Post (SCMP), perempuan memiliki lebih sedikit keterwakilan di Komite Sentral Partai Komunis China tanpa adanya tren peningkatan yang jelas, dan hanya ada sedikit fluktuasi dalam angka ini.
Mengutip dari The HK Post pada Rabu (27/3/2024), penulis Andrei Lungu menunjukkan bahwa perempuan biasanya diabaikan dalam hal promosi di tingkat kekuasaan yang tinggi, dan hanya segelintir sekretaris partai dan gubernur partai di China yang saat ini adalah perempuan.
Pembatasan ini sudah pasti akan membuat beberapa politisi laki-laki menduduki posisi tinggi, meski katakanlah pengetahuan serta kompetensi mereka lebih rendah dibandingkan politisi perempuan. Lungu menyatakan bahwa perempuan China bekerja bersama laki-laki dan berkontribusi di hampir setiap bidang dan di hampir setiap tingkatan dalam masyarakat. Seluruh China memperoleh manfaat dari partisipasi dan keterwakilan perempuan. Namun, keterwakilan perempuan cenderung diabaikan dalam bidang politik China.

BACA JUGA:
&amp;nbsp;Indonesia Dorong Pemajuan Hak-Hak Perempuan dalam Konferensi OKI&amp;nbsp;

Dua dekade terakhir merupakan puncak keterwakilan perempuan di Politbiro, dengan hanya satu keterwakilan perempuan di antara 25 anggota. Terdapat dua perwakilan perempuan di Politbiro yang dibentuk pada 2012 dan 2017. Namun saat ini, belum ada satu pun perempuan yang mendapat keterwakilan di Politbiro yang beranggotakan 24 orang tersebut.Hal ini berbeda dengan NPC, di mana perempuan mewakili lebih dari seperempat anggotanya, naik dari 20 persen dibandingkan keterwakilan mereka dalam dua dekade terakhir. Namun NPC tidak memiliki kekuasaan dan pengaruh dibandingkan Politbiro atau Komite Sentral China. Artinya, semakin tinggi seseorang menaiki tangga politik di China, maka semakin sedikit juga perempuan di sana, atau benar-benar absen.

Keterwakilan Perempuan&amp;nbsp;
Seiring berjalannya waktu, partisipasi perempuan dalam politik dan posisi pengambilan keputusan telah meningkat di negara-negara besar di dunia kecuali China. Laporan PBB telah menyatakan keprihatinannya atas tidak adanya perempuan di antara para pemimpin tertinggi China.
Laporan yang dirilis tahun lalu merekomendasikan China untuk mengadopsi kuota undang-undang dan sistem kesetaraan gender untuk mempercepat keterwakilan perempuan yang setara di pemerintahan.

BACA JUGA:
Presiden Jokowi Temui Ketua Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional China, Bahas Apa?

Komite PBB untuk Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan menerbitkan laporannya pada Juni tahun lalu. Komite tersebut menyatakan bahwa meski terdapat peningkatan keterwakilan perempuan dalam kehidupan politik dan publik di China, perempuan hanya mewakili 26,54 persen dari deputi NPC ke-14.
Menurut laporan tersebut, &quot;Sejak Oktober 2022, untuk pertama kalinya dalam 20 tahun, tidak ada perempuan di antara 24 anggota politbiro CCP, dan tidak ada perempuan di antara tujuh anggota komite tetap politbiro.&quot;
Laporan tersebut mendesak China untuk meningkatkan jumlah perempuan di semua biro pemerintah, termasuk Kehakiman dan Dinas Luar Negeri, khususnya pada posisi pengambilan keputusan.Sejumlah ahli menyalahkan pemerintahan Presiden Xi Jinping atas menurunnya partisipasi perempuan dalam posisi pengambilan keputusan. Penurunan besar dalam keterwakilan perempuan dalam politik dan posisi pengambilan keputusan pemerintah serta peningkatan kesenjangan gender di kalangan angkatan kerja telah terlihat sejak Xi berkuasa.&amp;nbsp;
Aktivis perempuan dilarang bersuara melawan diskriminasi. Pemerintah China juga semakin menekankan nilai peran tradisional perempuan sebagai ibu dan pengasuh, bukan pemimpin di level tinggi.
Selain posisi politik, rendahnya keterwakilan perempuan dalam pemerintahan di China juga merupakan masalah yang sangat memprihatinkan. Sebuah survei baru-baru ini mengenai upaya rekrutmen tahunan untuk Pegawai Negeri Sipil Nasional yang dilakukan Pasukan Inspeksi Diskriminasi Gender di Tempat Kerja memunculkan pengungkapan mengejutkan tentang disparitas gender dalam perekrutan perempuan dalam pekerjaan pemerintahan China.

