<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Megawati : Sikap Politik PDIP Bangun Sistem Hukum Berkeadilan</title><description>Hukum berkeadilan demi menjaga keberlangsungan demokrasi di Indonesia.</description><link>https://news.okezone.com/read/2024/05/26/337/3013311/megawati-sikap-politik-pdip-bangun-sistem-hukum-berkeadilan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2024/05/26/337/3013311/megawati-sikap-politik-pdip-bangun-sistem-hukum-berkeadilan"/><item><title>Megawati : Sikap Politik PDIP Bangun Sistem Hukum Berkeadilan</title><link>https://news.okezone.com/read/2024/05/26/337/3013311/megawati-sikap-politik-pdip-bangun-sistem-hukum-berkeadilan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2024/05/26/337/3013311/megawati-sikap-politik-pdip-bangun-sistem-hukum-berkeadilan</guid><pubDate>Minggu 26 Mei 2024 15:44 WIB</pubDate><dc:creator>Danandaya Arya putra</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/05/26/337/3013311/megawati-sikap-politik-pdip-bangun-sistem-hukum-berkeadilan-ANJVDuKjCL.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Rakernas V PDIP di Ancol, Jakarta Utara. (Foto: MPI/Danandaya)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/05/26/337/3013311/megawati-sikap-politik-pdip-bangun-sistem-hukum-berkeadilan-ANJVDuKjCL.jpg</image><title>Rakernas V PDIP di Ancol, Jakarta Utara. (Foto: MPI/Danandaya)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNS8yNC8xLzE4MTA2MS81L3g4ejBuOTY=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Pasca pilpres 2024, PDIP memandang, bangsa ini memiliki banyak pekerjaan rumah (PR) untuk mengembalikan sistem hukum di Indonesia. Itu yang menjadikan sikap PDIP terhadap keberlangsungan demokrasi di Indonesia.

&quot;Jadi kalau sikap politik partai, tantangan ke depan tidaklah ringan, tentu juga bagaimana beratnya PR untuk membangun sistem hukum yang berkeadilan karena menurut saya, hukum itu sekarang versus hukum,&quot; ujar Megawati di Rakernas V PDIP, di Beach City Internasional Stadium Ancol, Jakarta Utara, Minggu (26/5/2024).

Dia melihat kini justru hukum vs hukum. Seba hukum yang mengandung kebenaran, berkeadilan, melawan hukum yang dimanipulasi. Sebagai contoh seperti yang terjadi di Mahkamah Konstitusi (MK).
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Rakernas V PDIP Minta Megawati Jadi Ketum Lagi hingga 2030

&quot;Ini padahal ya hukum dan hukum. Ini kejadian di MK, di KPK, gitu loh. Terus di KPU,&quot; sambungnya.

Dia juga menyoroti Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang dianggap mudah diintervensi oleh segelintir pihak.

&quot;Heran saya KPU. Loh iya loh. Kok nggak ngerti saya. Kok bisa nurut gitu, Padahal Komisi Pemilihan Umum, kan harusnya dia pasti luber. Pasti jurdil. Jadi apa, netral. Eh enggak, aduh pusing dah,&quot; kata Megawati.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Rekomendasi Rakernas PDIP ke-V: Pemilu 2024 Paling Buruk Sepanjang Sejarah

Selain itu, Bawaslu yang dianalogikan sebagai wasit seharusnya berisik meniup peluit ketika ada pelanggaran pemilu. Sebab dia melihat banyaknya pelanggaran pemilu namun tak ditindak tegas oleh lembaga itu.

&quot;Bawaslu, mana saya dengar semprit, enggak ada, kan mestinya sempritnya tuh keras banget kan. Prat prit prat apalagi yang kemarin, mustinya prat prit prat prit, gak ada. Sepi, sunyi, sendir. Hehehe. Bener apa ndak. Hehe gawat. Jadi ayo dibenerin dah,&quot; katanya.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNS8yNC8xLzE4MTA2MS81L3g4ejBuOTY=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Pasca pilpres 2024, PDIP memandang, bangsa ini memiliki banyak pekerjaan rumah (PR) untuk mengembalikan sistem hukum di Indonesia. Itu yang menjadikan sikap PDIP terhadap keberlangsungan demokrasi di Indonesia.

&quot;Jadi kalau sikap politik partai, tantangan ke depan tidaklah ringan, tentu juga bagaimana beratnya PR untuk membangun sistem hukum yang berkeadilan karena menurut saya, hukum itu sekarang versus hukum,&quot; ujar Megawati di Rakernas V PDIP, di Beach City Internasional Stadium Ancol, Jakarta Utara, Minggu (26/5/2024).

Dia melihat kini justru hukum vs hukum. Seba hukum yang mengandung kebenaran, berkeadilan, melawan hukum yang dimanipulasi. Sebagai contoh seperti yang terjadi di Mahkamah Konstitusi (MK).
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Rakernas V PDIP Minta Megawati Jadi Ketum Lagi hingga 2030

&quot;Ini padahal ya hukum dan hukum. Ini kejadian di MK, di KPK, gitu loh. Terus di KPU,&quot; sambungnya.

Dia juga menyoroti Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang dianggap mudah diintervensi oleh segelintir pihak.

&quot;Heran saya KPU. Loh iya loh. Kok nggak ngerti saya. Kok bisa nurut gitu, Padahal Komisi Pemilihan Umum, kan harusnya dia pasti luber. Pasti jurdil. Jadi apa, netral. Eh enggak, aduh pusing dah,&quot; kata Megawati.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Rekomendasi Rakernas PDIP ke-V: Pemilu 2024 Paling Buruk Sepanjang Sejarah

Selain itu, Bawaslu yang dianalogikan sebagai wasit seharusnya berisik meniup peluit ketika ada pelanggaran pemilu. Sebab dia melihat banyaknya pelanggaran pemilu namun tak ditindak tegas oleh lembaga itu.

&quot;Bawaslu, mana saya dengar semprit, enggak ada, kan mestinya sempritnya tuh keras banget kan. Prat prit prat apalagi yang kemarin, mustinya prat prit prat prit, gak ada. Sepi, sunyi, sendir. Hehehe. Bener apa ndak. Hehe gawat. Jadi ayo dibenerin dah,&quot; katanya.</content:encoded></item></channel></rss>
