<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Soekarno Ternyata Sosok Terpenting dalam Hidup Bung Hatta, Tak Kuasa Melihatnya Disakiti</title><description>Soekarno, yang dulu begitu kuat dan bersemangat, kini harus bertahan di Wisma Yaso.</description><link>https://news.okezone.com/read/2024/04/09/337/2994227/soekarno-ternyata-sosok-terpenting-dalam-hidup-bung-hatta-tak-kuasa-melihatnya-disakiti</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2024/04/09/337/2994227/soekarno-ternyata-sosok-terpenting-dalam-hidup-bung-hatta-tak-kuasa-melihatnya-disakiti"/><item><title>Soekarno Ternyata Sosok Terpenting dalam Hidup Bung Hatta, Tak Kuasa Melihatnya Disakiti</title><link>https://news.okezone.com/read/2024/04/09/337/2994227/soekarno-ternyata-sosok-terpenting-dalam-hidup-bung-hatta-tak-kuasa-melihatnya-disakiti</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2024/04/09/337/2994227/soekarno-ternyata-sosok-terpenting-dalam-hidup-bung-hatta-tak-kuasa-melihatnya-disakiti</guid><pubDate>Kamis 11 April 2024 05:14 WIB</pubDate><dc:creator>Arief Setyadi </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/04/09/337/2994227/soekarno-ternyata-sosok-terpenting-dalam-hidup-bung-hatta-tak-kuasa-melihatnya-disakiti-3OvizEKzZp.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Bung Karno dan Bung Hatta (Foto: Wikipedia)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/04/09/337/2994227/soekarno-ternyata-sosok-terpenting-dalam-hidup-bung-hatta-tak-kuasa-melihatnya-disakiti-3OvizEKzZp.jpg</image><title>Bung Karno dan Bung Hatta (Foto: Wikipedia)</title></images><description>JAKARTA - Mohammad Hatta terpukul melihat Soekarno yang terbaring lemah di ranjang sakit, tersiksa oleh penyakit ginjal yang telah lama mengganggu. Soekarno, yang dulu begitu kuat dan bersemangat, kini harus bertahan di Wisma Yaso, sebuah tempat perawatan yang jauh dari kemegahan Istana Bogor.

Di ruangannya yang sederhana, Hatta duduk sendirian, wajahnya dipenuhi air mata. Ia bercerita pada istrinya, Rachmi, tentang keinginannya untuk mengunjungi Soekarno. Namun Rachmi menolak, mengingat status Soekarno sebagai tahanan politik.

&quot;Sukarno adalah orang terpenting dalam pikiranku. Ia sahabatku. Kami pernah dibesarkan dalam suasana yang sama agar negeri ini merdeka. Bila memang ada perbedaan di antara kami, itu lumrah. Tapi aku tak tahan mendengar Sukarno disakiti seperti ini,&amp;rdquo; kata Hatta seperti dikutip pada buku &quot;Soekarno Fatmawati Sebuah Kisah Cinta Klasik&quot;.

BACA JUGA:
Jalur Arteri Kalimalang Diserbu Pemudik Motor Malam Ini


Hari berikutnya, setelah mengirim surat tegas kepada Soeharto, Hatta akhirnya mendapat izin untuk mengunjungi Soekarno. Dengan hati-hati, ia memasuki kamar Soekarno yang lemah, berusaha keras untuk menyembunyikan kesedihannya.

Soekarno, dalam keadaan hampir tidak sadar, mengakui kehadiran Hatta dengan lemah, matanya terlihat penuh kesedihan. Namun, Hatta berusaha menyembunyikan rasa sakitnya.

&quot;Hoe gaat het met jou? (Bagaimana keadaanmu?)&amp;rdquo; ucap Soekarno.

Dengan tenang, Hatta menjawab pertanyaan Soekarno tentang kondisinya, mencoba memberikan sedikit kekuatan dan dukungan. &quot;No,&quot; hanya itu yang bisa terucap dari mulut Hatta.