BACA JUGA:
&amp;nbsp;Xi Jinping Ingin Buat Alquran Versi China, Ini Alasannya&amp;nbsp;

Kesenjangan Gender&amp;nbsp;
Menurut penelitian tersebut, lebih banyak posisi pemerintahan yang diperuntukkan bagi laki-laki dibandingkan perempuan. Laki-laki memiliki keuntungan signifikan dibandingkan perempuan ketika melamar pekerjaan pemerintahan di China.
Tim peneliti menemukan bahwa dari hampir 40.000 pekerjaan yang diiklankan, banyak yang menyatakan bahwa pekerjaan tersebut &quot;khusus laki-laki&quot; atau &quot;khusus perempuan.&quot; Di antaranya, terdapat 10.981 pekerjaan yang diperuntukkan bagi laki-laki dibandingkan hanya 7.550 bagi perempuan.&quot;Diskriminasi gender yang terburuk terjadi di biro-biro lembaga pemerintah pusat di tingkat provinsi, seperti Kementerian Perkeretaapian atau Bank Rakyat China, di mana lebih dari 40 persen jabatannya memiliki preferensi gender,&quot; menurut penelitian yang menimbulkan kejutan di kalangan aktivis perempuan di China dan di seluruh dunia itu.
SCMP Daily juga melaporkan bahwa di antara semua posisi, hanya badan pendapatan, bea cukai dan sensus serta statistik yang memiliki kesenjangan gender yang merata di China, sementara yang lain lebih memilih laki-laki daripada perempuan.
Namun para aktivis berpendapat bahwa Presiden Xi Jinping seharusnya mengizinkan perempuan di China untuk memiliki lebih banyak partisipasi dalam politik dan posisi pengambilan keputusan, agar negara tersebut dapat menghilangkan 'langit-langit kaca' yang menghalangi mereka untuk 'menyentuh langit' hingga sekarang. Mereka berpikir bahwa jika hal itu terwujud, maka akan benar-benar menjadi hadiah terbesar dari Xi Jinping tidak hanya untuk para wanita, tetapi juga seluruh China.</description><content:encoded>BEIJING - Keterwakilan perempuan di Kongres Rakyat Nasional (NPC) China telah menimbulkan kecurigaan terkait status kaum Hawa di sana. Bahkan, ketika China merayakan Hari Perempuan Internasional bulan ini, komunitas global merasa heran atas tidak adanya keterwakilan perempuan di lingkaran politik utama China.

BACA JUGA:
&amp;nbsp;Wapres Bertemu Sekretaris Partai Komunis Zhejiang China, Ini yang Dibahas&amp;nbsp;

Politbiro Partai Komunis China (CCP) saat ini mempunyai 24 laki-laki dan tidak ada perempuan. Menurut sebuah opini di South China Morning Post (SCMP), perempuan memiliki lebih sedikit keterwakilan di Komite Sentral Partai Komunis China tanpa adanya tren peningkatan yang jelas, dan hanya ada sedikit fluktuasi dalam angka ini.
Mengutip dari The HK Post pada Rabu (27/3/2024), penulis Andrei Lungu menunjukkan bahwa perempuan biasanya diabaikan dalam hal promosi di tingkat kekuasaan yang tinggi, dan hanya segelintir sekretaris partai dan gubernur partai di China yang saat ini adalah perempuan.
Pembatasan ini sudah pasti akan membuat beberapa politisi laki-laki menduduki posisi tinggi, meski katakanlah pengetahuan serta kompetensi mereka lebih rendah dibandingkan politisi perempuan. Lungu menyatakan bahwa perempuan China bekerja bersama laki-laki dan berkontribusi di hampir setiap bidang dan di hampir setiap tingkatan dalam masyarakat. Seluruh China memperoleh manfaat dari partisipasi dan keterwakilan perempuan. Namun, keterwakilan perempuan cenderung diabaikan dalam bidang politik China.

BACA JUGA:
&amp;nbsp;Indonesia Dorong Pemajuan Hak-Hak Perempuan dalam Konferensi OKI&amp;nbsp;

Dua dekade terakhir merupakan puncak keterwakilan perempuan di Politbiro, dengan hanya satu keterwakilan perempuan di antara 25 anggota. Terdapat dua perwakilan perempuan di Politbiro yang dibentuk pada 2012 dan 2017. Namun saat ini, belum ada satu pun perempuan yang mendapat keterwakilan di Politbiro yang beranggotakan 24 orang tersebut.Hal ini berbeda dengan NPC, di mana perempuan mewakili lebih dari seperempat anggotanya, naik dari 20 persen dibandingkan keterwakilan mereka dalam dua dekade terakhir. Namun NPC tidak memiliki kekuasaan dan pengaruh dibandingkan Politbiro atau Komite Sentral China. Artinya, semakin tinggi seseorang menaiki tangga politik di China, maka semakin sedikit juga perempuan di sana, atau benar-benar absen.

