<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Perempuan, Anak-Anak dan Remaja Rentan Terpapar Radikalisme</title><description>Perempuan dan anak-anak rentan karena kecenderungan submisi atau menyerah kepada figur yang menunjukkan otoritas lebih tinggi</description><link>https://news.okezone.com/read/2024/03/29/337/2989882/perempuan-anak-anak-dan-remaja-rentan-terpapar-radikalisme</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2024/03/29/337/2989882/perempuan-anak-anak-dan-remaja-rentan-terpapar-radikalisme"/><item><title>Perempuan, Anak-Anak dan Remaja Rentan Terpapar Radikalisme</title><link>https://news.okezone.com/read/2024/03/29/337/2989882/perempuan-anak-anak-dan-remaja-rentan-terpapar-radikalisme</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2024/03/29/337/2989882/perempuan-anak-anak-dan-remaja-rentan-terpapar-radikalisme</guid><pubDate>Jum'at 29 Maret 2024 13:37 WIB</pubDate><dc:creator>Arie Dwi Satrio</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/03/29/337/2989882/perempuan-anak-anak-dan-remaja-rentan-terpapar-radikalisme-EA1yapOzOz.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Foto : Inst Oksana)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/03/29/337/2989882/perempuan-anak-anak-dan-remaja-rentan-terpapar-radikalisme-EA1yapOzOz.jpg</image><title>Ilustrasi (Foto : Inst Oksana)</title></images><description>JAKARTA - Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI), Prof. Dr. Mirra Noor Milla sependapat dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang mengungkap bahwa perempuan, anak-anak, dan remaja rentan terpapar paham radikalisme.
&quot;Remaja rentan karena dalam fase krisis identitas. Sementara perempuan dan anak-anak rentan karena kecenderungan submisi atau menyerah kepada figur yang menunjukkan otoritas lebih tinggi yang biasanya merupakan figur otoriter,&quot; kata Mirra saat dihubungi wartawan, Jumat (29/3/2024).

BACA JUGA:
Polisi Tangkap Oknum Sopir Taksi Online yang Memeras Penumpang Wanitanya

Menurut Mirra, perempuan, anak-anak, dan remaja menjadi sasaran utama kelompok radikal dan ekstremisme kekerasan untuk mereka ajak bergabung. Biasanya, paham radikalisme merambah dari anggota keluarga.
&quot;Target utama mereka adalah anak muda, perempuan-perempuan dan anak-anak yang lingkungan atau keluarganya telah terpapar radikalisme lebih dahulu atau berada di jaringan kelompok radikal, serta tenaga kerja wanita di luar negeri yang belum menikah,&quot; ujar dia.
Mirra berpandangan bahwa kelompok yang aktif merekrut kaum perempuan adalah kelompok ekstrem yang berafiliasi dengan Negara Islam Irak-Suriah (ISIS). &quot;Ini karena kebutuhan mereka untuk membangun komunitas atau masyarakat yang membutuhkan peran perempuan,&quot; ucapnya.

BACA JUGA:
BNPT: Radikalisasi dan Terorisme Sasar Anak-anak, Remaja, dan Perempuan

Karena itu, menurut Mirra, penting  upaya perlindungan terhadap perempuan, anak-anak, dan remaja. Sebab, hingga saat ini belum ada program intervensi yang secara spesifik melindungi tiga kelompok rentan tersebut dari paparan radikalisme dan ekstremisme kekerasan.
&quot;Sejauh ini program yang ada lebih berfokus pada mereka yang sudah terpapar guna mengembalikan mereka kepada masyarakat,&quot; katanya.Sebelumnya, Kepala BNPT, Mohammed Rycko Amelza Dahniel, mengatakan perempuan, anak-anak, dan remaja merupakan kelompok yang rentan menjadi sasaran radikalisasi. Karena itu, perlindungan terhadap tiga kelompok itu akan jadi salah satu prioritas BNPT.
&quot;Ketiga kelompok rentan tersebut adalah generasi penerus bangsa sehingga penting untuk dilindungi dari proses radikalisasi demi mencapai tujuan Indonesia Emas 2045,&quot; kata Rycko.</description><content:encoded>JAKARTA - Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI), Prof. Dr. Mirra Noor Milla sependapat dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang mengungkap bahwa perempuan, anak-anak, dan remaja rentan terpapar paham radikalisme.
&quot;Remaja rentan karena dalam fase krisis identitas. Sementara perempuan dan anak-anak rentan karena kecenderungan submisi atau menyerah kepada figur yang menunjukkan otoritas lebih tinggi yang biasanya merupakan figur otoriter,&quot; kata Mirra saat dihubungi wartawan, Jumat (29/3/2024).

BACA JUGA:
Polisi Tangkap Oknum Sopir Taksi Online yang Memeras Penumpang Wanitanya

Menurut Mirra, perempuan, anak-anak, dan remaja menjadi sasaran utama kelompok radikal dan ekstremisme kekerasan untuk mereka ajak bergabung. Biasanya, paham radikalisme merambah dari anggota keluarga.
&quot;Target utama mereka adalah anak muda, perempuan-perempuan dan anak-anak yang lingkungan atau keluarganya telah terpapar radikalisme lebih dahulu atau berada di jaringan kelompok radikal, serta tenaga kerja wanita di luar negeri yang belum menikah,&quot; ujar dia.
Mirra berpandangan bahwa kelompok yang aktif merekrut kaum perempuan adalah kelompok ekstrem yang berafiliasi dengan Negara Islam Irak-Suriah (ISIS). &quot;Ini karena kebutuhan mereka untuk membangun komunitas atau masyarakat yang membutuhkan peran perempuan,&quot; ucapnya.

BACA JUGA:
BNPT: Radikalisasi dan Terorisme Sasar Anak-anak, Remaja, dan Perempuan

Karena itu, menurut Mirra, penting  upaya perlindungan terhadap perempuan, anak-anak, dan remaja. Sebab, hingga saat ini belum ada program intervensi yang secara spesifik melindungi tiga kelompok rentan tersebut dari paparan radikalisme dan ekstremisme kekerasan.
&quot;Sejauh ini program yang ada lebih berfokus pada mereka yang sudah terpapar guna mengembalikan mereka kepada masyarakat,&quot; katanya.Sebelumnya, Kepala BNPT, Mohammed Rycko Amelza Dahniel, mengatakan perempuan, anak-anak, dan remaja merupakan kelompok yang rentan menjadi sasaran radikalisasi. Karena itu, perlindungan terhadap tiga kelompok itu akan jadi salah satu prioritas BNPT.
&quot;Ketiga kelompok rentan tersebut adalah generasi penerus bangsa sehingga penting untuk dilindungi dari proses radikalisasi demi mencapai tujuan Indonesia Emas 2045,&quot; kata Rycko.</content:encoded></item></channel></rss>
