<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bergerak dari Bawah, Yayasan Agung Jaya Mandiri Soroti Kemiskinan di Tengah Gemerlapnya Bali</title><description>Jumlah penduduk miskin di Karangasem, Bali yang mencapai 27 ribu lebih harus menjadi perhatian sangat serius dari semua pihak.&#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2024/08/08/244/3046101/bergerak-dari-bawah-yayasan-agung-jaya-mandiri-soroti-kemiskinan-di-tengah-gemerlapnya-bali</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2024/08/08/244/3046101/bergerak-dari-bawah-yayasan-agung-jaya-mandiri-soroti-kemiskinan-di-tengah-gemerlapnya-bali"/><item><title>Bergerak dari Bawah, Yayasan Agung Jaya Mandiri Soroti Kemiskinan di Tengah Gemerlapnya Bali</title><link>https://news.okezone.com/read/2024/08/08/244/3046101/bergerak-dari-bawah-yayasan-agung-jaya-mandiri-soroti-kemiskinan-di-tengah-gemerlapnya-bali</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2024/08/08/244/3046101/bergerak-dari-bawah-yayasan-agung-jaya-mandiri-soroti-kemiskinan-di-tengah-gemerlapnya-bali</guid><pubDate>Kamis 08 Agustus 2024 15:06 WIB</pubDate><dc:creator>Arief Setyadi </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/08/08/244/3046101/kemiskinan-tNAr_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Yayasan Agung Jaya Mandiri menggelar sarasehan menyoroti kemiskinan di Bali (Foto: Ist/Dok)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/08/08/244/3046101/kemiskinan-tNAr_large.jpg</image><title>Yayasan Agung Jaya Mandiri menggelar sarasehan menyoroti kemiskinan di Bali (Foto: Ist/Dok)</title></images><description>JAKARTA - Jumlah penduduk miskin di Karangasem, Bali yang mencapai 27 ribu lebih harus menjadi perhatian sangat serius dari semua pihak. Sebab, di Bali seharusnya tidak ada orang miskin.&#13;
&#13;
Demikian dikatakan para pendiri Yayasan Agung Jaya Mandiri menjelang acara peresmian yayasan yang dijadwalkan akan dilaksanakan di Amlapura pada Kamis (8/8/2024) pagi, dikutip dari siaran persnya.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan hingga akhir 2023 angka kemiskinan di &amp;nbsp;Karangasem mencapai 27 ribu lebih atau 6,56% dari 533.742 penduduk Karangasem. Angka tersebut menjadi yang tertinggi di Bali. &amp;nbsp;&#13;
&#13;
Sementara, angka indeks pembangunan manusia (IPM) Karangasem meskipun naik dari 69,48 pada 2022 menjadi 70,09 pada 2023. Namun, angka itu masih merupakan yang terendah di Bali. &amp;nbsp;&#13;
&#13;
IPM adalah ukuran ringkas rata-rata keberhasilan dimensi utama pembangunan manusia, yaitu umur panjang dan hidup sehat, mempunyai pengetahuan dan standar hidup layak. IPM juga menjadi indikator penting untuk mengukur keberhasilan pembangunan kualitas hidup manusia.&#13;
&amp;nbsp;&#13;
Data-data ini tentu harus menjadi salah satu bahan evaluasi paling mendesak bagi seluruh pemangku kepentingan di Karangasem. Sebab, kondisi tersebut menunjukkan kenyataan yang jauh dari visi yang tertuang di dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Daerah Kabupaten Karangasem Tahun 2006- 2025, yakni &amp;ldquo;Terwujudnya Masyarakat Karangasem yang Sejahtera, dan Berkeadilan Berdasarkan Budaya Bali&amp;rdquo; (Peraturan Daerah Kabupaten Karangasem Nomor 7 Tahun 2006).&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Kondisi memprihatinkan di Karangasem ini juga masih jauh dari cita-cita mewujudkan kehidupan Krama Bali yang sejahtera dan bahagia, sakala-niskala, seperti yang tercantum di dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Semesta Berencana Provinsi Bali Tahun 2005-2025.&#13;
&#13;
