<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Carut Marut PPDB Jalur Prestasi: Punya 6 Sertifikat Silat tapi Tak Bisa Satu Jurus pun saat Diuji</title><description>Indraza Marzuki Rais mengatakan dirinya menemukan pemalsuan sertifikat silat yang digunakan untuk jalur prestasi</description><link>https://news.okezone.com/read/2024/06/30/337/3027912/carut-marut-ppdb-jalur-prestasi-punya-6-sertifikat-silat-tapi-tak-bisa-satu-jurus-pun-saat-diuji</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2024/06/30/337/3027912/carut-marut-ppdb-jalur-prestasi-punya-6-sertifikat-silat-tapi-tak-bisa-satu-jurus-pun-saat-diuji"/><item><title>Carut Marut PPDB Jalur Prestasi: Punya 6 Sertifikat Silat tapi Tak Bisa Satu Jurus pun saat Diuji</title><link>https://news.okezone.com/read/2024/06/30/337/3027912/carut-marut-ppdb-jalur-prestasi-punya-6-sertifikat-silat-tapi-tak-bisa-satu-jurus-pun-saat-diuji</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2024/06/30/337/3027912/carut-marut-ppdb-jalur-prestasi-punya-6-sertifikat-silat-tapi-tak-bisa-satu-jurus-pun-saat-diuji</guid><pubDate>Minggu 30 Juni 2024 06:15 WIB</pubDate><dc:creator>Nur Khabibi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/06/30/337/3027912/carut-marut-ppdb-jalur-prestasi-punya-6-sertifikat-silat-tapi-tak-bisa-satu-jurus-pun-saat-diuji-QmmqerLi8E.JPG" expression="full" type="image/jpeg">Anggota Ombudsman Indraza Marzuki Rais (Foto: MPI)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/06/30/337/3027912/carut-marut-ppdb-jalur-prestasi-punya-6-sertifikat-silat-tapi-tak-bisa-satu-jurus-pun-saat-diuji-QmmqerLi8E.JPG</image><title>Anggota Ombudsman Indraza Marzuki Rais (Foto: MPI)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNi8yOS8xLzE4MjI5Ni81L3g5MTU3dHE=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

JAKARTA - Anggota Ombudsman RI, Indraza Marzuki Rais mengatakan dirinya menemukan pemalsuan sertifikat silat yang digunakan untuk jalur prestasi non-akademik Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Tak tanggung-tanggung, murid tersebut memiliki enam sertifikat sekaligus.

Awalnya, Indraza menyatakan di era digitalisasi sekarang ini sangat mudah untuk memalsukan sertifikat, termasuk pemalsuan sertifikat perlombaan. Untuk itu, ia mengimbau panitia PPDB untuk mengkonfirmasi sertifikat ke pihak-pihak terkait.



&quot;Di era digital ini sekarang banyak sekali dan gampang untuk mencetak sertifikat-sertifikat kejuaraan, sekarang balik lagi, apakah panitia melakukan verifikasi dan validasi dengan induk olahraga, atau dinas Kebudayaan, tidak,&quot; kata Indraza kepada iNews Media Group, Sabtu (29/6/2024).

Salah satu contoh pemalsuan sertifikat perlombaan yang ia temui di daerah Sumatera Selatan (Sumsel). Di sana, Indraza menyebutkan, terdapat siswa yang memiliki enam sertifikat silat.


BACA JUGA:
Ungkap Celah PPDB, Ombudsman: Sekolah Cuci Rapot agar Muridnya Lolos


Namun, ketika diminta untuk menunjukkan skillnya, siswa yang dimaksud tidak mampu menunjukkan. Bahkan, satu jurus pun tidak ada yang dikuasai.

&quot;Contoh kemarin saya ke Sumsel ada anak yang punya sertifikat juara silat sampai enam, bayangin kalau nilainya (satu sertifikat) 200 maka dia dapat 1.200, tapi satu jurus pun anaknya tidak bisa,&quot; paparnya.


Indraza melanjutkan, PPDB prestasi menjadi jalur yang sangat rawan terjadi 'titipan'. Pasalnya, tidak ada transparansi dalam pemberian nilai bagi siswa lewat jalur prestasi.



&quot;Yang lebih mengerikan lagi prestasi itu menjadi ajang siswa titipan, karena disitulah ketika itu mereka yang memasukkan nilai dan tidak pernah terbuka hasil prestasi anak ini skornya sekian,&quot; ujarnya.



&quot;Tidak transparan, di situlah permainan panitia dan orang-orang tua yang bisa menyogok,&quot; tandasnya.



</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNi8yOS8xLzE4MjI5Ni81L3g5MTU3dHE=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

JAKARTA - Anggota Ombudsman RI, Indraza Marzuki Rais mengatakan dirinya menemukan pemalsuan sertifikat silat yang digunakan untuk jalur prestasi non-akademik Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Tak tanggung-tanggung, murid tersebut memiliki enam sertifikat sekaligus.

Awalnya, Indraza menyatakan di era digitalisasi sekarang ini sangat mudah untuk memalsukan sertifikat, termasuk pemalsuan sertifikat perlombaan. Untuk itu, ia mengimbau panitia PPDB untuk mengkonfirmasi sertifikat ke pihak-pihak terkait.



&quot;Di era digital ini sekarang banyak sekali dan gampang untuk mencetak sertifikat-sertifikat kejuaraan, sekarang balik lagi, apakah panitia melakukan verifikasi dan validasi dengan induk olahraga, atau dinas Kebudayaan, tidak,&quot; kata Indraza kepada iNews Media Group, Sabtu (29/6/2024).

Salah satu contoh pemalsuan sertifikat perlombaan yang ia temui di daerah Sumatera Selatan (Sumsel). Di sana, Indraza menyebutkan, terdapat siswa yang memiliki enam sertifikat silat.


BACA JUGA:
Ungkap Celah PPDB, Ombudsman: Sekolah Cuci Rapot agar Muridnya Lolos


Namun, ketika diminta untuk menunjukkan skillnya, siswa yang dimaksud tidak mampu menunjukkan. Bahkan, satu jurus pun tidak ada yang dikuasai.

&quot;Contoh kemarin saya ke Sumsel ada anak yang punya sertifikat juara silat sampai enam, bayangin kalau nilainya (satu sertifikat) 200 maka dia dapat 1.200, tapi satu jurus pun anaknya tidak bisa,&quot; paparnya.


Indraza melanjutkan, PPDB prestasi menjadi jalur yang sangat rawan terjadi 'titipan'. Pasalnya, tidak ada transparansi dalam pemberian nilai bagi siswa lewat jalur prestasi.



&quot;Yang lebih mengerikan lagi prestasi itu menjadi ajang siswa titipan, karena disitulah ketika itu mereka yang memasukkan nilai dan tidak pernah terbuka hasil prestasi anak ini skornya sekian,&quot; ujarnya.



&quot;Tidak transparan, di situlah permainan panitia dan orang-orang tua yang bisa menyogok,&quot; tandasnya.



</content:encoded></item></channel></rss>
