<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Pangeran Diponegoro Disatroni Ratu Kidul saat Bersemedi</title><description>Saat usia sekitar 20 tahun, Pangeran Diponegoro memulai perjalanan spiritual ke selatan Yogyakarta.</description><link>https://news.okezone.com/read/2024/03/31/337/2990411/kisah-pangeran-diponegoro-disatroni-ratu-kidul-saat-bersemedi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2024/03/31/337/2990411/kisah-pangeran-diponegoro-disatroni-ratu-kidul-saat-bersemedi"/><item><title>Kisah Pangeran Diponegoro Disatroni Ratu Kidul saat Bersemedi</title><link>https://news.okezone.com/read/2024/03/31/337/2990411/kisah-pangeran-diponegoro-disatroni-ratu-kidul-saat-bersemedi</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2024/03/31/337/2990411/kisah-pangeran-diponegoro-disatroni-ratu-kidul-saat-bersemedi</guid><pubDate>Minggu 31 Maret 2024 05:08 WIB</pubDate><dc:creator>Arief Setyadi </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/03/30/337/2990411/kisah-pangeran-diponegoro-disatroni-ratu-kidul-saat-bersemedi-JrDnWeAGUw.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi Ratu Kidul (Foto: Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/03/30/337/2990411/kisah-pangeran-diponegoro-disatroni-ratu-kidul-saat-bersemedi-JrDnWeAGUw.jpg</image><title>Ilustrasi Ratu Kidul (Foto: Ist)</title></images><description>
JAKARTA - Saat usia sekitar 20 tahun, Pangeran Diponegoro memulai perjalanan spiritual ke selatan Yogyakarta. Di sana, ia mendalami aktivitas meditasi untuk mencapai kedekatan dengan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Selain itu, sang pangeran juga melakukan ziarah ke beberapa situs suci di selatan Yogyakarta, termasuk Parangtritis dan Parangkusumo, sekitar tahun 1805. Selama masa pemerintahannya yang baru dimulai, ia sering melakukan kunjungan rutin ke tempat-tempat tersebut, bahkan kadang-kadang tinggal di Mancingan selama beberapa hari.

BACA JUGA:
Gudang Peluru TNI Meledak, Kapolda Metro ke Warga: Kalau Temukan Bahan Peledak Jangan Diutak-atik!


Di sepanjang pantai Parangkusumo, Parangwedang, dan Parangtritis, didirikan pondok-pondok kecil sebagai tempat untuk meditasi dan upacara keagamaan. Upacara tersebut diadakan sebagai penghormatan kepada Dewi Pantai Laut Selatan. Di Parangtritis, juga dibangun sebuah pesanggrahan kayu tempat Sultan dan pengiringnya menginap selama kunjungan mereka.

Menurut catatan Peter Carey dalam bukunya &quot;Takdir Riwayat Pangeran Diponegoro: 1785 : 1855&quot;, pemeliharaan bangunan-bangunan tersebut, termasuk makam Syekh Maulana, didanai oleh keraton dengan mengangkat sejumlah juru kunci yang dikenal sebagai wong putihan oleh penduduk setempat karena sering mengenakan pakaian putih.

BACA JUGA:
Pangdam Jaya Ungkapkan 15 Gudang Amunisi di Ciangsana Terbakar


Pada Mei 1812, seorang pengunjung asal Belanda mencatat adanya beberapa wong putihan atau juru kunci bersama seorang pemuda Jawa yang sedang menunaikan ibadah di Parangtritis. Penduduk setempat juga sering mendatangi tempat tersebut untuk berdoa atau meminta petunjuk saat mereka mengalami kesulitan.

Ketika mengunjungi Pantai Selatan pada usia 20 tahun, Diponegoro mengikuti rute tradisional dengan tujuan mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Ratu Kidul. Ia tinggal di Gua Langse selama dua minggu dan berusaha untuk menyucikan dirinya. Ketika keadaannya semakin tenang, ia memasuki tahap semedi yang dalam, dan pada saat itulah ia menerima kunjungan dari Ratu Kidul, yang kedatangannya disertai dengan cahaya.



