<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Hukuman Separatis Taiwan dari China</title><description>Pedoman Cina ini dikeluarkan sesuai dengan undang-undang yang sudah ada, termasuk undang-undang anti suksesi tahun 2005.</description><link>https://news.okezone.com/read/2024/06/25/18/3025896/hukuman-separatis-taiwan-dari-china</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2024/06/25/18/3025896/hukuman-separatis-taiwan-dari-china"/><item><title>Hukuman Separatis Taiwan dari China</title><link>https://news.okezone.com/read/2024/06/25/18/3025896/hukuman-separatis-taiwan-dari-china</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2024/06/25/18/3025896/hukuman-separatis-taiwan-dari-china</guid><pubDate>Selasa 25 Juni 2024 15:41 WIB</pubDate><dc:creator>Rachel Eirene Nugroho </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/06/25/18/3025896/hukuman-separatis-taiwan-dari-china-JImQxH0tyF.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Hukuman separatis Taiwan dari China (Foto: AFP)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/06/25/18/3025896/hukuman-separatis-taiwan-dari-china-JImQxH0tyF.jpg</image><title>Hukuman separatis Taiwan dari China (Foto: AFP)</title></images><description>TAIPEI - Banyak cara yang digunakan pemerintah Republik Rakyat Cina dalam menjaga Taiwan dalam genggamannya. Baru-baru ini, Cina menerbitkan pedoman baru terkait hukuman pidana yang berupa hukuman mati bagi pelaku-pelaku aksi separatis kemerdekaan Taiwan yang keras kepala.

Pedoman Cina ini dikeluarkan sesuai dengan undang-undang yang sudah ada, termasuk undang-undang anti suksesi tahun 2005. Menurut Reuters, undang-undang tersebut telah memberikan dasar hukum bagi Cina untuk melakukan tindakan militer terhadap Taiwan jika negara itu memisahkan diri atau tampaknya akan memisahkan diri.


BACA JUGA:
Kenapa Taiwan Disebut China Taipei?

Melansir Voice of America, pedoman baru ini diumumkan pada hari Jumat (21/06/2024) sebagai upaya peningkatan tekanan Cina terhadap Taiwan sejak terpilihnya Presiden Lai Ching-te pada bulan Januari dan pelantikannya bulan lalu. Cina secara terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Lai dengan menganggapnya sebagai seorang &amp;lsquo;separatis&amp;rsquo; dan langsung melakukan latihan perang tak lama setelah pelantikannya.


BACA JUGA:
AS dan China Gelar Perundingan Nuklir Pertama Kalinya dalam 5 Tahun, Beijing Jamin Tak Gunakan Nuklir ke Taiwan

Lai juga sudah memberikan tanggapannya dalam konferensi pers di kantor kepresidenan di Taipei terkait pedoman yang dikeluarkan Cina baru-baru ini.

&amp;ldquo;Saya ingin menekankan: demokrasi bukanlah sebuah kejahatan; otokrasi lah yang merupakan kejahatan sesungguhnya. Tiongkok sama sekali tidak berhak memberikan sanksi kepada rakyat Taiwan hanya karena posisi yang mereka pegang. Terlebih lagi, Tiongkok tidak punya hak untuk mengejar hak-hak rakyat Taiwan melintasi perbatasan,&amp;rdquo; kata Lai, melansir NDTV.
Adapun selain dikeluarkannya pedoman yang memberikan hukuman mati bagi separatis Taiwan yang mendukung kemerdekaan negara tersebut, Cina juga telah meningkatkan tekanannya dengan peningkatan penerbangan militer Cina sebagai aksi &amp;lsquo;patroli kesiapan tempur bersama&amp;rsquo; di dekat pulau tersebut. Taiwan telah mendeteksi sebanyak 115 pesawat militer Cina beroperasi di dekatnya antara Kamis dan Minggu yang hanya berjarak 31 mil laut (57 km) dari ujung selatan pulau itu.



Melansir Deutsche Welle, melihat sikap Cina yang semakin mengekang pergerakan Taiwan, Presiden Taiwan telah memperingatkan bahwa hubungan kedua negara ini semakin diperburuk dengan hadirnya pedoman tersebut serta meminta kesediaan Cina dalam melakukan pertukaran dan dialog dengan pemerintah Taiwan. Hal ini dilakukan sebagai cara yang tepat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di kedua sisi.

</description><content:encoded>TAIPEI - Banyak cara yang digunakan pemerintah Republik Rakyat Cina dalam menjaga Taiwan dalam genggamannya. Baru-baru ini, Cina menerbitkan pedoman baru terkait hukuman pidana yang berupa hukuman mati bagi pelaku-pelaku aksi separatis kemerdekaan Taiwan yang keras kepala.

Pedoman Cina ini dikeluarkan sesuai dengan undang-undang yang sudah ada, termasuk undang-undang anti suksesi tahun 2005. Menurut Reuters, undang-undang tersebut telah memberikan dasar hukum bagi Cina untuk melakukan tindakan militer terhadap Taiwan jika negara itu memisahkan diri atau tampaknya akan memisahkan diri.


BACA JUGA:
Kenapa Taiwan Disebut China Taipei?

Melansir Voice of America, pedoman baru ini diumumkan pada hari Jumat (21/06/2024) sebagai upaya peningkatan tekanan Cina terhadap Taiwan sejak terpilihnya Presiden Lai Ching-te pada bulan Januari dan pelantikannya bulan lalu. Cina secara terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Lai dengan menganggapnya sebagai seorang &amp;lsquo;separatis&amp;rsquo; dan langsung melakukan latihan perang tak lama setelah pelantikannya.


BACA JUGA:
AS dan China Gelar Perundingan Nuklir Pertama Kalinya dalam 5 Tahun, Beijing Jamin Tak Gunakan Nuklir ke Taiwan

Lai juga sudah memberikan tanggapannya dalam konferensi pers di kantor kepresidenan di Taipei terkait pedoman yang dikeluarkan Cina baru-baru ini.

&amp;ldquo;Saya ingin menekankan: demokrasi bukanlah sebuah kejahatan; otokrasi lah yang merupakan kejahatan sesungguhnya. Tiongkok sama sekali tidak berhak memberikan sanksi kepada rakyat Taiwan hanya karena posisi yang mereka pegang. Terlebih lagi, Tiongkok tidak punya hak untuk mengejar hak-hak rakyat Taiwan melintasi perbatasan,&amp;rdquo; kata Lai, melansir NDTV.
Adapun selain dikeluarkannya pedoman yang memberikan hukuman mati bagi separatis Taiwan yang mendukung kemerdekaan negara tersebut, Cina juga telah meningkatkan tekanannya dengan peningkatan penerbangan militer Cina sebagai aksi &amp;lsquo;patroli kesiapan tempur bersama&amp;rsquo; di dekat pulau tersebut. Taiwan telah mendeteksi sebanyak 115 pesawat militer Cina beroperasi di dekatnya antara Kamis dan Minggu yang hanya berjarak 31 mil laut (57 km) dari ujung selatan pulau itu.



Melansir Deutsche Welle, melihat sikap Cina yang semakin mengekang pergerakan Taiwan, Presiden Taiwan telah memperingatkan bahwa hubungan kedua negara ini semakin diperburuk dengan hadirnya pedoman tersebut serta meminta kesediaan Cina dalam melakukan pertukaran dan dialog dengan pemerintah Taiwan. Hal ini dilakukan sebagai cara yang tepat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di kedua sisi.

</content:encoded></item></channel></rss>
