<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Misteri Hubungan Ramalan Jayabaya dan Mata Batin Sultan Agung Penguasa Mataram</title><description>Jangka Jayabaya selama ini dipercaya menjadi kumpulan ramalan Prabu Jayabaya, Raja Kediri yang terkenal itu.</description><link>https://news.okezone.com/read/2024/04/17/337/2996795/misteri-hubungan-ramalan-jayabaya-dan-mata-batin-sultan-agung-penguasa-mataram</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2024/04/17/337/2996795/misteri-hubungan-ramalan-jayabaya-dan-mata-batin-sultan-agung-penguasa-mataram"/><item><title>Misteri Hubungan Ramalan Jayabaya dan Mata Batin Sultan Agung Penguasa Mataram</title><link>https://news.okezone.com/read/2024/04/17/337/2996795/misteri-hubungan-ramalan-jayabaya-dan-mata-batin-sultan-agung-penguasa-mataram</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2024/04/17/337/2996795/misteri-hubungan-ramalan-jayabaya-dan-mata-batin-sultan-agung-penguasa-mataram</guid><pubDate>Rabu 17 April 2024 06:54 WIB</pubDate><dc:creator>Avirista Midaada</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/04/17/337/2996795/misteri-hubungan-ramalan-jayabaya-dan-mata-batin-sultan-agung-penguasa-mataram-Opp4V7PevA.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Raja Jayabaya (Foto: Wikipedia)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/04/17/337/2996795/misteri-hubungan-ramalan-jayabaya-dan-mata-batin-sultan-agung-penguasa-mataram-Opp4V7PevA.jpg</image><title>Raja Jayabaya (Foto: Wikipedia)</title></images><description>JAKARTA - Jangka Jayabaya selama ini dipercaya menjadi kumpulan ramalan Prabu Jayabaya, Raja Kediri yang terkenal itu. Tetapi beberapa sumber sejarah mencatat Jayabaya tak pernah mencatat tulisan sendiri. Ramalan Jayabaya yang identik dengan penguasa Kediri itu konon lahir dari gubahan Kitab Musarar.
Kitab ini konon menjadi karangan atau gubahan dari Sunan Giri III, dengan nama Kitab Asrar Musarar. Kemudian, para pujangga selanjutnya juga menyebut nama baru itu.

BACA JUGA:
Jalanan Dipenuhi Serangga, Puluhan Pemudik Motor Jatuh Terpeleset di Purbalingga

Kitab ini konon memuat ringkasan riwayat negara Jawa kala itu, yakni gambaran negara sejak zaman purbakala hingga jatuhnya Majapahit.&amp;nbsp;
Lalu diganti dengan Ratu Hakikat, yaitu sebuah kerajaan Islam pertama di Jawa yang disebut sebagai Giri Kedaton. Dimana Giri Kedaton ini tampaknya merupakan zaman peralihan kekuasaan Islam pertama di Jawa yang berlangsung antara 1478- 1481 M, yakni sebelum Raden Patah dinobatkan sebagai sultan di Demak oleh para wali pada 1481 M, dikisahkan pada &quot;Misteri Ramalan Jayabaya: Siapa Pemimpin Selanjutnya di Negeri Ini?&quot;.

BACA JUGA:
Truk Muatan Gula Terguling di Tanjung Priok, Pemotor Kaget hingga Terjatuh


Namun demikian, adanya keraton Islam di Giri ini masih bersifat &quot;hakikat&quot; dan diteruskan juga sampai zaman Sunan Giri ke-3. Kemudian, oleh Pujangga, Kitab Asrar digubah dan dibentuk lagi dengan cara lain, yakni dengan mengambil pokok atau permulaan cerita Raja Jayabaya dan didasarkan pada Kakawin Bharatayudha karangan Empu Sedah, pada tahun 1079 Saka 1157 M atas titah Sri Jayabaya di Daha/Kediri.

Setelah mendapat pathokan atau data baru, Raja Jayabaya yang memang dikenal masyarakat sebagai pandai meramal, lalu menulis kembali dengan gubahan Jangka Jayabaya yang merupakan perpaduan antara Kakawin Bharatayudha dengan Kitab Asrar, serta gambaran pertumbuhan negara-negara yang sebelumnya berbentuk babad.