Ketua Dewan Pembina Yayasan Agung Jaya Mandiri, I Wayan Laba mengatakan, kondisi ini juga dapat disebut sebagai ironi dari gemerlapnya pembangunan pariwisata di Bali, yang semakin jauh dari harapan warga Bali. &amp;nbsp;&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&amp;ldquo;Semestinya di daerah ini tidak ada lagi kemiskinan seperti yang dialami oleh warga di Karangasem. Kontribusi besar devisa melalui sektor pariwisata yang diberikan daerah ini kepada negara seakan hiasan yang tidak menyentuh harkat hidup warga Bali secara adil dan merat,&amp;quot; ujar I Wayan Laba.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Kemiskinan hanyalah salah satu persoalan genting di Bali, khususnya di Karangasem saat ini. Yayasan Agung Jaya Mandiri mencatat ada beberapa persoalan lain, yakni kesenjangan sosial, pengangguran, ketertinggalan di bidang pendidikan, masalah kesehatan, malnutrisi, stunting dan semakin kecilnya peluang kerja dan peluang usaha. &amp;nbsp;&#13;
&#13;
Fokus pembangunan di daerah dan di bidang tertentu yang dianggap berhubungan secara langsung dengan pengembangan pariwisata telah menyebabkan terbengkelainya sektor penting lain, khususnya pembangunan sumber daya manusia dan pertanian. Padahal Karangasem, seperti juga berbagai wilayah lain di Bali memiliki potensi besar dalam sektor SDM dan pertanian sebesar potensi sektor pariwisatanya.&amp;nbsp;Pengembangan sektorsektor ini sangat penting untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal dan memajukan ekonomi daerah. &amp;nbsp;&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Yayasan Agung Jaya Mandiri didirikan dengan visi menjadi yayasan &amp;nbsp;yang menghadirkan solusi konkret bagi warga masyarakat untuk bisa hidup &amp;nbsp;berdaulat, sejahtera, mandiri, berkarakter dan berbudaya, Yayasan menargetkan terciptanya kondisi &amp;nbsp;rakyat sejahtera yang 100 persen terbebas dari kemiskinan dan sanggup hidup mandiri, serta status pendidikan masyarakat 100 persen minimal lulus SMA. Saat ini, angka rata-rata lama belajar warga Karangasem hanya sampai di kelas 5 sekolah dasar (SD).&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Ketua yayasan, I Wayan Swandi, menjelaskan, ada 5 misi utama dari yayasan untuk mewujudkan visi dan target-target yayasan tersebut, yakni menyelenggarakan riset di bidang-bidang yang relevan dan prioritas, seperti pendidikan, &amp;nbsp;sosial, budaya, ekonomi, pertanian, pariwisata dan pembangunan berkelanjutan; Menyelenggarakan kegiatan pemberdayaan, pendampingan, pelatihan, pembinaan masyarakat; membangun ekonomi rakyat melalui pendekatan socio-preneur.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Yayasan juga mendorong pelaksanaan hilirisasi di berbagai bidang, khususnya pertanian untuk &amp;nbsp; meningkatkan nilai tambah produk di berbagai bidang yang dihasilkan warga masyarakat, dan meningkatkan peluangan penyerapan tenaga kerja lokal. Untuk menyiapkan SDM yang &amp;nbsp;&#13;
komparatif dan kompetitif, yayasan mengagendakan berbagai kegiatan pelatihan kreatif sesuai kebutuhan di era digital,&amp;quot; ujar I Wayan Swandi.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&amp;nbsp;&#13;
Pada momen peresmian yayasan ini, tekad untuk selalu berada di tengah warga masyarakat ditunjukkan yayasan dengan pemberian bantuan dan penghargaan kepada pengabdi seni dan budaya, yakni I Nengah Suarya, pengelola Museum Lontar di desa &amp;nbsp;Penaban dan Yasa, seniman dan perajin kain tenun ikat di desa Tenganan, pada Selasa, 6 Agustus 2024. &amp;nbsp;&#13;
&#13;
Puncaknya adalah kegiatan sarasehan yang dilaksanakan di STKIP Karangasem di Amlapura pada Kamis, 8 Agustus 2024 dengan tema, Strategi Pemberdayaan Masyarakat &amp;nbsp;untuk Mewujudkan &amp;nbsp;Karangasem Tangguh, Bangkit dan Mandiri. Sarasehan ini menghadirkan 3 nara sumber ahli untuk mengupas tuntas peluang pemberdayaan SDM Karangasem, poteni pertanian dan potensi pariwisatanya.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Para narasumber itu adalah I Ketut Rai Sudiarditha, I Nyoman Widiarta, dan I Wayan Laba. Sarasehan ini bertujuan mengidentifikasi tantangan dan peluang dalam pembangunan SDM, pertanian, dan pariwisata di Karangasem, menghasilkan rekomendasi kebijakan dan strategi untuk pengembangan ketiga sektor tersebut dan membangun sinergi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat dalam pengembangan daerah.