<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Susah Muter Gegera Arus Mudik, Kolong Jembatan Jadi Alternatif</title><description>Selama beberapa hari, warga Pantura di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, kesulitan untuk menyeberang jalan lantaran padatnya arus mudik.</description><link>https://news.okezone.com/read/2024/04/12/525/2994882/susah-muter-gegera-arus-mudik-kolong-jembatan-jadi-alternatif</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2024/04/12/525/2994882/susah-muter-gegera-arus-mudik-kolong-jembatan-jadi-alternatif"/><item><title>Susah Muter Gegera Arus Mudik, Kolong Jembatan Jadi Alternatif</title><link>https://news.okezone.com/read/2024/04/12/525/2994882/susah-muter-gegera-arus-mudik-kolong-jembatan-jadi-alternatif</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2024/04/12/525/2994882/susah-muter-gegera-arus-mudik-kolong-jembatan-jadi-alternatif</guid><pubDate>Jum'at 12 April 2024 05:02 WIB</pubDate><dc:creator>Andrian Supendi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/04/11/525/2994882/susah-muter-gegera-arus-mudik-kolong-jembatan-jadi-alternatif-mHtWmzLfzI.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kolong jembatan jadi alternatif warga Indramayu untuk memutar jalan (Foto : MPI)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/04/11/525/2994882/susah-muter-gegera-arus-mudik-kolong-jembatan-jadi-alternatif-mHtWmzLfzI.jpg</image><title>Kolong jembatan jadi alternatif warga Indramayu untuk memutar jalan (Foto : MPI)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNC8xMS8xLzE3OTQ4Ni81L3g4d21yeXE=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

INDRAMAYU - Selama beberapa hari, warga Pantura di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, kesulitan untuk menyeberang jalan lantaran padatnya arus mudik dan balik Lebaran 2024 serta adanya rekayasa lalu lintas mulai dari contra flow, one way, sistem manual di persimpangan, hingga menutup seluruh U-Turn.

Akibatnya, tidak sedikit warga lokal terdampak pada aktivitas sehari-hari. Untuk mensiasatinya, sejumlah warga membangun jalan darurat di bawah kolong jembatan sebagai akses penyeberangan, agar mereka bisa melintas dan berpindah jalur saat berada di Jalur Arteri.


BACA JUGA:
Kronologi Kecelakaan Bus Rosalia Indah di Tol Weleri Kendal Tewaskan 7 Orang&amp;nbsp; &amp;nbsp;


Berdasarkan pantauan, di jalur Pantura tepatnya di Jembatan Maja Larangan, Kecamatan Lohbener, Indramayu, Kamis (11/4/2024), saat menyeberang atau putar balik warga yang mengendarai sepeda motor melewati bawah jembatan tersebut.

Saat melintas di jalan darurat itu, warga harus sedikit menundukkan kepala karena ketinggiannya hanya berkisar 1,5 hingga 2 meter.

Yus Rusmana, salah satu penjaga jalan darurat, mengatakan, jalan itu dibangun hanya saat mudik lebaran. Dengan tujuan, untuk memudahkan warga menyeberang jalan.

&quot;Jembatan kolong ini sudah lama, cuman difungsikan saat menjelang hari Raya (Idul Fitri) saja. Pas arus mudik warga susah untuk menyeberang, soalnya pintu-pintu penyeberangan (U-Turn) banyak yang ditutup, jadi buat membantu warga yang lewat,&quot; kata dia.


BACA JUGA:
Mudik Lebaran 2024, 572.598 Kendaraan Tinggalkan Jakarta via GT Cikampek Utama


Yus mengungkapkan, warga yang melewati jalan darurat yang dibangun dari swadaya masyarakat itu tidak dipatok tarif. Biasanya warga yang akan melintas memberikan uang seikhlasnya.

&quot;Untuk yang lewat enggak ada tarif, seikhlasnya yang mau lewat, ini swadaya masyarakat. Hasil uangnya dibagi ke masyarakat yang ikut membantu penyeberangan. Buat mendorong atau ada beban terlalu berat itu diperbantukan,&quot; ungkap dia.Dalam satu hari, Yus menyampaikan, biasanya warga yang berjaga di jalan darurat itu mendapatkan penghasilan sekitar Rp15.000 per orang.

&quot;Sehari itu kira-kira penghasilannya enggak tentu, terkadang pembagiannya ada yang Rp15.000 per orang. Karena yang ikut menjaga di sini banyak, kadang-kadang 20 orang, kadang-kadang lebih,&quot; ujar dia.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNC8xMS8xLzE3OTQ4Ni81L3g4d21yeXE=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

INDRAMAYU - Selama beberapa hari, warga Pantura di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, kesulitan untuk menyeberang jalan lantaran padatnya arus mudik dan balik Lebaran 2024 serta adanya rekayasa lalu lintas mulai dari contra flow, one way, sistem manual di persimpangan, hingga menutup seluruh U-Turn.

Akibatnya, tidak sedikit warga lokal terdampak pada aktivitas sehari-hari. Untuk mensiasatinya, sejumlah warga membangun jalan darurat di bawah kolong jembatan sebagai akses penyeberangan, agar mereka bisa melintas dan berpindah jalur saat berada di Jalur Arteri.


BACA JUGA:
Kronologi Kecelakaan Bus Rosalia Indah di Tol Weleri Kendal Tewaskan 7 Orang&amp;nbsp; &amp;nbsp;


Berdasarkan pantauan, di jalur Pantura tepatnya di Jembatan Maja Larangan, Kecamatan Lohbener, Indramayu, Kamis (11/4/2024), saat menyeberang atau putar balik warga yang mengendarai sepeda motor melewati bawah jembatan tersebut.

Saat melintas di jalan darurat itu, warga harus sedikit menundukkan kepala karena ketinggiannya hanya berkisar 1,5 hingga 2 meter.

Yus Rusmana, salah satu penjaga jalan darurat, mengatakan, jalan itu dibangun hanya saat mudik lebaran. Dengan tujuan, untuk memudahkan warga menyeberang jalan.

&quot;Jembatan kolong ini sudah lama, cuman difungsikan saat menjelang hari Raya (Idul Fitri) saja. Pas arus mudik warga susah untuk menyeberang, soalnya pintu-pintu penyeberangan (U-Turn) banyak yang ditutup, jadi buat membantu warga yang lewat,&quot; kata dia.


BACA JUGA:
Mudik Lebaran 2024, 572.598 Kendaraan Tinggalkan Jakarta via GT Cikampek Utama


Yus mengungkapkan, warga yang melewati jalan darurat yang dibangun dari swadaya masyarakat itu tidak dipatok tarif. Biasanya warga yang akan melintas memberikan uang seikhlasnya.

&quot;Untuk yang lewat enggak ada tarif, seikhlasnya yang mau lewat, ini swadaya masyarakat. Hasil uangnya dibagi ke masyarakat yang ikut membantu penyeberangan. Buat mendorong atau ada beban terlalu berat itu diperbantukan,&quot; ungkap dia.Dalam satu hari, Yus menyampaikan, biasanya warga yang berjaga di jalan darurat itu mendapatkan penghasilan sekitar Rp15.000 per orang.

&quot;Sehari itu kira-kira penghasilannya enggak tentu, terkadang pembagiannya ada yang Rp15.000 per orang. Karena yang ikut menjaga di sini banyak, kadang-kadang 20 orang, kadang-kadang lebih,&quot; ujar dia.</content:encoded></item></channel></rss>