BACA JUGA:
Begini Langkah Antisipasi Lonjakan Volume Sampah Selama Lebaran 2024



Dengan mencoba tersenyum, Hatta memegang tangan Soekarno, mencoba memberikan kehangatan dan dukungan pada temannya yang terbaring lemah. Ia merasa haru saat Soekarno menangis di hadapannya, dan akhirnya, air mata pun turun dari matanya.



Keduanya saling berpegangan tangan, takut akan perpisahan yang tak terelakkan. Hatta tahu bahwa waktu bersama mereka sudah tidak lama lagi. Dia juga merasa marah pada penguasa baru yang menyiksa Soekarno.

BACA JUGA:
Pemudik di Terminal Tanjung Priok Keluhkan Kenaikan Harga Tiket 2 Kali Lipat, Sangat Memberatkan!




Kisah tersebut bukan hanya menggambarkan kesedihan Hatta melihat kondisi Soekarno. Namun, kehangatan persahabatan yang masih bertahan di antara mereka, meskipun terpisah oleh perbedaan politik.</description><content:encoded>JAKARTA - Mohammad Hatta terpukul melihat Soekarno yang terbaring lemah di ranjang sakit, tersiksa oleh penyakit ginjal yang telah lama mengganggu. Soekarno, yang dulu begitu kuat dan bersemangat, kini harus bertahan di Wisma Yaso, sebuah tempat perawatan yang jauh dari kemegahan Istana Bogor.

Di ruangannya yang sederhana, Hatta duduk sendirian, wajahnya dipenuhi air mata. Ia bercerita pada istrinya, Rachmi, tentang keinginannya untuk mengunjungi Soekarno. Namun Rachmi menolak, mengingat status Soekarno sebagai tahanan politik.

&quot;Sukarno adalah orang terpenting dalam pikiranku. Ia sahabatku. Kami pernah dibesarkan dalam suasana yang sama agar negeri ini merdeka. Bila memang ada perbedaan di antara kami, itu lumrah. Tapi aku tak tahan mendengar Sukarno disakiti seperti ini,&amp;rdquo; kata Hatta seperti dikutip pada buku &quot;Soekarno Fatmawati Sebuah Kisah Cinta Klasik&quot;.

BACA JUGA:
Jalur Arteri Kalimalang Diserbu Pemudik Motor Malam Ini


Hari berikutnya, setelah mengirim surat tegas kepada Soeharto, Hatta akhirnya mendapat izin untuk mengunjungi Soekarno. Dengan hati-hati, ia memasuki kamar Soekarno yang lemah, berusaha keras untuk menyembunyikan kesedihannya.

Soekarno, dalam keadaan hampir tidak sadar, mengakui kehadiran Hatta dengan lemah, matanya terlihat penuh kesedihan. Namun, Hatta berusaha menyembunyikan rasa sakitnya.

&quot;Hoe gaat het met jou? (Bagaimana keadaanmu?)&amp;rdquo; ucap Soekarno.

Dengan tenang, Hatta menjawab pertanyaan Soekarno tentang kondisinya, mencoba memberikan sedikit kekuatan dan dukungan. &quot;No,&quot; hanya itu yang bisa terucap dari mulut Hatta.

BACA JUGA:
Begini Langkah Antisipasi Lonjakan Volume Sampah Selama Lebaran 2024



Dengan mencoba tersenyum, Hatta memegang tangan Soekarno, mencoba memberikan kehangatan dan dukungan pada temannya yang terbaring lemah. Ia merasa haru saat Soekarno menangis di hadapannya, dan akhirnya, air mata pun turun dari matanya.



Keduanya saling berpegangan tangan, takut akan perpisahan yang tak terelakkan. Hatta tahu bahwa waktu bersama mereka sudah tidak lama lagi. Dia juga merasa marah pada penguasa baru yang menyiksa Soekarno.

BACA JUGA:
Pemudik di Terminal Tanjung Priok Keluhkan Kenaikan Harga Tiket 2 Kali Lipat, Sangat Memberatkan!




Kisah tersebut bukan hanya menggambarkan kesedihan Hatta melihat kondisi Soekarno. Namun, kehangatan persahabatan yang masih bertahan di antara mereka, meskipun terpisah oleh perbedaan politik.</content:encoded></item></channel></rss>