Keterwakilan Perempuan&amp;nbsp;
Seiring berjalannya waktu, partisipasi perempuan dalam politik dan posisi pengambilan keputusan telah meningkat di negara-negara besar di dunia kecuali China. Laporan PBB telah menyatakan keprihatinannya atas tidak adanya perempuan di antara para pemimpin tertinggi China.
Laporan yang dirilis tahun lalu merekomendasikan China untuk mengadopsi kuota undang-undang dan sistem kesetaraan gender untuk mempercepat keterwakilan perempuan yang setara di pemerintahan.

BACA JUGA:
Presiden Jokowi Temui Ketua Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional China, Bahas Apa?

Komite PBB untuk Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan menerbitkan laporannya pada Juni tahun lalu. Komite tersebut menyatakan bahwa meski terdapat peningkatan keterwakilan perempuan dalam kehidupan politik dan publik di China, perempuan hanya mewakili 26,54 persen dari deputi NPC ke-14.
Menurut laporan tersebut, &quot;Sejak Oktober 2022, untuk pertama kalinya dalam 20 tahun, tidak ada perempuan di antara 24 anggota politbiro CCP, dan tidak ada perempuan di antara tujuh anggota komite tetap politbiro.&quot;
Laporan tersebut mendesak China untuk meningkatkan jumlah perempuan di semua biro pemerintah, termasuk Kehakiman dan Dinas Luar Negeri, khususnya pada posisi pengambilan keputusan.Sejumlah ahli menyalahkan pemerintahan Presiden Xi Jinping atas menurunnya partisipasi perempuan dalam posisi pengambilan keputusan. Penurunan besar dalam keterwakilan perempuan dalam politik dan posisi pengambilan keputusan pemerintah serta peningkatan kesenjangan gender di kalangan angkatan kerja telah terlihat sejak Xi berkuasa.&amp;nbsp;
Aktivis perempuan dilarang bersuara melawan diskriminasi. Pemerintah China juga semakin menekankan nilai peran tradisional perempuan sebagai ibu dan pengasuh, bukan pemimpin di level tinggi.
Selain posisi politik, rendahnya keterwakilan perempuan dalam pemerintahan di China juga merupakan masalah yang sangat memprihatinkan. Sebuah survei baru-baru ini mengenai upaya rekrutmen tahunan untuk Pegawai Negeri Sipil Nasional yang dilakukan Pasukan Inspeksi Diskriminasi Gender di Tempat Kerja memunculkan pengungkapan mengejutkan tentang disparitas gender dalam perekrutan perempuan dalam pekerjaan pemerintahan China.

BACA JUGA:
&amp;nbsp;Xi Jinping Ingin Buat Alquran Versi China, Ini Alasannya&amp;nbsp;

Kesenjangan Gender&amp;nbsp;
Menurut penelitian tersebut, lebih banyak posisi pemerintahan yang diperuntukkan bagi laki-laki dibandingkan perempuan. Laki-laki memiliki keuntungan signifikan dibandingkan perempuan ketika melamar pekerjaan pemerintahan di China.
Tim peneliti menemukan bahwa dari hampir 40.000 pekerjaan yang diiklankan, banyak yang menyatakan bahwa pekerjaan tersebut &quot;khusus laki-laki&quot; atau &quot;khusus perempuan.&quot; Di antaranya, terdapat 10.981 pekerjaan yang diperuntukkan bagi laki-laki dibandingkan hanya 7.550 bagi perempuan.&quot;Diskriminasi gender yang terburuk terjadi di biro-biro lembaga pemerintah pusat di tingkat provinsi, seperti Kementerian Perkeretaapian atau Bank Rakyat China, di mana lebih dari 40 persen jabatannya memiliki preferensi gender,&quot; menurut penelitian yang menimbulkan kejutan di kalangan aktivis perempuan di China dan di seluruh dunia itu.
SCMP Daily juga melaporkan bahwa di antara semua posisi, hanya badan pendapatan, bea cukai dan sensus serta statistik yang memiliki kesenjangan gender yang merata di China, sementara yang lain lebih memilih laki-laki daripada perempuan.
Namun para aktivis berpendapat bahwa Presiden Xi Jinping seharusnya mengizinkan perempuan di China untuk memiliki lebih banyak partisipasi dalam politik dan posisi pengambilan keputusan, agar negara tersebut dapat menghilangkan 'langit-langit kaca' yang menghalangi mereka untuk 'menyentuh langit' hingga sekarang. Mereka berpikir bahwa jika hal itu terwujud, maka akan benar-benar menjadi hadiah terbesar dari Xi Jinping tidak hanya untuk para wanita, tetapi juga seluruh China.</content:encoded></item></channel></rss>
