<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Antisipasi Megathrust, BMKG Bangun Sistem Monitoring Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami</title><description>Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengaku terus memonitor gempa bumi dan peringatan dini tsunami sejak terjadinya gempa dan tsunami Aceh di 2004 lalu.&#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2024/08/24/337/3053603/antisipasi-megathrust-bmkg-bangun-sistem-monitoring-gempa-bumi-dan-peringatan-dini-tsunami</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2024/08/24/337/3053603/antisipasi-megathrust-bmkg-bangun-sistem-monitoring-gempa-bumi-dan-peringatan-dini-tsunami"/><item><title>Antisipasi Megathrust, BMKG Bangun Sistem Monitoring Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami</title><link>https://news.okezone.com/read/2024/08/24/337/3053603/antisipasi-megathrust-bmkg-bangun-sistem-monitoring-gempa-bumi-dan-peringatan-dini-tsunami</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2024/08/24/337/3053603/antisipasi-megathrust-bmkg-bangun-sistem-monitoring-gempa-bumi-dan-peringatan-dini-tsunami</guid><pubDate>Sabtu 24 Agustus 2024 04:00 WIB</pubDate><dc:creator>Atikah Umiyani</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/08/24/337/3053603/kepala_bmkg_dwikorita_karnawati-YQWM_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kepala BMKG Dwikorita Karnawati  (foto: dok MPI)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/08/24/337/3053603/kepala_bmkg_dwikorita_karnawati-YQWM_large.jpg</image><title>Kepala BMKG Dwikorita Karnawati  (foto: dok MPI)</title></images><description>&#13;
&#13;
&#13;
JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengaku terus memonitor gempa bumi dan peringatan dini tsunami sejak terjadinya gempa dan tsunami Aceh di 2004 lalu.&#13;
&#13;
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mengungkapkan sejak 2006, pihaknya mulai membangun sistem monitoring gempa bumi dan peringatan dini tsunami untuk mengantisipasi terjadinya gempa Megathrust dan tsunami seperti di Banda Aceh.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;quot;Jadi caranya terus melakukan monitoring. Seperti saat ini, BMKG terus memonitor gempa-gempa yang terjadi di megathrust tadi, mulai dari yang kekuatannya lemah kurang yaitu dari 5 sampai yang kekuatannya katakanlah sampai 7 gitu ya,&amp;quot; jelasnya dalam acara One On One bertema &amp;quot;Gempa Megahrust Terdeteksi, Tak Bisa Diprediksi&amp;quot; yang disaksikan melalui kanal Youtube SINDOnews, Sabtu (24/8/2024).&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Namun demikian diakui Dwikorita bahwa hingga kini belum ada pakar yang berhasil memprediksi kapan megahtrust ini bakal terjadi. Menurunya, karena hal ini sulit diprediksi, maka Indonesia harus memitigasi dan bersiap-siap seandainya megathrust ini terjadi.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Dwikorita bilang, oleh karenanya penting bagi masyarakat untuk dilatih agar siap siaga apabila terjadi tsunami. Misalnya sudah disusun peta-peta rawan tsunami, disusun peta-peta rawan gempa bumi dimana ada zona merah dan zona aman dalam peta tersebut yang berguna selain untuk peta evakuasi juga yang penting yaitu tata ruang.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;quot;Jadi pemerintah daerah dengan adanya peta-peta bahaya diminta apa diingatkan untuk menyusun tata ruang yang yang aman bencana. Jadi hindari zona merah, membangun jangan pas di bibir pantai ya. Kalau ada apa-apa kan ini kalau terpaksa harus di pantai bangunannya harus tahan gempa,&amp;quot; tegasnya.&#13;
&#13;
&amp;quot;Jadi ada building code mencapai kekuatan gempa kalau di Jawa ini bisa mencapai 8,7, jadi harus dibangun sekuat itu agar tidak roboh bahkan bisa untuk shelter untuk evakuasi sementara tsunami,&amp;quot; pungkas Dwikorita.&amp;nbsp;&#13;
&amp;nbsp;&#13;
</description><content:encoded>&#13;
&#13;
&#13;
JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengaku terus memonitor gempa bumi dan peringatan dini tsunami sejak terjadinya gempa dan tsunami Aceh di 2004 lalu.&#13;
&#13;
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mengungkapkan sejak 2006, pihaknya mulai membangun sistem monitoring gempa bumi dan peringatan dini tsunami untuk mengantisipasi terjadinya gempa Megathrust dan tsunami seperti di Banda Aceh.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;quot;Jadi caranya terus melakukan monitoring. Seperti saat ini, BMKG terus memonitor gempa-gempa yang terjadi di megathrust tadi, mulai dari yang kekuatannya lemah kurang yaitu dari 5 sampai yang kekuatannya katakanlah sampai 7 gitu ya,&amp;quot; jelasnya dalam acara One On One bertema &amp;quot;Gempa Megahrust Terdeteksi, Tak Bisa Diprediksi&amp;quot; yang disaksikan melalui kanal Youtube SINDOnews, Sabtu (24/8/2024).&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Namun demikian diakui Dwikorita bahwa hingga kini belum ada pakar yang berhasil memprediksi kapan megahtrust ini bakal terjadi. Menurunya, karena hal ini sulit diprediksi, maka Indonesia harus memitigasi dan bersiap-siap seandainya megathrust ini terjadi.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Dwikorita bilang, oleh karenanya penting bagi masyarakat untuk dilatih agar siap siaga apabila terjadi tsunami. Misalnya sudah disusun peta-peta rawan tsunami, disusun peta-peta rawan gempa bumi dimana ada zona merah dan zona aman dalam peta tersebut yang berguna selain untuk peta evakuasi juga yang penting yaitu tata ruang.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;quot;Jadi pemerintah daerah dengan adanya peta-peta bahaya diminta apa diingatkan untuk menyusun tata ruang yang yang aman bencana. Jadi hindari zona merah, membangun jangan pas di bibir pantai ya. Kalau ada apa-apa kan ini kalau terpaksa harus di pantai bangunannya harus tahan gempa,&amp;quot; tegasnya.&#13;
&#13;
&amp;quot;Jadi ada building code mencapai kekuatan gempa kalau di Jawa ini bisa mencapai 8,7, jadi harus dibangun sekuat itu agar tidak roboh bahkan bisa untuk shelter untuk evakuasi sementara tsunami,&amp;quot; pungkas Dwikorita.&amp;nbsp;&#13;
&amp;nbsp;&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
