<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pergantian Mahapatih Majapahit Ditandai Gempa Akibat Erupsi Gunung Kelud</title><description>Gempa di masa Kerajaan Majapahit selalu dikaitkan dengan pertanda suatu peristiwa besar.</description><link>https://news.okezone.com/read/2024/06/18/337/3022676/pergantian-mahapatih-majapahit-ditandai-gempa-akibat-erupsi-gunung-kelud</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2024/06/18/337/3022676/pergantian-mahapatih-majapahit-ditandai-gempa-akibat-erupsi-gunung-kelud"/><item><title>Pergantian Mahapatih Majapahit Ditandai Gempa Akibat Erupsi Gunung Kelud</title><link>https://news.okezone.com/read/2024/06/18/337/3022676/pergantian-mahapatih-majapahit-ditandai-gempa-akibat-erupsi-gunung-kelud</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2024/06/18/337/3022676/pergantian-mahapatih-majapahit-ditandai-gempa-akibat-erupsi-gunung-kelud</guid><pubDate>Selasa 18 Juni 2024 06:06 WIB</pubDate><dc:creator>Avirista Midaada</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/06/18/337/3022676/pergantian-mahapatih-majapahit-ditandai-gempa-akibat-erupsi-gunung-kelud-4quycTFx5R.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Foto : Okezone.com)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/06/18/337/3022676/pergantian-mahapatih-majapahit-ditandai-gempa-akibat-erupsi-gunung-kelud-4quycTFx5R.jpg</image><title>Ilustrasi (Foto : Okezone.com)</title></images><description>GEMPA bumi di masa Kerajaan Majapahit selalu dikaitkan dengan pertanda suatu peristiwa besar. Di naskah kuno yang digubah oleh Mpu Prapanca yakni Pararaton dan Nagarakretagama menggambarkan bagaimana gempa bumi memang beberapa kali mengguncang Kerajaan Majapahit.

Kakawin Pararaton yang menjadi naskah sumber sejarah Kerajaan Majapahit pernah mencatatkan peristiwa gempa bumi yang mengubah tatanan kerajaan. Saat itu gempa bumi dicatatkan Pararaton terjadi di Banyupindah, pada tahun Saka 1256 atau sama dengan tahun 1334 Masehi.


BACA JUGA:
Prakiraan Cuaca Jakarta Hari Ini: Siang Diguyur Hujan


Peristiwa ini tergambar pada buku Prof. Slamet Muljana &quot;Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit&quot;, di mana peristiwa ini terjadi setelah Perang Sadeng. Kala itu sehabis Perang Sadeng Aria Tadah sang patih amangkubhumi merasa dirinya kurang tepat untuk mengemban tugas itu.

Kemudian Aria Tadah meminta untuk dibebastugaskan alias mengundurkan diri dari jabatannya. Sebagai gantinya Aria Tadah meminta Raja Tribhuwana Tunggadewi mengangkat Gajah Mada yang telah punya pengalaman sebagai patih Daha, wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit selama tiga tahun.


BACA JUGA:
Peristiwa 18 Juni: Wafatnya Pahlawan Nasional Raja Haji Fisabilillah&amp;nbsp; &amp;nbsp;


Pengalaman itu dirasa Aria Tadah bahwa Gajah Mada mampu diserahi tugas baru yang lebih berat. Dari sanalah akhirnya sang raja mempertimbangkan saran dari Aria Tadah dengan menunjuk Gajah Mada sebagai patih amangkubhumi yang kosong.

Namun sebelum resmi jabatan patih amangkubhumi diisi Gajah Mada, ada suatu fenomena besar adanya gempa bumi yang mengguncang wilayah Kerajaan Majapahit. Konon Pararaton mengisahkan bahwa itu menjadi isyarat akan adanya perubahan besar di Kerajaan Majapahit.Di mana dimaksudnya adalah penggantian Aria Tadah sebagai patih amangkubhumi dengan Gajah Mada. Pelantikan Gajah Mada sebagai patih amangkubhumi sendiri dilakukan secara resmi di Balaiurung.

