<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kesaksian Aep dan Dede di Kasus Vina Cirebon Diduga Palsu, Ini Kata Psikolog Forensik</title><description>Keduanya telah dilaporkan ke Bareskrim Polri atas kasus memberikan keterangan palsu dalam pembunuhan yang terjadi 2016 silam itu.</description><link>https://news.okezone.com/read/2024/07/14/525/3034252/kesaksian-aep-dan-dede-di-kasus-vina-cirebon-diduga-palsu-ini-kata-psikolog-forensik</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2024/07/14/525/3034252/kesaksian-aep-dan-dede-di-kasus-vina-cirebon-diduga-palsu-ini-kata-psikolog-forensik"/><item><title>Kesaksian Aep dan Dede di Kasus Vina Cirebon Diduga Palsu, Ini Kata Psikolog Forensik</title><link>https://news.okezone.com/read/2024/07/14/525/3034252/kesaksian-aep-dan-dede-di-kasus-vina-cirebon-diduga-palsu-ini-kata-psikolog-forensik</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2024/07/14/525/3034252/kesaksian-aep-dan-dede-di-kasus-vina-cirebon-diduga-palsu-ini-kata-psikolog-forensik</guid><pubDate>Minggu 14 Juli 2024 23:36 WIB</pubDate><dc:creator>Irfan Ma'ruf</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/07/14/525/3034252/kesaksian-aep-dan-dede-di-kasus-vina-cirebon-diduga-palsu-ini-kata-psikolog-forensik-Uhip2Vvbbv.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Aep, salah satu saksi kasus pembunuhan Vina dan Eki di Cirebon (Foto: Dok Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/07/14/525/3034252/kesaksian-aep-dan-dede-di-kasus-vina-cirebon-diduga-palsu-ini-kata-psikolog-forensik-Uhip2Vvbbv.jpg</image><title>Aep, salah satu saksi kasus pembunuhan Vina dan Eki di Cirebon (Foto: Dok Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNy8wOS8xLzE4MjY2OC81L3g5MXQ5Y3c=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Psikolog Forensik Reza Indragiri Amriel meminta penyidik Polri mendalami pernyataan Aep dan Dede, dua saksi kasus pembunuhan Vina Dewi Arsita dan Muhammad Rizky alias Eky di Cirebon, Jawa Barat (Jabar). Keduanya telah dilaporkan ke Bareskrim Polri atas kasus memberikan keterangan palsu dalam pembunuhan yang terjadi 2016 silam itu.

&quot;Aep dan Dede perlu dikorek agar memberikan informasi yang berkualitas. Dari sisi psikologi forensik, dalam setting interogasi, informasi yang berkualitas harus lengkap dan akurat,&quot; kata Reza saat dikonfirmasi, Minggu (14/7/2024).

BACA JUGA:
Polri Teliti Laporan 7 Terpidana Kasus Vina soal Dugaan Kesaksian Palsu Aep dan Dede


Reza mengatakan, psikologi forensik sudah sampai pada kesimpulan bahwa barang yang paling potensial merusak proses penegakan hukum dan pengungkapan kebenaran adalah pengakuan. Sebab, pengakuan rentan mengalami distorsi dan fragmentasi.

&quot;Polisi tetap harus memastikan apakah Aep dan Dede memberikan pengakuan yang sebenarnya atau pengakuan palsu false confession (FC). Jangan taken for granted bahwa mereka berdua sudah jujur sejujur-jujurnya,&quot; ujar Reza.

BACA JUGA:
 Kasus Vina Cirebon, Pelaporan Aep dan Dede Bakal Jadi Bukti Baru 7 Terpidana


Salah satu jenis FC ialah voluntary FC. Ia mengungkapkan, bahwa menyebut orang yang memberikan pengakuan palsu seperti itu bisa dilatarbelakangi oleh keinginan menutup-nutupi kesalahan atau pelaku lain.

&quot;Ada pula tipe coerced false confession. Keterangan palsu diberikan karena tekanan pihak eksternal, baik berupa iming-iming maupun intimidasi,&quot; ungkapnya.

Reza mengatakan, kemampuan polisi secara global dalam mengungkap kasus pembunuhan mengalami penurunan. Padahal, kata dia, teknologi investigasi semakin canggih.



Sedangkan dalam kasus Vina Cirebon, dia melihat para pelaku bukan sindikat kriminal. Reza memandang ada kesembronoan sistemik yang bersisian dengan solidaritas membabi buta pada diri para penyidik, sehingga abai terhadap kaidah investigasi saintifik.



&quot;Jadi, kita mau bilang apa? Pelaku memang cerdas, atau pada dasarnya kemampuan investigasi polisi yang perlu di-upgrade?,&quot; tuturnya.

</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNy8wOS8xLzE4MjY2OC81L3g5MXQ5Y3c=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Psikolog Forensik Reza Indragiri Amriel meminta penyidik Polri mendalami pernyataan Aep dan Dede, dua saksi kasus pembunuhan Vina Dewi Arsita dan Muhammad Rizky alias Eky di Cirebon, Jawa Barat (Jabar). Keduanya telah dilaporkan ke Bareskrim Polri atas kasus memberikan keterangan palsu dalam pembunuhan yang terjadi 2016 silam itu.

&quot;Aep dan Dede perlu dikorek agar memberikan informasi yang berkualitas. Dari sisi psikologi forensik, dalam setting interogasi, informasi yang berkualitas harus lengkap dan akurat,&quot; kata Reza saat dikonfirmasi, Minggu (14/7/2024).

BACA JUGA:
Polri Teliti Laporan 7 Terpidana Kasus Vina soal Dugaan Kesaksian Palsu Aep dan Dede


Reza mengatakan, psikologi forensik sudah sampai pada kesimpulan bahwa barang yang paling potensial merusak proses penegakan hukum dan pengungkapan kebenaran adalah pengakuan. Sebab, pengakuan rentan mengalami distorsi dan fragmentasi.

&quot;Polisi tetap harus memastikan apakah Aep dan Dede memberikan pengakuan yang sebenarnya atau pengakuan palsu false confession (FC). Jangan taken for granted bahwa mereka berdua sudah jujur sejujur-jujurnya,&quot; ujar Reza.

BACA JUGA:
 Kasus Vina Cirebon, Pelaporan Aep dan Dede Bakal Jadi Bukti Baru 7 Terpidana


Salah satu jenis FC ialah voluntary FC. Ia mengungkapkan, bahwa menyebut orang yang memberikan pengakuan palsu seperti itu bisa dilatarbelakangi oleh keinginan menutup-nutupi kesalahan atau pelaku lain.

&quot;Ada pula tipe coerced false confession. Keterangan palsu diberikan karena tekanan pihak eksternal, baik berupa iming-iming maupun intimidasi,&quot; ungkapnya.

Reza mengatakan, kemampuan polisi secara global dalam mengungkap kasus pembunuhan mengalami penurunan. Padahal, kata dia, teknologi investigasi semakin canggih.



Sedangkan dalam kasus Vina Cirebon, dia melihat para pelaku bukan sindikat kriminal. Reza memandang ada kesembronoan sistemik yang bersisian dengan solidaritas membabi buta pada diri para penyidik, sehingga abai terhadap kaidah investigasi saintifik.



&quot;Jadi, kita mau bilang apa? Pelaku memang cerdas, atau pada dasarnya kemampuan investigasi polisi yang perlu di-upgrade?,&quot; tuturnya.

</content:encoded></item></channel></rss>
