<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>   Dyah Dharanindra Raja Mataram yang Kuasai Sumatera Hingga Jajah Kamboja   </title><description>Nama Dyah Dharanindra Raja Mataram Kuno mungkin masih asing di kalangan masyarakat awam</description><link>https://news.okezone.com/read/2024/07/02/337/3028689/dyah-dharanindra-raja-mataram-yang-kuasai-sumatera-hingga-jajah-kamboja</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2024/07/02/337/3028689/dyah-dharanindra-raja-mataram-yang-kuasai-sumatera-hingga-jajah-kamboja"/><item><title>   Dyah Dharanindra Raja Mataram yang Kuasai Sumatera Hingga Jajah Kamboja   </title><link>https://news.okezone.com/read/2024/07/02/337/3028689/dyah-dharanindra-raja-mataram-yang-kuasai-sumatera-hingga-jajah-kamboja</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2024/07/02/337/3028689/dyah-dharanindra-raja-mataram-yang-kuasai-sumatera-hingga-jajah-kamboja</guid><pubDate>Selasa 02 Juli 2024 07:06 WIB</pubDate><dc:creator>Avirista Midaada</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/07/02/337/3028689/dyah-dharanindra-raja-mataram-yang-kuasai-sumatera-hingga-jajah-kamboja-JoKwYEIJ9G.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Foto: Dok Istimewa/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/07/02/337/3028689/dyah-dharanindra-raja-mataram-yang-kuasai-sumatera-hingga-jajah-kamboja-JoKwYEIJ9G.jpg</image><title>Ilustrasi (Foto: Dok Istimewa/Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNi8xNC82Ni8xODE3NjAvNS94OTBiMGth&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Nama Dyah Dharanindra Raja Mataram Kuno mungkin masih asing di kalangan masyarakat awam. Masyarakat Jawa lebih mengenal nama-nama raja seperti Airlangga, Jayabaya, Ken Arok Kertanagara, hingga Hayam Wuruk, jika itu berbicara mengenai sejarah kerajaan masa Hindu Buddha.
Tak salah memang, raja-raja yang disebutkan tadi memiliki kegemilangan masing-masing di era kerajaan Hindu Buddha. Tapi berbicara siapa sosok yang pertama kali yang melakukan serangan ke Pulau Sumatera adalah Dyah Dharanindra, atau yang juga dikenal Rakai Panunggalan.
&quot;Keberhasilan penaklukkan wilayah Sriwijaya di Pulau Sumatera tergambarkan dalam Prasasti Ligor B,&quot; demikian dikutip dari buku &quot;Hitam Putih Kekuasaan Raja-raja Jawa : Intrik, Konspirasi Perebutan Harta, Tahta, dan Wanita&quot;.

BACA JUGA:
Kisah Raja Sanjaya Bawa Mataram ke Era Kemajuan Namun Berujung Digulingkan&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Memang terdapat prasasti yang sama yakni Prasasti Ligor A yang juga diterbitkan di masa pasca Rakai Panangkaran bertahta itu. Tapi sejarawan Prof. Slamet Muljana menafsirkan kedua Prasasti itu tak sama. Prof. Slamet Muljana lantas memadukan dengan berita pada Prasasti Po Ngar.
Prasasti tersebut menyebutkan bahwa Jawa pernah menjajah Kamboja yang kala itu masih bernama Chen-la sampai tahun 802. Selain itu, Jawa juga pernah menyerang Campa pada tahun 787.

BACA JUGA:
Jay Shima, Penguasa Perempuan Pertama di Jawa yang Miliki Suami Leluhur Raja Mataram


Dengan demikian, Slamet Muljana menyimpulkan bahwa Dyah Dharanindra sebagai raja Jawa yang berhasil menaklukkan Sriwijaya, termasuk daerah bawahannya yakni Semenanjung Malaya (Ligor). Pada Prasasti Ligor B pula ditafsirkan oleh Slamet Muljana sebagai pertanda bahwa Wangsa Sailendra menguasai Sriwijaya.