Lalu, dari hasil penelitiannya, dicarikan inti sari dan diorbitkan dalam bentuk karya baru, dengan harapan dapat menjadi sumber semangat perjuangan bagi generasi anak cucu di masa mendatang. Cita-cita sang Pujangga yang dilukiskan sebagai zaman keemasan itu, jelas bersumber semangat dari gambaran mata batin Sultan Agung.

BACA JUGA:
Maling Motor yang Beraksi di Bojonggede Berhasil Ditangkap!




Jika kita teliti secara kronologi, sekarang zaman keemasan tersebut menunjukkan gambaran sebuah negara besar yang berdaulat penuh, yang kini bernama Republik Indonesia. Kedua sumber yang dipadukan itu ternyata senantiasa mengilhami para pujangga atau sastrawan yang hidup di abad-abad kemudian.

</description><content:encoded>JAKARTA - Jangka Jayabaya selama ini dipercaya menjadi kumpulan ramalan Prabu Jayabaya, Raja Kediri yang terkenal itu. Tetapi beberapa sumber sejarah mencatat Jayabaya tak pernah mencatat tulisan sendiri. Ramalan Jayabaya yang identik dengan penguasa Kediri itu konon lahir dari gubahan Kitab Musarar.
Kitab ini konon menjadi karangan atau gubahan dari Sunan Giri III, dengan nama Kitab Asrar Musarar. Kemudian, para pujangga selanjutnya juga menyebut nama baru itu.

BACA JUGA:
Jalanan Dipenuhi Serangga, Puluhan Pemudik Motor Jatuh Terpeleset di Purbalingga

Kitab ini konon memuat ringkasan riwayat negara Jawa kala itu, yakni gambaran negara sejak zaman purbakala hingga jatuhnya Majapahit.&amp;nbsp;
Lalu diganti dengan Ratu Hakikat, yaitu sebuah kerajaan Islam pertama di Jawa yang disebut sebagai Giri Kedaton. Dimana Giri Kedaton ini tampaknya merupakan zaman peralihan kekuasaan Islam pertama di Jawa yang berlangsung antara 1478- 1481 M, yakni sebelum Raden Patah dinobatkan sebagai sultan di Demak oleh para wali pada 1481 M, dikisahkan pada &quot;Misteri Ramalan Jayabaya: Siapa Pemimpin Selanjutnya di Negeri Ini?&quot;.

BACA JUGA:
Truk Muatan Gula Terguling di Tanjung Priok, Pemotor Kaget hingga Terjatuh


Namun demikian, adanya keraton Islam di Giri ini masih bersifat &quot;hakikat&quot; dan diteruskan juga sampai zaman Sunan Giri ke-3. Kemudian, oleh Pujangga, Kitab Asrar digubah dan dibentuk lagi dengan cara lain, yakni dengan mengambil pokok atau permulaan cerita Raja Jayabaya dan didasarkan pada Kakawin Bharatayudha karangan Empu Sedah, pada tahun 1079 Saka 1157 M atas titah Sri Jayabaya di Daha/Kediri.

Setelah mendapat pathokan atau data baru, Raja Jayabaya yang memang dikenal masyarakat sebagai pandai meramal, lalu menulis kembali dengan gubahan Jangka Jayabaya yang merupakan perpaduan antara Kakawin Bharatayudha dengan Kitab Asrar, serta gambaran pertumbuhan negara-negara yang sebelumnya berbentuk babad.



Lalu, dari hasil penelitiannya, dicarikan inti sari dan diorbitkan dalam bentuk karya baru, dengan harapan dapat menjadi sumber semangat perjuangan bagi generasi anak cucu di masa mendatang. Cita-cita sang Pujangga yang dilukiskan sebagai zaman keemasan itu, jelas bersumber semangat dari gambaran mata batin Sultan Agung.

BACA JUGA:
Maling Motor yang Beraksi di Bojonggede Berhasil Ditangkap!




Jika kita teliti secara kronologi, sekarang zaman keemasan tersebut menunjukkan gambaran sebuah negara besar yang berdaulat penuh, yang kini bernama Republik Indonesia. Kedua sumber yang dipadukan itu ternyata senantiasa mengilhami para pujangga atau sastrawan yang hidup di abad-abad kemudian.

</content:encoded></item></channel></rss>
