<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah di Balik Pernikahan Soeharto dan Ibu Tien</title><description>Keluarga Prawirowihardjo dari Wuryantoro datang untuk berbicara tentang masa depannya.</description><link>https://news.okezone.com/read/2024/05/04/337/3004411/kisah-di-balik-pernikahan-soeharto-dan-ibu-tien</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2024/05/04/337/3004411/kisah-di-balik-pernikahan-soeharto-dan-ibu-tien"/><item><title>Kisah di Balik Pernikahan Soeharto dan Ibu Tien</title><link>https://news.okezone.com/read/2024/05/04/337/3004411/kisah-di-balik-pernikahan-soeharto-dan-ibu-tien</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2024/05/04/337/3004411/kisah-di-balik-pernikahan-soeharto-dan-ibu-tien</guid><pubDate>Minggu 05 Mei 2024 07:04 WIB</pubDate><dc:creator>Tim Okezone</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/05/04/337/3004411/kisah-di-balik-pernikahan-soeharto-dan-ibu-tien-EQR6wwGbck.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Soeharto dan Ibu Tien (Foto: Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/05/04/337/3004411/kisah-di-balik-pernikahan-soeharto-dan-ibu-tien-EQR6wwGbck.jpg</image><title>Soeharto dan Ibu Tien (Foto: Ist)</title></images><description>JAKARTA - Saat tengah terlibat dalam rundingan penting antara Indonesia dan Belanda, Soeharto dihadapkan pada pertanyaan tak terduga tentang kehidupan pribadinya. Keluarga Prawirowihardjo dari Wuryantoro datang untuk berbicara tentang masa depannya.
Awalnya, percakapan itu seperti biasa, tetapi kemudian mereka menyampaikan pertanyaan tak terduga kepada Soeharto. Ibu Prawiro mengingatkannya bahwa usianya sudah 26 tahun dan di lingkungannya, sudah saatnya untuk menikah.

BACA JUGA:
Cegah Narkoba Masuk Lewat Perbatasan, BNN dan SNI Timor Leste Jalin Kerja Sama

Perundingan itu akan dilaksanakan di atas kapal Amerika &amp;ldquo;Renville&amp;rdquo; yang telah berlabuh di permulaan Desember di Tanjung Priok.&amp;nbsp;
Soeharto awalnya tidak serius memperhatikan pertanyaan itu. Dia menjelaskan, tugasnya sebagai perwira militer masih membutuhkan fokusnya, dan ada banyak tantangan yang harus diatasi.
&quot;Mula-mula saya tidak menganggap serius soal ini. Saya jelaskan kepada mereka bahwa saya sedang sibuk di Resimen. Perjuangan belum selesai. Kekacauan masih mengancam. Belanda masih belum mau angkat kaki dari negeri kita,&quot; kata Soeharto dikutip dari buku &amp;ldquo;Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya&amp;rdquo; yang ditulis G Dwipayana dan Ramadhan KH, diterbitkan PT Citra Kharisma Bunda Jakarta, tahun 1982.

BACA JUGA:
Polisi Ringkus Pelaku Modus Pecah Kaca di Bekasi

Namun, Ibu Prawiro menekankan bahwa perjuangan tidak boleh menghalangi pembentukan keluarga. Menurutnya, membentuk keluarga adalah suatu hal yang penting.
Soeharto kemudian bertanya kepada mereka, &amp;ldquo;Tetapi siapa pasangan saya?&amp;rdquo; saya balik bertanya kepada mereka. Soeharto tidak punya calon.
Ibu Prawiro meyakinkannya, &quot;Percayakan itu kepada kami.&quot;
&amp;ldquo;Kamu masih ingat kepada Siti Hartinah, teman sekelas adikmu, Sulardi, waktu di Wonogiri?&amp;rdquo; tanya Ibu Prawiro. Soeharto mengangguk, mengiyakan.
Dia kemudian menyarankan Siti Hartinah, teman sekelas adik Soeharto di Wonogiri. Meskipun pada awalnya merasa ragu, namun Ibu Prawiro meyakinkannya bahwa dia akan menyelesaikan masalah tersebut.

BACA JUGA:
Polisi Ringkus Pelaku Modus Pecah Kaca di Bekasi

Soeharto, meskipun awalnya bingung, merasa terdorong oleh keinginan untuk membentuk keluarga. Dia menyadari pentingnya pernikahan dalam agama dan budaya, serta menyadari bahwa langkah ini adalah langkah yang wajar di usianya.
&amp;ldquo;Tetapi bagaimana bisa?&amp;rdquo; pikir Soeharto.
&amp;ldquo;Apa dia akan mau?&amp;rdquo; tanyanya.
&amp;ldquo;Apa orangtuanya akan memberikan? Mereka orang ningrat. Ayahnya, Wedana, pegawai Mangkunegaran,&amp;rdquo; sambungnya.Bu Prawiro tak mempersoalkan itu, karena ia yakin semua akan berjalan lancar. &amp;ldquo;Saya kenal dengan orang yang dekat dengan mereka,&amp;rdquo; kata Bu Prawiro.

