<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title> MUI Respons Soal Perbedaan 1 Muharram 1446 Hijriah   </title><description>KH M Cholil Nafis menyebut bangsa Indonesia sudah terbiasa hidup dalam perbedaan, terlebih dalam aktivitas keberagamaan.&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2024/07/07/337/3031163/mui-respons-soal-perbedaan-1-muharram-1446-hijriah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2024/07/07/337/3031163/mui-respons-soal-perbedaan-1-muharram-1446-hijriah"/><item><title> MUI Respons Soal Perbedaan 1 Muharram 1446 Hijriah   </title><link>https://news.okezone.com/read/2024/07/07/337/3031163/mui-respons-soal-perbedaan-1-muharram-1446-hijriah</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2024/07/07/337/3031163/mui-respons-soal-perbedaan-1-muharram-1446-hijriah</guid><pubDate>Minggu 07 Juli 2024 23:21 WIB</pubDate><dc:creator>Widya Michella</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/07/07/337/3031163/mui-respons-soal-perbedaan-1-muharram-1446-hijriah-84khoM83wB.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ketua MUI bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Cholil Nafis (foto: dok Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/07/07/337/3031163/mui-respons-soal-perbedaan-1-muharram-1446-hijriah-84khoM83wB.jpg</image><title>Ketua MUI bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Cholil Nafis (foto: dok Okezone)</title></images><description>

JAKARTA - Ketua Majelis Ulama Indonesia Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH M Cholil Nafis menyebut bangsa Indonesia sudah terbiasa hidup dalam perbedaan, terlebih dalam aktivitas keberagamaan.

Menurutnya, justru perbedaan pendapat dalam aktivitas peribadatan itu merupakan bentuk keindahan untuk mempersatukan umat.

Hal ini sebagaimana respons atas  perbedaan dalam penetapan tanggal 1 Muharram 1446 H sebagai momentum pergantian tahun dalam penanggalan Islam.

&quot;Inilah indahnya ketika kita memahami agama, bisa membedakan mana urusan furu' dan urusan ushul, mana itu urusan cabang yang merupakan wilayah perbedaan dan urusan yang wilayah prinsip,&quot; kata Cholil dikutip dalam laman resmi MUI, Minggu (7/7/2024).

BACA JUGA:
Beda dengan Pemerintah, PBNU Tetapkan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1446 Hijriah Jatuh pada 8 Juli

Dengan demikian, semangat hijrah adalah semangat persatuan. Hal-hal yang menjadi wilayah perbedaan jangan sampai menjadi persoalan dan cenderung dibesar-besarkan.

Kiai Cholil pun mengajak umat untuk merefleksikan pergantian tahun baru dengan semangat persatuan. &quot;Semangat hijrah itu adalah semangat persatuan, santai kalau kita paham masalah khilafiyah, kita akan proporsional menyikapi perbedaan,&quot; tambahnya.

Lantas Kiai Cholil menceritakan spirit persatuan dalam hijrah bagaimana para sahabat terdahulu senantiasa membersamai Rasulullah SAW ketika hijrah dari Makkah ke Madinah. Abdurrahman bin Auf, saudagar kaya raya, yang rela meninggalkan hartanya di Makkah hanya untuk menemani Rasulullah SAW dalam hijrahnya.

BACA JUGA:
1 Muharram 1446 H Jatuh pada 7 Juli, Muhammadiyah Akan Ganti Wujudul Hilal ke KHGT


Begitu pula sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq yang rela membersamai Rasulullah SAW dalam perjalanan hijrah dan selama tiga hari terjebak bersama Nabi di Gua Tsur.



Dapat dilihat, lanjutnya, sejatinya semangat hijrah Nabi waktu itu adalah semangat persatuan. Terbukti dengan disambutnya Nabi Muhammad SAW secara riang gembira oleh penduduk Madinah.



&quot;Inilah Bapak Ibu sekalian yang penting untuk kita hayati. Ketika kita hijrah, apakah hijrah kita masih spirit hijrah atau tidak,&quot; pungkasnya.



</description><content:encoded>

JAKARTA - Ketua Majelis Ulama Indonesia Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH M Cholil Nafis menyebut bangsa Indonesia sudah terbiasa hidup dalam perbedaan, terlebih dalam aktivitas keberagamaan.

Menurutnya, justru perbedaan pendapat dalam aktivitas peribadatan itu merupakan bentuk keindahan untuk mempersatukan umat.

Hal ini sebagaimana respons atas  perbedaan dalam penetapan tanggal 1 Muharram 1446 H sebagai momentum pergantian tahun dalam penanggalan Islam.

&quot;Inilah indahnya ketika kita memahami agama, bisa membedakan mana urusan furu' dan urusan ushul, mana itu urusan cabang yang merupakan wilayah perbedaan dan urusan yang wilayah prinsip,&quot; kata Cholil dikutip dalam laman resmi MUI, Minggu (7/7/2024).

BACA JUGA:
Beda dengan Pemerintah, PBNU Tetapkan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1446 Hijriah Jatuh pada 8 Juli

Dengan demikian, semangat hijrah adalah semangat persatuan. Hal-hal yang menjadi wilayah perbedaan jangan sampai menjadi persoalan dan cenderung dibesar-besarkan.

Kiai Cholil pun mengajak umat untuk merefleksikan pergantian tahun baru dengan semangat persatuan. &quot;Semangat hijrah itu adalah semangat persatuan, santai kalau kita paham masalah khilafiyah, kita akan proporsional menyikapi perbedaan,&quot; tambahnya.

Lantas Kiai Cholil menceritakan spirit persatuan dalam hijrah bagaimana para sahabat terdahulu senantiasa membersamai Rasulullah SAW ketika hijrah dari Makkah ke Madinah. Abdurrahman bin Auf, saudagar kaya raya, yang rela meninggalkan hartanya di Makkah hanya untuk menemani Rasulullah SAW dalam hijrahnya.

BACA JUGA:
1 Muharram 1446 H Jatuh pada 7 Juli, Muhammadiyah Akan Ganti Wujudul Hilal ke KHGT


Begitu pula sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq yang rela membersamai Rasulullah SAW dalam perjalanan hijrah dan selama tiga hari terjebak bersama Nabi di Gua Tsur.



Dapat dilihat, lanjutnya, sejatinya semangat hijrah Nabi waktu itu adalah semangat persatuan. Terbukti dengan disambutnya Nabi Muhammad SAW secara riang gembira oleh penduduk Madinah.



&quot;Inilah Bapak Ibu sekalian yang penting untuk kita hayati. Ketika kita hijrah, apakah hijrah kita masih spirit hijrah atau tidak,&quot; pungkasnya.



</content:encoded></item></channel></rss>