Namun, karena Diponegoro sedang dalam meditasi yang dalam, Ratu Kidul menyadari bahwa itu bukan saat yang tepat untuk mengganggunya, sehingga ia pergi dengan janji bahwa ia akan datang lagi pada waktu yang tepat.

BACA JUGA:
Sebut Sistem Keamanan Gudang Peluru yang Terbakar Aman, Pangdam Jaya: Lokasinya Ada di Bunker




Lebih dari 20 tahun kemudian, janji Ratu Kidul terwujud ketika Diponegoro berkemah di tepi Kali Progo di Kulon Progo, pada masa perang Jawa yang sengit. Meskipun tanggal persisnya tidak disebutkan, peristiwa itu tampaknya terjadi sekitar pertengahan Juli 1826, atau mungkin di tengah malam bulan purnama.

</description><content:encoded>
JAKARTA - Saat usia sekitar 20 tahun, Pangeran Diponegoro memulai perjalanan spiritual ke selatan Yogyakarta. Di sana, ia mendalami aktivitas meditasi untuk mencapai kedekatan dengan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Selain itu, sang pangeran juga melakukan ziarah ke beberapa situs suci di selatan Yogyakarta, termasuk Parangtritis dan Parangkusumo, sekitar tahun 1805. Selama masa pemerintahannya yang baru dimulai, ia sering melakukan kunjungan rutin ke tempat-tempat tersebut, bahkan kadang-kadang tinggal di Mancingan selama beberapa hari.

BACA JUGA:
Gudang Peluru TNI Meledak, Kapolda Metro ke Warga: Kalau Temukan Bahan Peledak Jangan Diutak-atik!


Di sepanjang pantai Parangkusumo, Parangwedang, dan Parangtritis, didirikan pondok-pondok kecil sebagai tempat untuk meditasi dan upacara keagamaan. Upacara tersebut diadakan sebagai penghormatan kepada Dewi Pantai Laut Selatan. Di Parangtritis, juga dibangun sebuah pesanggrahan kayu tempat Sultan dan pengiringnya menginap selama kunjungan mereka.

Menurut catatan Peter Carey dalam bukunya &quot;Takdir Riwayat Pangeran Diponegoro: 1785 : 1855&quot;, pemeliharaan bangunan-bangunan tersebut, termasuk makam Syekh Maulana, didanai oleh keraton dengan mengangkat sejumlah juru kunci yang dikenal sebagai wong putihan oleh penduduk setempat karena sering mengenakan pakaian putih.

BACA JUGA:
Pangdam Jaya Ungkapkan 15 Gudang Amunisi di Ciangsana Terbakar


Pada Mei 1812, seorang pengunjung asal Belanda mencatat adanya beberapa wong putihan atau juru kunci bersama seorang pemuda Jawa yang sedang menunaikan ibadah di Parangtritis. Penduduk setempat juga sering mendatangi tempat tersebut untuk berdoa atau meminta petunjuk saat mereka mengalami kesulitan.

Ketika mengunjungi Pantai Selatan pada usia 20 tahun, Diponegoro mengikuti rute tradisional dengan tujuan mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Ratu Kidul. Ia tinggal di Gua Langse selama dua minggu dan berusaha untuk menyucikan dirinya. Ketika keadaannya semakin tenang, ia memasuki tahap semedi yang dalam, dan pada saat itulah ia menerima kunjungan dari Ratu Kidul, yang kedatangannya disertai dengan cahaya.



Namun, karena Diponegoro sedang dalam meditasi yang dalam, Ratu Kidul menyadari bahwa itu bukan saat yang tepat untuk mengganggunya, sehingga ia pergi dengan janji bahwa ia akan datang lagi pada waktu yang tepat.

BACA JUGA:
Sebut Sistem Keamanan Gudang Peluru yang Terbakar Aman, Pangdam Jaya: Lokasinya Ada di Bunker




Lebih dari 20 tahun kemudian, janji Ratu Kidul terwujud ketika Diponegoro berkemah di tepi Kali Progo di Kulon Progo, pada masa perang Jawa yang sengit. Meskipun tanggal persisnya tidak disebutkan, peristiwa itu tampaknya terjadi sekitar pertengahan Juli 1826, atau mungkin di tengah malam bulan purnama.

</content:encoded></item></channel></rss>