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Di sektor pertanian, I Nyoman Widiarta mengusulkan solusi konkret berupa penerapan pertanian modern 4.0 yang sarat teknologi dan pelaksanaan hilirisasi yang diharapkan akan menciptakan lapangaan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan petani. Sementara di sektor pariwisata, &amp;nbsp;I Wayan Laba, menyampaikan sejumlah alternatif soslusi konkret melalui gagasan modernisasi pengelolaan pariwisata di Karangasem, revitaslisasi sejumlah destinasi utama, mendorong keberpihakan Pemerintah Provinsi Bali agar Karangasem menjadi sejajar dengan kabupaten lain di Bali dan melaksanakan re-branding dengan memanfaatkan perkembangan teknologi digital dan sosial media supaya Karangasem semakin dikenal di dalam maupun di luar negeri.&#13;
&amp;nbsp;&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Jumlah penduduk miskin di Karangasem, Bali yang mencapai 27 ribu lebih harus menjadi perhatian sangat serius dari semua pihak. Sebab, di Bali seharusnya tidak ada orang miskin.&#13;
&#13;
Demikian dikatakan para pendiri Yayasan Agung Jaya Mandiri menjelang acara peresmian yayasan yang dijadwalkan akan dilaksanakan di Amlapura pada Kamis (8/8/2024) pagi, dikutip dari siaran persnya.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan hingga akhir 2023 angka kemiskinan di &amp;nbsp;Karangasem mencapai 27 ribu lebih atau 6,56% dari 533.742 penduduk Karangasem. Angka tersebut menjadi yang tertinggi di Bali. &amp;nbsp;&#13;
&#13;
Sementara, angka indeks pembangunan manusia (IPM) Karangasem meskipun naik dari 69,48 pada 2022 menjadi 70,09 pada 2023. Namun, angka itu masih merupakan yang terendah di Bali. &amp;nbsp;&#13;
&#13;
IPM adalah ukuran ringkas rata-rata keberhasilan dimensi utama pembangunan manusia, yaitu umur panjang dan hidup sehat, mempunyai pengetahuan dan standar hidup layak. IPM juga menjadi indikator penting untuk mengukur keberhasilan pembangunan kualitas hidup manusia.&#13;
&amp;nbsp;&#13;
Data-data ini tentu harus menjadi salah satu bahan evaluasi paling mendesak bagi seluruh pemangku kepentingan di Karangasem. Sebab, kondisi tersebut menunjukkan kenyataan yang jauh dari visi yang tertuang di dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Daerah Kabupaten Karangasem Tahun 2006- 2025, yakni &amp;ldquo;Terwujudnya Masyarakat Karangasem yang Sejahtera, dan Berkeadilan Berdasarkan Budaya Bali&amp;rdquo; (Peraturan Daerah Kabupaten Karangasem Nomor 7 Tahun 2006).&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Kondisi memprihatinkan di Karangasem ini juga masih jauh dari cita-cita mewujudkan kehidupan Krama Bali yang sejahtera dan bahagia, sakala-niskala, seperti yang tercantum di dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Semesta Berencana Provinsi Bali Tahun 2005-2025.&#13;
&#13;
Ketua Dewan Pembina Yayasan Agung Jaya Mandiri, I Wayan Laba mengatakan, kondisi ini juga dapat disebut sebagai ironi dari gemerlapnya pembangunan pariwisata di Bali, yang semakin jauh dari harapan warga Bali. &amp;nbsp;&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&amp;ldquo;Semestinya di daerah ini tidak ada lagi kemiskinan seperti yang dialami oleh warga di Karangasem. Kontribusi besar devisa melalui sektor pariwisata yang diberikan daerah ini kepada negara seakan hiasan yang tidak menyentuh harkat hidup warga Bali secara adil dan merat,&amp;quot; ujar I Wayan Laba.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Kemiskinan hanyalah salah satu persoalan genting di Bali, khususnya di Karangasem saat ini. Yayasan Agung Jaya Mandiri mencatat ada beberapa persoalan lain, yakni kesenjangan sosial, pengangguran, ketertinggalan di bidang pendidikan, masalah kesehatan, malnutrisi, stunting dan semakin kecilnya peluang kerja dan peluang usaha. &amp;nbsp;&#13;
&#13;
