<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Menkes Akui Harga Obat di Indonesia 5 Kali Lebih Mahal dari Malaysia</title><description>Kenapa harga obat di Indonesia sangat mahal?&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2024/07/02/337/3028869/menkes-akui-harga-obat-di-indonesia-5-kali-lebih-mahal-dari-malaysia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2024/07/02/337/3028869/menkes-akui-harga-obat-di-indonesia-5-kali-lebih-mahal-dari-malaysia"/><item><title>Menkes Akui Harga Obat di Indonesia 5 Kali Lebih Mahal dari Malaysia</title><link>https://news.okezone.com/read/2024/07/02/337/3028869/menkes-akui-harga-obat-di-indonesia-5-kali-lebih-mahal-dari-malaysia</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2024/07/02/337/3028869/menkes-akui-harga-obat-di-indonesia-5-kali-lebih-mahal-dari-malaysia</guid><pubDate>Selasa 02 Juli 2024 14:11 WIB</pubDate><dc:creator>Raka Dwi Novianto</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/07/02/337/3028869/menkes-akui-harga-obat-di-indonesia-5-kali-lebih-mahal-dari-malaysia-672Y500CVK.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Menkes Budi Gunadi Sadikin (Foto: MPI/Raka)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/07/02/337/3028869/menkes-akui-harga-obat-di-indonesia-5-kali-lebih-mahal-dari-malaysia-672Y500CVK.jpg</image><title>Menkes Budi Gunadi Sadikin (Foto: MPI/Raka)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNS8yOC8xLzE4MTE1OS81L3g4ejc1Znc=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa harga obat di Indonesia lima kali lebih mahal dibandingkan dengan Malaysia.

Hal tersebut disampaikan Budi usai mengikuti rapat yang dipimpin Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait dengan alat kesehatan dan obat-obatan di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (2/7/2024)

Awalnya, Budi berharap harga alat kesehatan dan obat-obatan dapat disamakan dengan negara-negara tetangga dari Indonesia. Sebab, katanya, saat ini harga alkes dan obat-obatan dinilai mahal.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Hari Bhayangkara Ke-78, SDM Polri Gelar Bakti Sosial dan Kesehatan Se-Indonesia&amp;nbsp; &amp;nbsp;

&quot;Pertama, harga alat kesehatan dan obat-obatan itu bisa sama dong dengan negara tetangga. Kan di kita harga alkes dan obat-obatan mahal,&quot; kata Budi di Kompleks Istana Kepresidenan.

Budi menjelaskan bahwa harga obat di Indonesia lima kali lebih mahal dibandingkan dengan harga obat di Malaysia.

&quot;Tadi juga disampaikan bahwa perbedaan harga obat itu 3 kali, 5 kali dibandingkan dengan di Malaysia misalnya. 300 persen kan, 500 persen,&quot; jelasnya.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Usut Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan APD, KPK Panggil Eks Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes

Budi menyebut bahwa harga obat tinggi dikarenakan adanya inefisiensi dalam perdagangan, masalah tata kelola dan tranparansi.

&quot;Ada biaya-biaya yang mungkin harusnya tidak harus dikeluarkan. Kan ujung-ujungnya yang beli juga kan pemerintah juga kan,&quot; ungkapnya.Budi mengaku telah berkomunikasi dengan asosiasi industri alat kesehatan dan obat-obatan. Mereka, kata Budi, meminta agar kebijakannya dapat disesuaikan agar harga obat menjadi lebih murah.

&quot;Misalkan kayak itu tadi, kita mau dorong industri dalam negeri. Jangan kalo impor barang jadi bea masuknya 0, tapi kemudian biaya komponen impornya karena kita komponennya masih impor justru itu dipajakin, kan jadi kalo industri dalam negeri kita bikin pasti kita tidak kompetitif karena udah ada biaya bea masuk disana,&quot; kata Budi.

&quot;Tapi itu emang butuh koordinasi, yang tau kan menteri teknisnya kan harus ngomong dengan menteri perindustrian yang nanti ngatur. Kemudian juga kita mengusulkan ke kementerian keuangan mengenai policynya seperti apa. Nah koordinasi itu yang di indonesia kan mahal ya,&quot; tandasnya.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNS8yOC8xLzE4MTE1OS81L3g4ejc1Znc=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa harga obat di Indonesia lima kali lebih mahal dibandingkan dengan Malaysia.

Hal tersebut disampaikan Budi usai mengikuti rapat yang dipimpin Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait dengan alat kesehatan dan obat-obatan di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (2/7/2024)

Awalnya, Budi berharap harga alat kesehatan dan obat-obatan dapat disamakan dengan negara-negara tetangga dari Indonesia. Sebab, katanya, saat ini harga alkes dan obat-obatan dinilai mahal.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Hari Bhayangkara Ke-78, SDM Polri Gelar Bakti Sosial dan Kesehatan Se-Indonesia&amp;nbsp; &amp;nbsp;

&quot;Pertama, harga alat kesehatan dan obat-obatan itu bisa sama dong dengan negara tetangga. Kan di kita harga alkes dan obat-obatan mahal,&quot; kata Budi di Kompleks Istana Kepresidenan.

Budi menjelaskan bahwa harga obat di Indonesia lima kali lebih mahal dibandingkan dengan harga obat di Malaysia.

&quot;Tadi juga disampaikan bahwa perbedaan harga obat itu 3 kali, 5 kali dibandingkan dengan di Malaysia misalnya. 300 persen kan, 500 persen,&quot; jelasnya.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Usut Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan APD, KPK Panggil Eks Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes

Budi menyebut bahwa harga obat tinggi dikarenakan adanya inefisiensi dalam perdagangan, masalah tata kelola dan tranparansi.

&quot;Ada biaya-biaya yang mungkin harusnya tidak harus dikeluarkan. Kan ujung-ujungnya yang beli juga kan pemerintah juga kan,&quot; ungkapnya.Budi mengaku telah berkomunikasi dengan asosiasi industri alat kesehatan dan obat-obatan. Mereka, kata Budi, meminta agar kebijakannya dapat disesuaikan agar harga obat menjadi lebih murah.

&quot;Misalkan kayak itu tadi, kita mau dorong industri dalam negeri. Jangan kalo impor barang jadi bea masuknya 0, tapi kemudian biaya komponen impornya karena kita komponennya masih impor justru itu dipajakin, kan jadi kalo industri dalam negeri kita bikin pasti kita tidak kompetitif karena udah ada biaya bea masuk disana,&quot; kata Budi.

&quot;Tapi itu emang butuh koordinasi, yang tau kan menteri teknisnya kan harus ngomong dengan menteri perindustrian yang nanti ngatur. Kemudian juga kita mengusulkan ke kementerian keuangan mengenai policynya seperti apa. Nah koordinasi itu yang di indonesia kan mahal ya,&quot; tandasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
