<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Pasutri di Bandung Korban Pandemi, Dulu Usaha Sekarang Ngerongsok Tinggal di Gerobak</title><description>Adibah (32) seorang perantau asal Sulawesi harus merasakan pahitnya hidup pascapandemi Covid-19 melanda Indonesia pada 2020 lalu.&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2024/05/01/525/3003207/kisah-pasutri-di-bandung-korban-pandemi-dulu-usaha-sekarang-ngerongsok-tinggal-di-gerobak</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2024/05/01/525/3003207/kisah-pasutri-di-bandung-korban-pandemi-dulu-usaha-sekarang-ngerongsok-tinggal-di-gerobak"/><item><title>Kisah Pasutri di Bandung Korban Pandemi, Dulu Usaha Sekarang Ngerongsok Tinggal di Gerobak</title><link>https://news.okezone.com/read/2024/05/01/525/3003207/kisah-pasutri-di-bandung-korban-pandemi-dulu-usaha-sekarang-ngerongsok-tinggal-di-gerobak</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2024/05/01/525/3003207/kisah-pasutri-di-bandung-korban-pandemi-dulu-usaha-sekarang-ngerongsok-tinggal-di-gerobak</guid><pubDate>Kamis 02 Mei 2024 02:30 WIB</pubDate><dc:creator>Agung Bakti Sarasa</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/05/01/525/3003207/kisah-pasutri-di-bandung-korban-pandemi-dulu-usaha-sekarang-ngerongsok-tinggal-di-gerobak-bU4kC2dLAP.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pasutri di Bandung tinggal di gerobak (foto: MPI/Agung)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/05/01/525/3003207/kisah-pasutri-di-bandung-korban-pandemi-dulu-usaha-sekarang-ngerongsok-tinggal-di-gerobak-bU4kC2dLAP.jpg</image><title>Pasutri di Bandung tinggal di gerobak (foto: MPI/Agung)</title></images><description>

BANDUNG - Adibah (32) seorang perantau asal Sulawesi harus merasakan pahitnya hidup pascapandemi Covid-19 melanda Indonesia pada 2020 lalu.

Adibah yang merantau ke Kota Bandung pada 2018, sempat berjualan mainan anak-anak di sekitar kawasan Batagor Serayu atau tepatnya Jalan Serayu Nomor2, Cihapit, Kecamatan Bandung Wetan.

&quot;Dulu jualan mainan di Batagor Serayu, tapi sama yang punya tempat udah ga boleh, karena jalan jadi sempit katanya,&quot; ucap Adibah saat ditemui, Rabu (1/5/2024).

BACA JUGA:
 Kisah Babeh Ayi, Jualan Balon Tiup di Jalanan untuk Hidupi Keluarga&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Setelah itu, Adibah pun mencoba untuk mencari lokasi baru untuk menjajakan dagangannya. Namun sayang, Alun-alun Bandung yang menjadi tempatnya berjualan mendapat larangan dari pemerintah.

&quot;Saya coba jualan di Alun-alun, tapi jualan di Alun-alun dikejar Satpol PP,&quot; ungkapnya.

Adibah yang hidup berdua bersama sang suami Fathullah (40), kehabisan modal setelah pandemi Covid-19 menyerang. Akhirnya, ia dan suami memilih merongsok untuk bisa menyambung hidup.

&quot;Pas Covid yaah, modal habis. Daripada bingung biarlah ngerongsok,&quot; ujarnya.

BACA JUGA:
Kisah Pilu Ibu Penjual Pecel Melawan Kerasnya Jakarta, Anak Sakit hingga Putus Sekolah

Adibah mengakui, dulu harga barang rongsok tergolong cukup mahal. Namun kini, harganya merosot tajam.

&quot;Sekarang harga rongsokan udah murah, ga kaya dulu mahal. Dulu sekilo ada Rp2.500-an, sekarang lebih murah dari itu,&quot; imbuhnya

Adibah mengatakan, hasil dari penjualan rongsok tersebut sangat pas-pasan untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Tak jarang, dirinya juga sering mendapatkan bantuan dari masyarakat Kota Bandung yang dirinya temui di jalan.



&quot;Buat kebutuhan sehari-hari itu sangat pas-pasan, cuman alhamdulillah kadang di jalan ada yang ngasih nasi, kadang ada yang ngasih sembako, kebetulan saya punya alat masaknya juga, jadi bisa masak. Pas-pasan aja,&quot; tuturnya.



Adibah mengatakan, gerobak yang digunakan untuk mencari rongsok setiap harinya tersebut menjadi tempat tinggalnya bersama sang suami.



&quot;Kalau tidur berdua di dalem kan ga cukup, sempit di dalemnya ini. Kalau malem, ibu tidur di dalem, saya tidur di luar ngampar,&quot; ungkapnya.



Adibah pun berharap, adanya bantuan dari pemerintah berupa bantuan modal usaha agar dirinya dan suami bisa kembali berjualan seperti sedikala.



&quot;Harapannya pemerintah kasih kita kelonggaran lah untuk yang berdagang, jangan dikejar-kejar terus. Kalau bisa dikasih modal untuk usaha, kalau dikejar-kejar terus kan susah kalau barangnya udah diambil sama Satpol PP, mau ditebus tuh lebih gede harga tebusnya dibanding modal barangnya,&quot; tuturnya.



