<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>KPU Akhirnya Tindaklanjuti Putusan MK karena Takut Sanksi DKPP, Kaesang Gagal Maju Pilkada?  </title><description>Hal itu dilakukan untuk menghindari sanksi oleh Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP).&#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2024/08/22/337/3052974/kpu-akhirnya-tindaklanjuti-putusan-mk-karena-takut-sanksi-dkpp-kaesang-gagal-maju-pilkada</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2024/08/22/337/3052974/kpu-akhirnya-tindaklanjuti-putusan-mk-karena-takut-sanksi-dkpp-kaesang-gagal-maju-pilkada"/><item><title>KPU Akhirnya Tindaklanjuti Putusan MK karena Takut Sanksi DKPP, Kaesang Gagal Maju Pilkada?  </title><link>https://news.okezone.com/read/2024/08/22/337/3052974/kpu-akhirnya-tindaklanjuti-putusan-mk-karena-takut-sanksi-dkpp-kaesang-gagal-maju-pilkada</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2024/08/22/337/3052974/kpu-akhirnya-tindaklanjuti-putusan-mk-karena-takut-sanksi-dkpp-kaesang-gagal-maju-pilkada</guid><pubDate>Kamis 22 Agustus 2024 17:13 WIB</pubDate><dc:creator>Danandaya Arya putra</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/08/22/337/3052974/kpu-VNyM_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">KPU Akhirnya Tindaklanjuti Putusan MK karena Takut Sanksi DKPP/Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/08/22/337/3052974/kpu-VNyM_large.jpg</image><title>KPU Akhirnya Tindaklanjuti Putusan MK karena Takut Sanksi DKPP/Okezone</title></images><description>JAKARTA - Komisi Pemilihan Umum (KPU) akan menindaklanjuti putusan Mahkamah Konstitusi (MK) soal syarat dukungan di pilkada 2024. Namun KPU akan lebih dulu melakukan langkah prosedural dengan melakukan konsultasi ke DPR RI.&#13;
&#13;
Hal itu dilakukan untuk menghindari sanksi oleh Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP).&amp;nbsp; sebab lembaga penyelenggara pemilu itu sempat terkena pelanggaran etik saat putusan MK tak dilakukan konsultasi ke DPR RI.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kami punya pengalaman dulu ada putusan MK dalam proses pilpres, putusan 90 yang saat itu dalam perjalanannya kemudian kami tindak lanjut,&amp;rdquo; kata Ketua KPU RI Mochamad Afifuddin kepada wartawan, Kamis (22/8/2024).&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Tetapi konsultasi tidak sempat dilakukan karena satu dan lain hal dan selanjutnya dalam aduan dan putusan DKPP kami dinyatakan salah dan diberi peringatan keras dan keras terakhir,&amp;quot; sambungnya.&#13;
&#13;
Afif menjelaskan, konsultasi kepada DPR itu dilakukan semata-mata agar KPU taat secara prosedural. Dia menyebut pihaknya akan tetap menindaklanjuti putusan MK.&#13;
&#13;
&amp;quot;Tentu jalur-jalur konsultasi ini semata-mata tertib prosedur sebagimana pengalaman yang kita alami, kita dapati dalam penindaklanjutan putusan MK,&amp;quot; pungkasnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Diketahui, jajaran KPU sempat terkena pelanggaran etik karena melakukan konsultasi DPR pasca putusan MK. Putusan MK kala itu yang tidak dikonsultasi mengenai syarat usia Capres - Cawapres.&#13;
&#13;
Putusan MK itu yang meloloskan putra Presiden Joko Widodo (Jokowi), Gibran Rakabuming Raka menjadi kontestan pilpres 2024.&#13;
&#13;
Diketahui, Putusan Nomor 70/PUU-XXII/2024, membuat Ketua Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kaesang Pangarep terancam gagal maju Pilkada 2024. Putra bungsu Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu terganjal aturan yang baru ditetapkan MK.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Komisi Pemilihan Umum (KPU) akan menindaklanjuti putusan Mahkamah Konstitusi (MK) soal syarat dukungan di pilkada 2024. Namun KPU akan lebih dulu melakukan langkah prosedural dengan melakukan konsultasi ke DPR RI.&#13;
&#13;
Hal itu dilakukan untuk menghindari sanksi oleh Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP).&amp;nbsp; sebab lembaga penyelenggara pemilu itu sempat terkena pelanggaran etik saat putusan MK tak dilakukan konsultasi ke DPR RI.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kami punya pengalaman dulu ada putusan MK dalam proses pilpres, putusan 90 yang saat itu dalam perjalanannya kemudian kami tindak lanjut,&amp;rdquo; kata Ketua KPU RI Mochamad Afifuddin kepada wartawan, Kamis (22/8/2024).&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Tetapi konsultasi tidak sempat dilakukan karena satu dan lain hal dan selanjutnya dalam aduan dan putusan DKPP kami dinyatakan salah dan diberi peringatan keras dan keras terakhir,&amp;quot; sambungnya.&#13;
&#13;
Afif menjelaskan, konsultasi kepada DPR itu dilakukan semata-mata agar KPU taat secara prosedural. Dia menyebut pihaknya akan tetap menindaklanjuti putusan MK.&#13;
&#13;
&amp;quot;Tentu jalur-jalur konsultasi ini semata-mata tertib prosedur sebagimana pengalaman yang kita alami, kita dapati dalam penindaklanjutan putusan MK,&amp;quot; pungkasnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Diketahui, jajaran KPU sempat terkena pelanggaran etik karena melakukan konsultasi DPR pasca putusan MK. Putusan MK kala itu yang tidak dikonsultasi mengenai syarat usia Capres - Cawapres.&#13;
&#13;
Putusan MK itu yang meloloskan putra Presiden Joko Widodo (Jokowi), Gibran Rakabuming Raka menjadi kontestan pilpres 2024.&#13;
&#13;
Diketahui, Putusan Nomor 70/PUU-XXII/2024, membuat Ketua Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kaesang Pangarep terancam gagal maju Pilkada 2024. Putra bungsu Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu terganjal aturan yang baru ditetapkan MK.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