Prasasti tersebut pula berisi puji-pujian untuk Dharanindra sebagai penjelmaan Wisnu. Oleh Dharanindra, Daerah Ligor dijadikan sebagai pangkalan militer untuk menyerang Campa (787) serta Kamboja. Penaklukan terhadap Sriwijaya, Ligor, Campa, dan Kamboja selaras dengan julukan Dharanindra sebagai &quot;Penumpas Musuh-Musuh Perwira&quot;.

Dari penjelasan Slamet Muljana tersebut bisa disimpulkan bahwa raja Wisnu yang disebut oleh sebagian sejarawan sebagai raja Sriwijaya adalah Dyah Dharanindra. Mengingat arti nama Wisnu dan Dharanindra menurutnya sama-sama bermakna sebagai &quot;Pelindung Jagad&quot;.

</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNi8xNC82Ni8xODE3NjAvNS94OTBiMGth&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Nama Dyah Dharanindra Raja Mataram Kuno mungkin masih asing di kalangan masyarakat awam. Masyarakat Jawa lebih mengenal nama-nama raja seperti Airlangga, Jayabaya, Ken Arok Kertanagara, hingga Hayam Wuruk, jika itu berbicara mengenai sejarah kerajaan masa Hindu Buddha.
Tak salah memang, raja-raja yang disebutkan tadi memiliki kegemilangan masing-masing di era kerajaan Hindu Buddha. Tapi berbicara siapa sosok yang pertama kali yang melakukan serangan ke Pulau Sumatera adalah Dyah Dharanindra, atau yang juga dikenal Rakai Panunggalan.
&quot;Keberhasilan penaklukkan wilayah Sriwijaya di Pulau Sumatera tergambarkan dalam Prasasti Ligor B,&quot; demikian dikutip dari buku &quot;Hitam Putih Kekuasaan Raja-raja Jawa : Intrik, Konspirasi Perebutan Harta, Tahta, dan Wanita&quot;.

BACA JUGA:
Kisah Raja Sanjaya Bawa Mataram ke Era Kemajuan Namun Berujung Digulingkan&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Memang terdapat prasasti yang sama yakni Prasasti Ligor A yang juga diterbitkan di masa pasca Rakai Panangkaran bertahta itu. Tapi sejarawan Prof. Slamet Muljana menafsirkan kedua Prasasti itu tak sama. Prof. Slamet Muljana lantas memadukan dengan berita pada Prasasti Po Ngar.
Prasasti tersebut menyebutkan bahwa Jawa pernah menjajah Kamboja yang kala itu masih bernama Chen-la sampai tahun 802. Selain itu, Jawa juga pernah menyerang Campa pada tahun 787.

BACA JUGA:
Jay Shima, Penguasa Perempuan Pertama di Jawa yang Miliki Suami Leluhur Raja Mataram


Dengan demikian, Slamet Muljana menyimpulkan bahwa Dyah Dharanindra sebagai raja Jawa yang berhasil menaklukkan Sriwijaya, termasuk daerah bawahannya yakni Semenanjung Malaya (Ligor). Pada Prasasti Ligor B pula ditafsirkan oleh Slamet Muljana sebagai pertanda bahwa Wangsa Sailendra menguasai Sriwijaya.

Prasasti tersebut pula berisi puji-pujian untuk Dharanindra sebagai penjelmaan Wisnu. Oleh Dharanindra, Daerah Ligor dijadikan sebagai pangkalan militer untuk menyerang Campa (787) serta Kamboja. Penaklukan terhadap Sriwijaya, Ligor, Campa, dan Kamboja selaras dengan julukan Dharanindra sebagai &quot;Penumpas Musuh-Musuh Perwira&quot;.

Dari penjelasan Slamet Muljana tersebut bisa disimpulkan bahwa raja Wisnu yang disebut oleh sebagian sejarawan sebagai raja Sriwijaya adalah Dyah Dharanindra. Mengingat arti nama Wisnu dan Dharanindra menurutnya sama-sama bermakna sebagai &quot;Pelindung Jagad&quot;.

</content:encoded></item></channel></rss>