Sementara itu, Fathullah mengatakan, tidak adanya tempat tinggal yang layak membuat dirinya gampang terserang penyakit. Menurutnya, hal itu juga akibat cuaca Kota Bandung yang dingin.



&quot;Cuaca Bandung tuh kan dingin, ngaruh sih ke kesehatan. Gampang kena sakitnya, masuk angin paling sering ya dikerok lah,&quot; ucap Fathullah.



Fathullah menyebut, sudah 10 tahun lamanya sang istri tidak pernah pulang ke kampung halamannya.



&quot;Si ibu ini udah 10 tahun ga pulang ke Sulawesi, tapi kalau ke Jawa ke kampung saya udah dua kali lah,&quot; imbuhnya.



Senada dengan Adibah, Fathullah berharap, bantuan dari pemerintah agar dirinya tidak terus-terus hidup di jalanan.



&quot;Mudah-mudahan pemerintah punya solusi, supaya kita ga jadi gelandangan di jalan,&quot; tandasnya.





</description><content:encoded>

BANDUNG - Adibah (32) seorang perantau asal Sulawesi harus merasakan pahitnya hidup pascapandemi Covid-19 melanda Indonesia pada 2020 lalu.

Adibah yang merantau ke Kota Bandung pada 2018, sempat berjualan mainan anak-anak di sekitar kawasan Batagor Serayu atau tepatnya Jalan Serayu Nomor2, Cihapit, Kecamatan Bandung Wetan.

&quot;Dulu jualan mainan di Batagor Serayu, tapi sama yang punya tempat udah ga boleh, karena jalan jadi sempit katanya,&quot; ucap Adibah saat ditemui, Rabu (1/5/2024).

BACA JUGA:
 Kisah Babeh Ayi, Jualan Balon Tiup di Jalanan untuk Hidupi Keluarga&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Setelah itu, Adibah pun mencoba untuk mencari lokasi baru untuk menjajakan dagangannya. Namun sayang, Alun-alun Bandung yang menjadi tempatnya berjualan mendapat larangan dari pemerintah.

&quot;Saya coba jualan di Alun-alun, tapi jualan di Alun-alun dikejar Satpol PP,&quot; ungkapnya.

Adibah yang hidup berdua bersama sang suami Fathullah (40), kehabisan modal setelah pandemi Covid-19 menyerang. Akhirnya, ia dan suami memilih merongsok untuk bisa menyambung hidup.

&quot;Pas Covid yaah, modal habis. Daripada bingung biarlah ngerongsok,&quot; ujarnya.

BACA JUGA:
Kisah Pilu Ibu Penjual Pecel Melawan Kerasnya Jakarta, Anak Sakit hingga Putus Sekolah

Adibah mengakui, dulu harga barang rongsok tergolong cukup mahal. Namun kini, harganya merosot tajam.

&quot;Sekarang harga rongsokan udah murah, ga kaya dulu mahal. Dulu sekilo ada Rp2.500-an, sekarang lebih murah dari itu,&quot; imbuhnya

Adibah mengatakan, hasil dari penjualan rongsok tersebut sangat pas-pasan untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Tak jarang, dirinya juga sering mendapatkan bantuan dari masyarakat Kota Bandung yang dirinya temui di jalan.



&quot;Buat kebutuhan sehari-hari itu sangat pas-pasan, cuman alhamdulillah kadang di jalan ada yang ngasih nasi, kadang ada yang ngasih sembako, kebetulan saya punya alat masaknya juga, jadi bisa masak. Pas-pasan aja,&quot; tuturnya.



Adibah mengatakan, gerobak yang digunakan untuk mencari rongsok setiap harinya tersebut menjadi tempat tinggalnya bersama sang suami.



&quot;Kalau tidur berdua di dalem kan ga cukup, sempit di dalemnya ini. Kalau malem, ibu tidur di dalem, saya tidur di luar ngampar,&quot; ungkapnya.



Adibah pun berharap, adanya bantuan dari pemerintah berupa bantuan modal usaha agar dirinya dan suami bisa kembali berjualan seperti sedikala.



&quot;Harapannya pemerintah kasih kita kelonggaran lah untuk yang berdagang, jangan dikejar-kejar terus. Kalau bisa dikasih modal untuk usaha, kalau dikejar-kejar terus kan susah kalau barangnya udah diambil sama Satpol PP, mau ditebus tuh lebih gede harga tebusnya dibanding modal barangnya,&quot; tuturnya.



Sementara itu, Fathullah mengatakan, tidak adanya tempat tinggal yang layak membuat dirinya gampang terserang penyakit. Menurutnya, hal itu juga akibat cuaca Kota Bandung yang dingin.



&quot;Cuaca Bandung tuh kan dingin, ngaruh sih ke kesehatan. Gampang kena sakitnya, masuk angin paling sering ya dikerok lah,&quot; ucap Fathullah.



Fathullah menyebut, sudah 10 tahun lamanya sang istri tidak pernah pulang ke kampung halamannya.



&quot;Si ibu ini udah 10 tahun ga pulang ke Sulawesi, tapi kalau ke Jawa ke kampung saya udah dua kali lah,&quot; imbuhnya.



Senada dengan Adibah, Fathullah berharap, bantuan dari pemerintah agar dirinya tidak terus-terus hidup di jalanan.



&quot;Mudah-mudahan pemerintah punya solusi, supaya kita ga jadi gelandangan di jalan,&quot; tandasnya.





</content:encoded></item></channel></rss>
