<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sepak Terjang Ulama Pemberani Raja Pertama Demak</title><description>Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak yang memiliki nama kecil Pangeran Jimbun.</description><link>https://news.okezone.com/read/2024/03/29/337/2989535/sepak-terjang-ulama-pemberani-raja-pertama-demak</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2024/03/29/337/2989535/sepak-terjang-ulama-pemberani-raja-pertama-demak"/><item><title>Sepak Terjang Ulama Pemberani Raja Pertama Demak</title><link>https://news.okezone.com/read/2024/03/29/337/2989535/sepak-terjang-ulama-pemberani-raja-pertama-demak</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2024/03/29/337/2989535/sepak-terjang-ulama-pemberani-raja-pertama-demak</guid><pubDate>Jum'at 29 Maret 2024 04:07 WIB</pubDate><dc:creator>Arief Setyadi </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/03/28/337/2989535/sepak-terjang-ulama-pemberani-raja-pertama-demak-3OGy1Yp207.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi Raden Patah (Foto: Ist) </media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/03/28/337/2989535/sepak-terjang-ulama-pemberani-raja-pertama-demak-3OGy1Yp207.jpg</image><title>Ilustrasi Raden Patah (Foto: Ist) </title></images><description>JAKARTA - Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak yang memiliki nama kecil Pangeran Jimbun. Konon, Raden Patah keturunan Tionghoa dari garis ibu.

Dia meniti pendidikan yang beragam saat dewasa. Pendidikan politik dan kebangsawanan menjadi fokus utama perhatian Raden Patah. Dia juga mendalami agama di Ampel Denta, sebuah pondok pesantren yang didirikan Sunan Ampel.

BACA JUGA:
Puluhan Warga Bojonegoro Jadi Korban Arisan Bodong, Kerugian Hampir Rp1 Miliar


Selama berada di Ampel Denta, Raden Patah menjalin jaringan sosial yang luas. Bahkan, ia disebut berkenalan dengan Laksamana Cheng Ho, seorang saudagar kaya dan panglima muslim, sebagaimana dikutip dari buku &quot;Hitam Putih Kesultanan Demak : Sejarah Kerajaan Islam Pertama di Jawa dari Kejayaan Hingga Keruntuhan&quot; tulisan Fery Taufiq.

Di sana, Raden Patah juga bersekutu dengan beberapa pemuda lain, seperti Raden Paku (Sunan Giri), Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang), dan Raden Kosim (Sunan Drajat). Setelah menyelesaikan studinya, Raden Patah menjadi seorang ulama dan membangun pemukiman di Bintara.

BACA JUGA:
Ternyata Gerhana Matahari Total 8 April Juga Masuk Ramalan Jayabaya


Dengan 200 tentara, Raden Patah memusatkan perhatiannya di Bintara. Dia mendirikan pondok pesantren dan menyebarkan agama Islam, sambil memajukan ilmu pengetahuan. Bintara pun menjadi pusat aktivitas perdagangan dan budaya.


Walisongo, yang berperan dalam penyebaran agama Islam di Jawa, memandang Bintara sebagai pusat kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Raden Patah kemudian diangkat menjadi raja pertama Kesultanan Demak pada tahun 1478 hingga 1518 M.

BACA JUGA:
Horor Ribuan Bangkai Ayam Dibuang ke Sungai Musi Rawas, Bau Menyengat Ganggu Warga




Di bawah kepemimpinan Raden Patah, Islam mulai mendapat pengaruh yang luas. Raden Patah, yang juga seorang ulama, menerapkan prinsip musyawarah dan kerja sama antara ulama dan pemerintah Demak, yang membantu kesuksesan dalam memperluas wilayah kekuasaan Demak.



Selain itu, Raden Patah juga berhadapan dengan penjajahan Portugis yang ingin mengganggu Kesultanan Demak. Dia mengirim pasukan di bawah pimpinan putranya, Pati Unus atau Adipati Yunus (Pangeran Sabrang Lor), untuk melawan Portugis, meskipun akhirnya upaya ini gagal.</description><content:encoded>JAKARTA - Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak yang memiliki nama kecil Pangeran Jimbun. Konon, Raden Patah keturunan Tionghoa dari garis ibu.

Dia meniti pendidikan yang beragam saat dewasa. Pendidikan politik dan kebangsawanan menjadi fokus utama perhatian Raden Patah. Dia juga mendalami agama di Ampel Denta, sebuah pondok pesantren yang didirikan Sunan Ampel.

BACA JUGA:
Puluhan Warga Bojonegoro Jadi Korban Arisan Bodong, Kerugian Hampir Rp1 Miliar


Selama berada di Ampel Denta, Raden Patah menjalin jaringan sosial yang luas. Bahkan, ia disebut berkenalan dengan Laksamana Cheng Ho, seorang saudagar kaya dan panglima muslim, sebagaimana dikutip dari buku &quot;Hitam Putih Kesultanan Demak : Sejarah Kerajaan Islam Pertama di Jawa dari Kejayaan Hingga Keruntuhan&quot; tulisan Fery Taufiq.

Di sana, Raden Patah juga bersekutu dengan beberapa pemuda lain, seperti Raden Paku (Sunan Giri), Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang), dan Raden Kosim (Sunan Drajat). Setelah menyelesaikan studinya, Raden Patah menjadi seorang ulama dan membangun pemukiman di Bintara.

BACA JUGA:
Ternyata Gerhana Matahari Total 8 April Juga Masuk Ramalan Jayabaya


Dengan 200 tentara, Raden Patah memusatkan perhatiannya di Bintara. Dia mendirikan pondok pesantren dan menyebarkan agama Islam, sambil memajukan ilmu pengetahuan. Bintara pun menjadi pusat aktivitas perdagangan dan budaya.


Walisongo, yang berperan dalam penyebaran agama Islam di Jawa, memandang Bintara sebagai pusat kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Raden Patah kemudian diangkat menjadi raja pertama Kesultanan Demak pada tahun 1478 hingga 1518 M.

BACA JUGA:
Horor Ribuan Bangkai Ayam Dibuang ke Sungai Musi Rawas, Bau Menyengat Ganggu Warga




Di bawah kepemimpinan Raden Patah, Islam mulai mendapat pengaruh yang luas. Raden Patah, yang juga seorang ulama, menerapkan prinsip musyawarah dan kerja sama antara ulama dan pemerintah Demak, yang membantu kesuksesan dalam memperluas wilayah kekuasaan Demak.



Selain itu, Raden Patah juga berhadapan dengan penjajahan Portugis yang ingin mengganggu Kesultanan Demak. Dia mengirim pasukan di bawah pimpinan putranya, Pati Unus atau Adipati Yunus (Pangeran Sabrang Lor), untuk melawan Portugis, meskipun akhirnya upaya ini gagal.</content:encoded></item></channel></rss>