Sedangkan di Kakawin Nagarakretagama Pupuh I / 4, dinyatakan kelahiran Hayam Wuruk pada tahun saka 1256 atau 1334 Masehi. Kelahiran itu didahului peristiwa alam, di antaranya gempa bumi, sebagai isyarat kebesaran jabang bayi yang akan dilahirkan.

Jadi kemungkinan catatan dari Pararaton yang mengatakan ada gempa bumi di tahun 1334 bisa jadi juga menjadi isyarat lahirnya Hayam Wuruk. Gempa bumi itu sendiri disebabkan oleh letusan Gunung Kelud.

Hayam Wuruk sendiri lahir dari rahim Tribhuwana Tunggadewi yang menjadi penguasa ketiga usai Raden Wijaya dan Jayanagara di Majapahit. Kelak Hayam Wuruk -lah yang mewarisi tahta raja Majapahit dari ibunya.</description><content:encoded>GEMPA bumi di masa Kerajaan Majapahit selalu dikaitkan dengan pertanda suatu peristiwa besar. Di naskah kuno yang digubah oleh Mpu Prapanca yakni Pararaton dan Nagarakretagama menggambarkan bagaimana gempa bumi memang beberapa kali mengguncang Kerajaan Majapahit.

Kakawin Pararaton yang menjadi naskah sumber sejarah Kerajaan Majapahit pernah mencatatkan peristiwa gempa bumi yang mengubah tatanan kerajaan. Saat itu gempa bumi dicatatkan Pararaton terjadi di Banyupindah, pada tahun Saka 1256 atau sama dengan tahun 1334 Masehi.


BACA JUGA:
Prakiraan Cuaca Jakarta Hari Ini: Siang Diguyur Hujan


Peristiwa ini tergambar pada buku Prof. Slamet Muljana &quot;Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit&quot;, di mana peristiwa ini terjadi setelah Perang Sadeng. Kala itu sehabis Perang Sadeng Aria Tadah sang patih amangkubhumi merasa dirinya kurang tepat untuk mengemban tugas itu.

Kemudian Aria Tadah meminta untuk dibebastugaskan alias mengundurkan diri dari jabatannya. Sebagai gantinya Aria Tadah meminta Raja Tribhuwana Tunggadewi mengangkat Gajah Mada yang telah punya pengalaman sebagai patih Daha, wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit selama tiga tahun.


BACA JUGA:
Peristiwa 18 Juni: Wafatnya Pahlawan Nasional Raja Haji Fisabilillah&amp;nbsp; &amp;nbsp;


Pengalaman itu dirasa Aria Tadah bahwa Gajah Mada mampu diserahi tugas baru yang lebih berat. Dari sanalah akhirnya sang raja mempertimbangkan saran dari Aria Tadah dengan menunjuk Gajah Mada sebagai patih amangkubhumi yang kosong.

Namun sebelum resmi jabatan patih amangkubhumi diisi Gajah Mada, ada suatu fenomena besar adanya gempa bumi yang mengguncang wilayah Kerajaan Majapahit. Konon Pararaton mengisahkan bahwa itu menjadi isyarat akan adanya perubahan besar di Kerajaan Majapahit.Di mana dimaksudnya adalah penggantian Aria Tadah sebagai patih amangkubhumi dengan Gajah Mada. Pelantikan Gajah Mada sebagai patih amangkubhumi sendiri dilakukan secara resmi di Balaiurung.

Sedangkan di Kakawin Nagarakretagama Pupuh I / 4, dinyatakan kelahiran Hayam Wuruk pada tahun saka 1256 atau 1334 Masehi. Kelahiran itu didahului peristiwa alam, di antaranya gempa bumi, sebagai isyarat kebesaran jabang bayi yang akan dilahirkan.

Jadi kemungkinan catatan dari Pararaton yang mengatakan ada gempa bumi di tahun 1334 bisa jadi juga menjadi isyarat lahirnya Hayam Wuruk. Gempa bumi itu sendiri disebabkan oleh letusan Gunung Kelud.

Hayam Wuruk sendiri lahir dari rahim Tribhuwana Tunggadewi yang menjadi penguasa ketiga usai Raden Wijaya dan Jayanagara di Majapahit. Kelak Hayam Wuruk -lah yang mewarisi tahta raja Majapahit dari ibunya.</content:encoded></item></channel></rss>
