<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bantah Wajibkan Satu Wanita Punya 1 Anak Perempuan, Kepala BKKBN: Jangan Dipelintir!</title><description>Hasto pun menegaskan kata &amp;lsquo;rata-rata&amp;rsquo; satu anak perempuan, bukan mewajibkan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2024/07/08/337/3031599/bantah-wajibkan-satu-wanita-punya-1-anak-perempuan-kepala-bkkbn-jangan-dipelintir</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2024/07/08/337/3031599/bantah-wajibkan-satu-wanita-punya-1-anak-perempuan-kepala-bkkbn-jangan-dipelintir"/><item><title>Bantah Wajibkan Satu Wanita Punya 1 Anak Perempuan, Kepala BKKBN: Jangan Dipelintir!</title><link>https://news.okezone.com/read/2024/07/08/337/3031599/bantah-wajibkan-satu-wanita-punya-1-anak-perempuan-kepala-bkkbn-jangan-dipelintir</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2024/07/08/337/3031599/bantah-wajibkan-satu-wanita-punya-1-anak-perempuan-kepala-bkkbn-jangan-dipelintir</guid><pubDate>Senin 08 Juli 2024 19:28 WIB</pubDate><dc:creator>Binti Mufarida</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/07/08/337/3031599/bantah-wajibkan-satu-wanita-punya-1-anak-perempuan-kepala-bkkbn-jangan-dipelintir-0wuv0aK1VW.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi Wannita Hamil/ist</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/07/08/337/3031599/bantah-wajibkan-satu-wanita-punya-1-anak-perempuan-kepala-bkkbn-jangan-dipelintir-0wuv0aK1VW.jpg</image><title>Ilustrasi Wannita Hamil/ist</title></images><description>
&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNi8yNi8xLzE4MjE3MS81L3g5MHoweDQ=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

JAKARTA - Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo membantah mewajibkan satu wanita bisa melahirkan satu anak perempuan untuk menjaga Penduduk Tumbuh Seimbang (PTS).
&amp;ldquo;Sebetulnya rata-rata perempuan punya dua anak itu penting, tetapi rata-rata (idealnya) satu anak perempuan, bukan mewajibkan. Kalau depan rumah punya anak perempuan dua misalnya, belakang rumah enggak punya anak perempuan tidak masalah, jangan dipelintir ya, rata-rata saja,&amp;rdquo; ujar Hasto dalam keterangan resminya, di Jakarta, Senin (8/7/2024).

BACA JUGA:
Viral Bocah 4 Tahun di Madura Bertunangan, BKKBN : Pernikahannya Dilaksanakan Setelah Lulus Kuliah

Hasto pun mencontohkan daerah seperti Bali, DKI Jakarta, DI Yogyakarta yang Total Fertility Rate (TFR)-nya atau jumlah anak rata- rata yang akan dilahirkan oleh seorang perempuan di bawah 2,1. Sehingga, dia menegaskan bahwa rata-rata perempuan punya dua anak itu penting.

BACA JUGA:
191 Anak di Bojonegoro Menikah Dini, Alasannya Sudah Berzina hingga Hamil&amp;nbsp; &amp;nbsp;

&amp;ldquo;Rata-rata perempuan punya anak sudah tidak dua kalau di daerah tertentu seperti Bali, DKI, DI Yogyakarta (karena TFR sudah di bawah 2,1). Sebetulnya rata-rata perempuan punya dua anak itu penting,&amp;rdquo; ujarnya.
Hasto pun kembali menegaskan kata &amp;lsquo;rata-rata&amp;rsquo; satu anak perempuan, bukan mewajibkan. &amp;ldquo;Kalau depan rumah punya anak perempuannya dua, belakang rumah nggak punya anak perempuan no problem. Jangan dipelintir ya, tapi rata-rata,&amp;rdquo; ucapnya.&amp;ldquo;Di kampung ada perempuan 10. Mestinya besok pada generasi berikutnya minimal juga ada perempuan 10. Tapi rata-rata kan ini. Karena tugas kita menjaga agar pertumbuhan penduduk seimbang,&amp;rdquo; jelas Hasto.



