<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Alasan Ditjen Imigrasi Pindah Data Layanan ke Amazon Usai PDN Dibobol Hacker</title><description>Imigrasi pindah data ke web Amazon setelah PDN diretas.</description><link>https://news.okezone.com/read/2024/06/29/337/3027631/alasan-ditjen-imigrasi-pindah-data-layanan-ke-amazon-usai-pdn-dibobol-hacker</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2024/06/29/337/3027631/alasan-ditjen-imigrasi-pindah-data-layanan-ke-amazon-usai-pdn-dibobol-hacker"/><item><title>Alasan Ditjen Imigrasi Pindah Data Layanan ke Amazon Usai PDN Dibobol Hacker</title><link>https://news.okezone.com/read/2024/06/29/337/3027631/alasan-ditjen-imigrasi-pindah-data-layanan-ke-amazon-usai-pdn-dibobol-hacker</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2024/06/29/337/3027631/alasan-ditjen-imigrasi-pindah-data-layanan-ke-amazon-usai-pdn-dibobol-hacker</guid><pubDate>Sabtu 29 Juni 2024 08:59 WIB</pubDate><dc:creator>Irfan Ma'ruf</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/06/29/337/3027631/alasan-ditjen-imigrasi-pindah-data-layanan-ke-amazon-usai-pdn-dibobol-hacker-6cC2U2U5z0.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Dirjen Imigrasi Silmy Salim (Foto: Ditjen Imigrasi)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/06/29/337/3027631/alasan-ditjen-imigrasi-pindah-data-layanan-ke-amazon-usai-pdn-dibobol-hacker-6cC2U2U5z0.jpg</image><title>Dirjen Imigrasi Silmy Salim (Foto: Ditjen Imigrasi)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNi8yOC8xLzE4MjIzOS81L3g5MTJ2eXE=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Ditjen Imigrasi mengakui menggunakan server Amazon Web Service (AWS) setelah Pusat Data Nasional mengalami serangan siber ransomware. Alasan penggunaan AWS karena mendapat rekomendasi keberhasilan saat mengelola webset peduli lindungi.

Direktur Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM Silmy Karim mengatakan, setelah PDN mengalami serangan dia langsung melakukan tindakan dengan segera melakukan pembuatan sistem layanan baru. Dia memilih menggunakan Amazone Web Service untuk memastikan layanan baru tersebut.

&quot;Saya tanya sama Menkes, Peduli Lindungi dengan siapa, dijawablah (Amazon Web Service),&quot; kata Silmy dalam keterangannya, Sabtu (29/6/2024).
&amp;nbsp;BACA JUGA:

 Sebelum Diserang Siber, Ditjen Imigrasi Ngaku Minta Replika DPN ke Kominfo Tapi Tak Direspon&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Lebih lanjut Silmy mengatakan, setelah mendapatkan referensi dari Menkes Budi Gubadia Sadikin karena keberhasilannya dalam mengelola Peduli Lindungi pihaknya memilih menggunakan Amazone Web Service.

&quot;Saya berdasarkan reference orang yang berhasil aja. Peduli lindungi kan ketika pada masa covid kan aplikasi yg paling sibuk. Kan kita pengen aplikasi kita tidak down. Makanyan ketika kita terus mengenhance sistem kita yang terbaik,&quot; jelasnya.

Dia juga mengakui bahwa peristiwa serangan siber ransomware yang terjadi pada DPN menjadikan pelajaran berharga. Saat ini pihaknya melakukan upaya beackup data mirornya dengan lokasi lokasi yang berbeda.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Ogah Saling Menyalahkan soal Kebocoran PDN, Dirjen Imigrasi: Sesama Bus Kota Enggak Boleh Saling Menyalip

&quot;Data center yang baik harus punya mirror. Karena suatu waktu dihit di suatu tempat, di tempat lain masih bisa backup,&quot; jelasnya.

&quot;Misalnya kena nih, misalnya Surabaya kena gempa kira-kira akan ngambil data center di Surabaya atau mirrornya di tempat lain? Tempat lain kan. Bukan dasarnya permintaan. Memang harusnya ada yang namanya data center harus punya backup,&quot; jelasnya.
</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNi8yOC8xLzE4MjIzOS81L3g5MTJ2eXE=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Ditjen Imigrasi mengakui menggunakan server Amazon Web Service (AWS) setelah Pusat Data Nasional mengalami serangan siber ransomware. Alasan penggunaan AWS karena mendapat rekomendasi keberhasilan saat mengelola webset peduli lindungi.

Direktur Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM Silmy Karim mengatakan, setelah PDN mengalami serangan dia langsung melakukan tindakan dengan segera melakukan pembuatan sistem layanan baru. Dia memilih menggunakan Amazone Web Service untuk memastikan layanan baru tersebut.

&quot;Saya tanya sama Menkes, Peduli Lindungi dengan siapa, dijawablah (Amazon Web Service),&quot; kata Silmy dalam keterangannya, Sabtu (29/6/2024).
&amp;nbsp;BACA JUGA:

 Sebelum Diserang Siber, Ditjen Imigrasi Ngaku Minta Replika DPN ke Kominfo Tapi Tak Direspon&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Lebih lanjut Silmy mengatakan, setelah mendapatkan referensi dari Menkes Budi Gubadia Sadikin karena keberhasilannya dalam mengelola Peduli Lindungi pihaknya memilih menggunakan Amazone Web Service.

&quot;Saya berdasarkan reference orang yang berhasil aja. Peduli lindungi kan ketika pada masa covid kan aplikasi yg paling sibuk. Kan kita pengen aplikasi kita tidak down. Makanyan ketika kita terus mengenhance sistem kita yang terbaik,&quot; jelasnya.

Dia juga mengakui bahwa peristiwa serangan siber ransomware yang terjadi pada DPN menjadikan pelajaran berharga. Saat ini pihaknya melakukan upaya beackup data mirornya dengan lokasi lokasi yang berbeda.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Ogah Saling Menyalahkan soal Kebocoran PDN, Dirjen Imigrasi: Sesama Bus Kota Enggak Boleh Saling Menyalip

&quot;Data center yang baik harus punya mirror. Karena suatu waktu dihit di suatu tempat, di tempat lain masih bisa backup,&quot; jelasnya.

&quot;Misalnya kena nih, misalnya Surabaya kena gempa kira-kira akan ngambil data center di Surabaya atau mirrornya di tempat lain? Tempat lain kan. Bukan dasarnya permintaan. Memang harusnya ada yang namanya data center harus punya backup,&quot; jelasnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