Fokus pembangunan di daerah dan di bidang tertentu yang dianggap berhubungan secara langsung dengan pengembangan pariwisata telah menyebabkan terbengkelainya sektor penting lain, khususnya pembangunan sumber daya manusia dan pertanian. Padahal Karangasem, seperti juga berbagai wilayah lain di Bali memiliki potensi besar dalam sektor SDM dan pertanian sebesar potensi sektor pariwisatanya.&amp;nbsp;Pengembangan sektorsektor ini sangat penting untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal dan memajukan ekonomi daerah. &amp;nbsp;&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Yayasan Agung Jaya Mandiri didirikan dengan visi menjadi yayasan &amp;nbsp;yang menghadirkan solusi konkret bagi warga masyarakat untuk bisa hidup &amp;nbsp;berdaulat, sejahtera, mandiri, berkarakter dan berbudaya, Yayasan menargetkan terciptanya kondisi &amp;nbsp;rakyat sejahtera yang 100 persen terbebas dari kemiskinan dan sanggup hidup mandiri, serta status pendidikan masyarakat 100 persen minimal lulus SMA. Saat ini, angka rata-rata lama belajar warga Karangasem hanya sampai di kelas 5 sekolah dasar (SD).&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Ketua yayasan, I Wayan Swandi, menjelaskan, ada 5 misi utama dari yayasan untuk mewujudkan visi dan target-target yayasan tersebut, yakni menyelenggarakan riset di bidang-bidang yang relevan dan prioritas, seperti pendidikan, &amp;nbsp;sosial, budaya, ekonomi, pertanian, pariwisata dan pembangunan berkelanjutan; Menyelenggarakan kegiatan pemberdayaan, pendampingan, pelatihan, pembinaan masyarakat; membangun ekonomi rakyat melalui pendekatan socio-preneur.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Yayasan juga mendorong pelaksanaan hilirisasi di berbagai bidang, khususnya pertanian untuk &amp;nbsp; meningkatkan nilai tambah produk di berbagai bidang yang dihasilkan warga masyarakat, dan meningkatkan peluangan penyerapan tenaga kerja lokal. Untuk menyiapkan SDM yang &amp;nbsp;&#13;
komparatif dan kompetitif, yayasan mengagendakan berbagai kegiatan pelatihan kreatif sesuai kebutuhan di era digital,&amp;quot; ujar I Wayan Swandi.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&amp;nbsp;&#13;
Pada momen peresmian yayasan ini, tekad untuk selalu berada di tengah warga masyarakat ditunjukkan yayasan dengan pemberian bantuan dan penghargaan kepada pengabdi seni dan budaya, yakni I Nengah Suarya, pengelola Museum Lontar di desa &amp;nbsp;Penaban dan Yasa, seniman dan perajin kain tenun ikat di desa Tenganan, pada Selasa, 6 Agustus 2024. &amp;nbsp;&#13;
&#13;
Puncaknya adalah kegiatan sarasehan yang dilaksanakan di STKIP Karangasem di Amlapura pada Kamis, 8 Agustus 2024 dengan tema, Strategi Pemberdayaan Masyarakat &amp;nbsp;untuk Mewujudkan &amp;nbsp;Karangasem Tangguh, Bangkit dan Mandiri. Sarasehan ini menghadirkan 3 nara sumber ahli untuk mengupas tuntas peluang pemberdayaan SDM Karangasem, poteni pertanian dan potensi pariwisatanya.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Para narasumber itu adalah I Ketut Rai Sudiarditha, I Nyoman Widiarta, dan I Wayan Laba. Sarasehan ini bertujuan mengidentifikasi tantangan dan peluang dalam pembangunan SDM, pertanian, dan pariwisata di Karangasem, menghasilkan rekomendasi kebijakan dan strategi untuk pengembangan ketiga sektor tersebut dan membangun sinergi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat dalam pengembangan daerah.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Di sektor pertanian, I Nyoman Widiarta mengusulkan solusi konkret berupa penerapan pertanian modern 4.0 yang sarat teknologi dan pelaksanaan hilirisasi yang diharapkan akan menciptakan lapangaan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan petani. Sementara di sektor pariwisata, &amp;nbsp;I Wayan Laba, menyampaikan sejumlah alternatif soslusi konkret melalui gagasan modernisasi pengelolaan pariwisata di Karangasem, revitaslisasi sejumlah destinasi utama, mendorong keberpihakan Pemerintah Provinsi Bali agar Karangasem menjadi sejajar dengan kabupaten lain di Bali dan melaksanakan re-branding dengan memanfaatkan perkembangan teknologi digital dan sosial media supaya Karangasem semakin dikenal di dalam maupun di luar negeri.&#13;
&amp;nbsp;&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