Dia pun mengungkap ancaman minus growth di beberapa Kota dengan TFR di bawah 2,1. &amp;ldquo;Yogya rata-rata melahirkannya sudah di bawah 2. Yogya ini sudah 1,9. Makanya hati-hati daerah-daerah tertentu seperti DKI, Bali, DIY bisa mengalami minus growth,&amp;rdquo; tegas Hasto.



Hal ini, menurutnya, karena rata-rata pendidikan di DI Yogyakarta tinggi, kemudian rata-rata nikah perempuan di DI Yogyakarta sudah diatas 22 tahun. Namun dia juga terus mengingatkan agar perempuan juga tidak terlalu tua saat melahirkan. &amp;ldquo;Perempuan itu usia suburnya setelah umur 35 sudah decline, turun. Telur perempuan kalau sudah 38 tahun itu sudah tinggal 10%, ya hati-hati,&amp;rdquo; pungkasnya.

</description><content:encoded>
&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNi8yNi8xLzE4MjE3MS81L3g5MHoweDQ=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

JAKARTA - Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo membantah mewajibkan satu wanita bisa melahirkan satu anak perempuan untuk menjaga Penduduk Tumbuh Seimbang (PTS).
&amp;ldquo;Sebetulnya rata-rata perempuan punya dua anak itu penting, tetapi rata-rata (idealnya) satu anak perempuan, bukan mewajibkan. Kalau depan rumah punya anak perempuan dua misalnya, belakang rumah enggak punya anak perempuan tidak masalah, jangan dipelintir ya, rata-rata saja,&amp;rdquo; ujar Hasto dalam keterangan resminya, di Jakarta, Senin (8/7/2024).

BACA JUGA:
Viral Bocah 4 Tahun di Madura Bertunangan, BKKBN : Pernikahannya Dilaksanakan Setelah Lulus Kuliah

Hasto pun mencontohkan daerah seperti Bali, DKI Jakarta, DI Yogyakarta yang Total Fertility Rate (TFR)-nya atau jumlah anak rata- rata yang akan dilahirkan oleh seorang perempuan di bawah 2,1. Sehingga, dia menegaskan bahwa rata-rata perempuan punya dua anak itu penting.

BACA JUGA:
191 Anak di Bojonegoro Menikah Dini, Alasannya Sudah Berzina hingga Hamil&amp;nbsp; &amp;nbsp;

&amp;ldquo;Rata-rata perempuan punya anak sudah tidak dua kalau di daerah tertentu seperti Bali, DKI, DI Yogyakarta (karena TFR sudah di bawah 2,1). Sebetulnya rata-rata perempuan punya dua anak itu penting,&amp;rdquo; ujarnya.
Hasto pun kembali menegaskan kata &amp;lsquo;rata-rata&amp;rsquo; satu anak perempuan, bukan mewajibkan. &amp;ldquo;Kalau depan rumah punya anak perempuannya dua, belakang rumah nggak punya anak perempuan no problem. Jangan dipelintir ya, tapi rata-rata,&amp;rdquo; ucapnya.&amp;ldquo;Di kampung ada perempuan 10. Mestinya besok pada generasi berikutnya minimal juga ada perempuan 10. Tapi rata-rata kan ini. Karena tugas kita menjaga agar pertumbuhan penduduk seimbang,&amp;rdquo; jelas Hasto.



Dia pun mengungkap ancaman minus growth di beberapa Kota dengan TFR di bawah 2,1. &amp;ldquo;Yogya rata-rata melahirkannya sudah di bawah 2. Yogya ini sudah 1,9. Makanya hati-hati daerah-daerah tertentu seperti DKI, Bali, DIY bisa mengalami minus growth,&amp;rdquo; tegas Hasto.



Hal ini, menurutnya, karena rata-rata pendidikan di DI Yogyakarta tinggi, kemudian rata-rata nikah perempuan di DI Yogyakarta sudah diatas 22 tahun. Namun dia juga terus mengingatkan agar perempuan juga tidak terlalu tua saat melahirkan. &amp;ldquo;Perempuan itu usia suburnya setelah umur 35 sudah decline, turun. Telur perempuan kalau sudah 38 tahun itu sudah tinggal 10%, ya hati-hati,&amp;rdquo; pungkasnya.

</content:encoded></item></channel></rss>