&amp;ldquo;Saya akan minta dia menanyakan, apa mereka dapat menerima kedatanganku. Saya tahu cara-caranya. Saya tahu adat kebiasaan di situ, &amp;rdquo; katanya.

Lantara tak ingin mengecewakan dan yang dikemukakan Bu Prawiro benar, membuat hati Soeharto tergugah untuk membentuk keluarga. Lagi pula dalam ajaran agama mewajibkan untuk melanjutkan keturunan dengan pernikahan.</description><content:encoded>JAKARTA - Saat tengah terlibat dalam rundingan penting antara Indonesia dan Belanda, Soeharto dihadapkan pada pertanyaan tak terduga tentang kehidupan pribadinya. Keluarga Prawirowihardjo dari Wuryantoro datang untuk berbicara tentang masa depannya.
Awalnya, percakapan itu seperti biasa, tetapi kemudian mereka menyampaikan pertanyaan tak terduga kepada Soeharto. Ibu Prawiro mengingatkannya bahwa usianya sudah 26 tahun dan di lingkungannya, sudah saatnya untuk menikah.

BACA JUGA:
Cegah Narkoba Masuk Lewat Perbatasan, BNN dan SNI Timor Leste Jalin Kerja Sama

Perundingan itu akan dilaksanakan di atas kapal Amerika &amp;ldquo;Renville&amp;rdquo; yang telah berlabuh di permulaan Desember di Tanjung Priok.&amp;nbsp;
Soeharto awalnya tidak serius memperhatikan pertanyaan itu. Dia menjelaskan, tugasnya sebagai perwira militer masih membutuhkan fokusnya, dan ada banyak tantangan yang harus diatasi.
&quot;Mula-mula saya tidak menganggap serius soal ini. Saya jelaskan kepada mereka bahwa saya sedang sibuk di Resimen. Perjuangan belum selesai. Kekacauan masih mengancam. Belanda masih belum mau angkat kaki dari negeri kita,&quot; kata Soeharto dikutip dari buku &amp;ldquo;Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya&amp;rdquo; yang ditulis G Dwipayana dan Ramadhan KH, diterbitkan PT Citra Kharisma Bunda Jakarta, tahun 1982.

BACA JUGA:
Polisi Ringkus Pelaku Modus Pecah Kaca di Bekasi

Namun, Ibu Prawiro menekankan bahwa perjuangan tidak boleh menghalangi pembentukan keluarga. Menurutnya, membentuk keluarga adalah suatu hal yang penting.
Soeharto kemudian bertanya kepada mereka, &amp;ldquo;Tetapi siapa pasangan saya?&amp;rdquo; saya balik bertanya kepada mereka. Soeharto tidak punya calon.
Ibu Prawiro meyakinkannya, &quot;Percayakan itu kepada kami.&quot;
&amp;ldquo;Kamu masih ingat kepada Siti Hartinah, teman sekelas adikmu, Sulardi, waktu di Wonogiri?&amp;rdquo; tanya Ibu Prawiro. Soeharto mengangguk, mengiyakan.
Dia kemudian menyarankan Siti Hartinah, teman sekelas adik Soeharto di Wonogiri. Meskipun pada awalnya merasa ragu, namun Ibu Prawiro meyakinkannya bahwa dia akan menyelesaikan masalah tersebut.

BACA JUGA:
Polisi Ringkus Pelaku Modus Pecah Kaca di Bekasi

Soeharto, meskipun awalnya bingung, merasa terdorong oleh keinginan untuk membentuk keluarga. Dia menyadari pentingnya pernikahan dalam agama dan budaya, serta menyadari bahwa langkah ini adalah langkah yang wajar di usianya.
&amp;ldquo;Tetapi bagaimana bisa?&amp;rdquo; pikir Soeharto.
&amp;ldquo;Apa dia akan mau?&amp;rdquo; tanyanya.
&amp;ldquo;Apa orangtuanya akan memberikan? Mereka orang ningrat. Ayahnya, Wedana, pegawai Mangkunegaran,&amp;rdquo; sambungnya.Bu Prawiro tak mempersoalkan itu, karena ia yakin semua akan berjalan lancar. &amp;ldquo;Saya kenal dengan orang yang dekat dengan mereka,&amp;rdquo; kata Bu Prawiro.

&amp;ldquo;Saya akan minta dia menanyakan, apa mereka dapat menerima kedatanganku. Saya tahu cara-caranya. Saya tahu adat kebiasaan di situ, &amp;rdquo; katanya.

Lantara tak ingin mengecewakan dan yang dikemukakan Bu Prawiro benar, membuat hati Soeharto tergugah untuk membentuk keluarga. Lagi pula dalam ajaran agama mewajibkan untuk melanjutkan keturunan dengan pernikahan.</content:encoded></item></channel></rss>
