<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title> Peran Tokoh Agama di Balik Ramalan Prabu Jayabaya   </title><description>Beberapa ramalan Jayabaya mengenai kondisi Pulau Jawa disebut akurat dan konon terbukti hingga saat ini.</description><link>https://news.okezone.com/read/2024/04/28/337/3001501/peran-tokoh-agama-di-balik-ramalan-prabu-jayabaya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2024/04/28/337/3001501/peran-tokoh-agama-di-balik-ramalan-prabu-jayabaya"/><item><title> Peran Tokoh Agama di Balik Ramalan Prabu Jayabaya   </title><link>https://news.okezone.com/read/2024/04/28/337/3001501/peran-tokoh-agama-di-balik-ramalan-prabu-jayabaya</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2024/04/28/337/3001501/peran-tokoh-agama-di-balik-ramalan-prabu-jayabaya</guid><pubDate>Minggu 28 April 2024 07:30 WIB</pubDate><dc:creator>Awaludin</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/04/27/337/3001501/peran-tokoh-agama-di-balik-ramalan-prabu-jayabaya-KUh9BwvPhu.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Raja Kediri, Prabu Jayabaya (foto: dok ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/04/27/337/3001501/peran-tokoh-agama-di-balik-ramalan-prabu-jayabaya-KUh9BwvPhu.jpg</image><title>Raja Kediri, Prabu Jayabaya (foto: dok ist)</title></images><description>
PRABU JAYABAYA, penguasa Kerajaan Kediri ini dikenal dengan ramalannya. Beberapa ramalan Jayabaya mengenai kondisi Pulau Jawa disebut akurat dan konon terbukti hingga saat ini.

Ada beberapa serat yang mengisahkan ramalan Jayabaya, antara lain Serat Jayabaya Musarar, Serat Pranitiwakya, dan lainnya sebagainya. Pada Serat Jayabaya Musarar, dikisahkan suatu hati Jayabaya berguru pada seorang tokoh agama bernama Maolana Ngali Samsujen.

BACA JUGA:
Benarkah Sang Ahli Peramal Prabu Jayabaya Merupakan Jelmaan Dewa?

Dari ulama tersebut dikisahkan Soedjpto Abimanyu dalam buku &quot;Babad Tanah Jawi&quot;, Jayabaya mendapat gambaran tentang keadaan Pulau Jawa sejak zaman diisi oleh Aji Saka hingga datangnya hari kiamat kelak.

Dari nama guru Jayabaya tersebut diketahui bahwa naskah serat tersebut ditulis pada zaman berkembangnya islam di Pulau Jawa. Tetapi tidak diketahui siapa penulis ramalan - ramalan Jayabaya. Sudah menjadi kebiasaan masyarakat saat itu untuk mematuhi ucapan tokoh besar. Maka si penulis naskah pun mengatakan bahwa ramalannya adalah ucapan langsung Prabu Jayabaya, seorang raja besar dari Kadiri.

Tetapi jauh sebelum terkenal dengan ramalan - ramalannya, Jayabaya dalam silsilah raja-raja tanah Jawa merupakan salah satu keturunan Batara Wisnu, yang melahirkan raja-raja Jawa. Pada tradisi besar Jawa, nama besar Jayabaya tercatat dalam ingatan masyarakat Jawa.

BACA JUGA:
 Inilah Ramalan Jayabaya Tentang Tanda-Tanda Perang Dunia Ketiga&amp;nbsp; &amp;nbsp;
Sehingga namanya muncul dalam kesusastraan Jawa zaman Mataram islam atau sesudahnya sebagai Prabu Jayabaya, contoh naskah yang menyinggung tentang Jayabaya adalah Babad Tanah Jawi dan Serat Aji Pamasa.



Jayabaya yang dikisahkan sebagai titisan Wisnu, negaranya bernama Widarba, yang beribukota di Mamenang. Ayahnya bernama Gendrayana, putra Yudayana, putra Parikesit, putra Abimanyu, putra Arjuna dari keluarga Pandawa. Permaisuri Jayabaya bernama Dewi Sara, yang lahirnya dari Jaya Amijaya. Dimana ini menurunkan raja-raja tanah Jawa, bahkan sampai Majapahit hingga Mataram Islam.



Sang raja Kediri ini turun tahta pada usia tua. Ia dikisahkan moksha di Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri. Tempat petilasannnya tersebut dikeramatkan oleh penduduk setempat. Bahkan hingga sekarang petilasan tersebut masih ramai dikunjungi warga.

</description><content:encoded>
PRABU JAYABAYA, penguasa Kerajaan Kediri ini dikenal dengan ramalannya. Beberapa ramalan Jayabaya mengenai kondisi Pulau Jawa disebut akurat dan konon terbukti hingga saat ini.

Ada beberapa serat yang mengisahkan ramalan Jayabaya, antara lain Serat Jayabaya Musarar, Serat Pranitiwakya, dan lainnya sebagainya. Pada Serat Jayabaya Musarar, dikisahkan suatu hati Jayabaya berguru pada seorang tokoh agama bernama Maolana Ngali Samsujen.

BACA JUGA:
Benarkah Sang Ahli Peramal Prabu Jayabaya Merupakan Jelmaan Dewa?

Dari ulama tersebut dikisahkan Soedjpto Abimanyu dalam buku &quot;Babad Tanah Jawi&quot;, Jayabaya mendapat gambaran tentang keadaan Pulau Jawa sejak zaman diisi oleh Aji Saka hingga datangnya hari kiamat kelak.

Dari nama guru Jayabaya tersebut diketahui bahwa naskah serat tersebut ditulis pada zaman berkembangnya islam di Pulau Jawa. Tetapi tidak diketahui siapa penulis ramalan - ramalan Jayabaya. Sudah menjadi kebiasaan masyarakat saat itu untuk mematuhi ucapan tokoh besar. Maka si penulis naskah pun mengatakan bahwa ramalannya adalah ucapan langsung Prabu Jayabaya, seorang raja besar dari Kadiri.

Tetapi jauh sebelum terkenal dengan ramalan - ramalannya, Jayabaya dalam silsilah raja-raja tanah Jawa merupakan salah satu keturunan Batara Wisnu, yang melahirkan raja-raja Jawa. Pada tradisi besar Jawa, nama besar Jayabaya tercatat dalam ingatan masyarakat Jawa.

BACA JUGA:
 Inilah Ramalan Jayabaya Tentang Tanda-Tanda Perang Dunia Ketiga&amp;nbsp; &amp;nbsp;
Sehingga namanya muncul dalam kesusastraan Jawa zaman Mataram islam atau sesudahnya sebagai Prabu Jayabaya, contoh naskah yang menyinggung tentang Jayabaya adalah Babad Tanah Jawi dan Serat Aji Pamasa.



Jayabaya yang dikisahkan sebagai titisan Wisnu, negaranya bernama Widarba, yang beribukota di Mamenang. Ayahnya bernama Gendrayana, putra Yudayana, putra Parikesit, putra Abimanyu, putra Arjuna dari keluarga Pandawa. Permaisuri Jayabaya bernama Dewi Sara, yang lahirnya dari Jaya Amijaya. Dimana ini menurunkan raja-raja tanah Jawa, bahkan sampai Majapahit hingga Mataram Islam.



Sang raja Kediri ini turun tahta pada usia tua. Ia dikisahkan moksha di Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri. Tempat petilasannnya tersebut dikeramatkan oleh penduduk setempat. Bahkan hingga sekarang petilasan tersebut masih ramai dikunjungi warga.

</content:encoded></item></channel></rss>
