<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pantang Mengemis! Tukang Gali di Bekasi Ditinggal Istri</title><description>Walim tak mau mengemis. Puluhan kilometer ia tempuh beralaskan sandal jepit, memanggul arit dan cangkul.</description><link>https://news.okezone.com/read/2024/05/05/338/3004708/pantang-mengemis-tukang-gali-di-bekasi-ditinggal-istri</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2024/05/05/338/3004708/pantang-mengemis-tukang-gali-di-bekasi-ditinggal-istri"/><item><title>Pantang Mengemis! Tukang Gali di Bekasi Ditinggal Istri</title><link>https://news.okezone.com/read/2024/05/05/338/3004708/pantang-mengemis-tukang-gali-di-bekasi-ditinggal-istri</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2024/05/05/338/3004708/pantang-mengemis-tukang-gali-di-bekasi-ditinggal-istri</guid><pubDate>Minggu 05 Mei 2024 17:30 WIB</pubDate><dc:creator>Dinar Fitra Maghiszha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/05/05/338/3004708/pantang-mengemis-tukang-gali-di-bekasi-ditinggal-istri-WWYrtuf92L.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Tukang gali di Bekasi pantang mengemis (Foto : MPI)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/05/05/338/3004708/pantang-mengemis-tukang-gali-di-bekasi-ditinggal-istri-WWYrtuf92L.jpg</image><title>Tukang gali di Bekasi pantang mengemis (Foto : MPI)</title></images><description>BEKASI - Dari kejauhan seorang kakek terlihat melamun di pinggir jalan. Sebatang rokok kretek terselip di jari-jemari yang legam terbakar matahari.

Adalah Walim (55), seorang tukang gali yang biasa menerima pekerjaan di sekitar Perumnas I, Kranji, Kota Bekasi, Jawa Barat.


BACA JUGA:
Lepas 13 Angkatan Akpol 1991 Purnabakti, Irjen M. Iqbal: Mungkin Pertama dalam Sejarah


Menggali tanah, memangkas rumput liar, apapun ia lakukan demi menyambung hidup. Kerja serabutan menjadi pilihan bertahan di kota metropolitan.

Kepada MNC Portal Indonesia, Minggu siang (5/5/2024), pria perantau asal Brebes itu ternyata hidup sebatang kara. Ia mengaku telah lama ditinggal istri dan anaknya.

&amp;ldquo;Istri enggak punya, sudah cerai, kalau anak pergi jauh di Kalimantan,&amp;rdquo; ujarnya.

Walim tak mau mengemis. Puluhan kilometer ia tempuh beralaskan sandal jepit, memanggul arit dan cangkul yang diikat di sebatang bambu.


BACA JUGA:
Hilang Dua Hari, Jenazah Bocah Asal Matraman Ditemukan di Saluran Air Warga&amp;nbsp; &amp;nbsp;


Tak ada kata pensiun di usia senja. Badan kurus dan wajah keriput tidak membuat semangatnya susut.

Walim mengaku mampu menggenggam Rp200 ribu untuk pekerjaan serabutan. Tapi itu sudah berlalu, karena ia mengeluh tak ada penghidupan sejak dua minggu terakhir.Di rumah kontraknya, ia bahkan rela &amp;lsquo;ngutang&amp;rsquo; ke warung agar sepiring nasi menenangkan jeritan perut, memberi harapan bahwa esok masih ada sesuatu yang dikerjakan.

&amp;ldquo;Kadang-kadang ada yang ngasih. Kalau gak ada yang ngasih ya pulang ke tempat, karena ada warung, ya ngutang,&amp;rdquo; ucapnya.

Walim adalah salah satu potret kaum marjinal di kawasan penyangga yang menjadi pusat keuangan, manufaktur, dan perdagangan. Badan Pusat Statistik (BPS) Bekasi Kota mencatat persentase penduduk miskin tahun 2023 mencapai 4,10 persen.

Nilai garis kemiskinan (GK) Kota Bekasi tahun 2023 mencapai Rp795.965 per kapita per bulan. GK atau batas kemiskinan adalah tingkat minimum pendapatan yang dianggap perlu dipenuhi untuk memperoleh standar hidup yang mencukupi di suatu wilayah.</description><content:encoded>BEKASI - Dari kejauhan seorang kakek terlihat melamun di pinggir jalan. Sebatang rokok kretek terselip di jari-jemari yang legam terbakar matahari.

Adalah Walim (55), seorang tukang gali yang biasa menerima pekerjaan di sekitar Perumnas I, Kranji, Kota Bekasi, Jawa Barat.


BACA JUGA:
Lepas 13 Angkatan Akpol 1991 Purnabakti, Irjen M. Iqbal: Mungkin Pertama dalam Sejarah


Menggali tanah, memangkas rumput liar, apapun ia lakukan demi menyambung hidup. Kerja serabutan menjadi pilihan bertahan di kota metropolitan.

Kepada MNC Portal Indonesia, Minggu siang (5/5/2024), pria perantau asal Brebes itu ternyata hidup sebatang kara. Ia mengaku telah lama ditinggal istri dan anaknya.

&amp;ldquo;Istri enggak punya, sudah cerai, kalau anak pergi jauh di Kalimantan,&amp;rdquo; ujarnya.

Walim tak mau mengemis. Puluhan kilometer ia tempuh beralaskan sandal jepit, memanggul arit dan cangkul yang diikat di sebatang bambu.


BACA JUGA:
Hilang Dua Hari, Jenazah Bocah Asal Matraman Ditemukan di Saluran Air Warga&amp;nbsp; &amp;nbsp;


Tak ada kata pensiun di usia senja. Badan kurus dan wajah keriput tidak membuat semangatnya susut.

Walim mengaku mampu menggenggam Rp200 ribu untuk pekerjaan serabutan. Tapi itu sudah berlalu, karena ia mengeluh tak ada penghidupan sejak dua minggu terakhir.Di rumah kontraknya, ia bahkan rela &amp;lsquo;ngutang&amp;rsquo; ke warung agar sepiring nasi menenangkan jeritan perut, memberi harapan bahwa esok masih ada sesuatu yang dikerjakan.

&amp;ldquo;Kadang-kadang ada yang ngasih. Kalau gak ada yang ngasih ya pulang ke tempat, karena ada warung, ya ngutang,&amp;rdquo; ucapnya.

Walim adalah salah satu potret kaum marjinal di kawasan penyangga yang menjadi pusat keuangan, manufaktur, dan perdagangan. Badan Pusat Statistik (BPS) Bekasi Kota mencatat persentase penduduk miskin tahun 2023 mencapai 4,10 persen.

Nilai garis kemiskinan (GK) Kota Bekasi tahun 2023 mencapai Rp795.965 per kapita per bulan. GK atau batas kemiskinan adalah tingkat minimum pendapatan yang dianggap perlu dipenuhi untuk memperoleh standar hidup yang mencukupi di suatu wilayah.</content:encoded></item></channel></rss>
