<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pastikan Obat dan Vaksin Mpox Tersedia, Menkes: Masyarakat Tak Usah Khawatir</title><description>Ia pun memastikan vaksin dari penyakit cacar monyet itu tersedia.&#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2024/08/27/337/3054994/pastikan-obat-dan-vaksin-mpox-tersedia-menkes-masyarakat-tak-usah-khawatir</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2024/08/27/337/3054994/pastikan-obat-dan-vaksin-mpox-tersedia-menkes-masyarakat-tak-usah-khawatir"/><item><title>Pastikan Obat dan Vaksin Mpox Tersedia, Menkes: Masyarakat Tak Usah Khawatir</title><link>https://news.okezone.com/read/2024/08/27/337/3054994/pastikan-obat-dan-vaksin-mpox-tersedia-menkes-masyarakat-tak-usah-khawatir</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2024/08/27/337/3054994/pastikan-obat-dan-vaksin-mpox-tersedia-menkes-masyarakat-tak-usah-khawatir</guid><pubDate>Selasa 27 Agustus 2024 15:28 WIB</pubDate><dc:creator>Raka Dwi Novianto</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/08/27/337/3054994/menkes-UtdR_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Menkes Budi Gunadi Sadikin (Foto: Dok Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/08/27/337/3054994/menkes-UtdR_large.jpg</image><title>Menkes Budi Gunadi Sadikin (Foto: Dok Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin memastikan bahwa obat untuk pengobatan Mpox sudah ada di Indonesia. Ia pun memastikan vaksin dari penyakit cacar monyet itu tersedia.&#13;
&#13;
&amp;quot;Bahwa ini obatnya sudah ada, buatan Amerika ada, buatan India ada, Indonesia juga sudah miliki obatnya. Yang ketiga, vaksinnya juga sudah ada,&amp;quot; kata Budi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (27/8/2024).&#13;
&#13;
&amp;quot;Untuk orang-orang yang lahir di bawah tahun 70an kayak saya kan dulu pernah divaksin cacar, itu memberikan proteksi. Jadi yang relatif usianya tua kaya saya itu terproteksi. Nah untuk yang muda-muda, vaksinnya generasi yang barunya sudah ada, satu diproduksi dari Denmark, satu diproduksi dari Jepang,&amp;quot; imbuhnya.&#13;
&#13;
Budi meminta, masyarakat untuk tidak khawatir secara berlebihan. Sebab, dirinya memastikan bahwa obat sudah tersedia di seluruh rumah sakit di Indonesia.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;quot;Obat-obatan rumah sakit sudah kita persiapkan dan teman-teman wartawan bisa bantu mengedukasi masyarakat. Kita waspada, tapi tidak usah khawatir berlebihan,&amp;quot; kata Budi.&#13;
&#13;
Budi menjelaskan bahwa penularan Mpox seperti HIV dan Aids, di mana harus ada kontak fisik. Dirinya juga menyebut bahwa mewabahnya Mpox di Afrika dikarenakan anak-anak maupun orang dewasa berbagai baju ataupun handuk dengan tempat tidur yang sama.&#13;
&#13;
&amp;quot;Buat pengetahuan teman-teman, penularannya ini mirip HIV sama AIDS. Jadi terjadi di kelompok-kelompok tertentu dan hampir seluruhnya terjadi karena kontak fisik,&amp;quot; kata Budi.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;quot;Tadi Bapak Presiden sempat tanya &amp;#39;Pak Menkes kalau ini mirip HIV-AIDS penularannya kontaknya fisik, kok banyak anak-anak banyak anak-anak?&amp;#39; karena di Afrika itu mereka sharing baju, sharing anduk, sharing selimut tidur di tempat tidur yang sama. Jadi kalau orangtuanya kena, anak-anak di Afrika itu jadi tertular karena kan cairannya juga akhirnya kena ke anaknya. Itu sebabnya kenapa di Afrika banyak anak-anak,&amp;quot; sambungnya.&#13;
&#13;
Saat ini, kata Budi, pemerintah akan mengaktifkan kembali Electronic Surveillance Card yang menurutnya seperti peduli lindungi saat pandemi Covid-19. Nantinya para turis yang berasal dari luar negeri akan diberikan QR Code dengan menampilkan kode warna kuning, hijau dan merah.&#13;
&#13;
&amp;quot;Jadi orang-orang datang dari luar negeri dia isi nanti dikasih QR Code kalau dia kuning, hijau, merah. Kalau hijau ya enggak usah diapa-apain. Kalau kuning, merah kita lihat suhunya, kalau ternyata memang tinggi dan ada ruam-ruam nanti diambil PCR. Kita sudah siapkan 2 mesin PCR yang bisa 30-40 menit di Jakarta, Cengkareng dan di Bali. Karena ada acara Asia-Afrika Leaders Meeting,&amp;quot; tuturnya.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin memastikan bahwa obat untuk pengobatan Mpox sudah ada di Indonesia. Ia pun memastikan vaksin dari penyakit cacar monyet itu tersedia.&#13;
&#13;
&amp;quot;Bahwa ini obatnya sudah ada, buatan Amerika ada, buatan India ada, Indonesia juga sudah miliki obatnya. Yang ketiga, vaksinnya juga sudah ada,&amp;quot; kata Budi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (27/8/2024).&#13;
&#13;
&amp;quot;Untuk orang-orang yang lahir di bawah tahun 70an kayak saya kan dulu pernah divaksin cacar, itu memberikan proteksi. Jadi yang relatif usianya tua kaya saya itu terproteksi. Nah untuk yang muda-muda, vaksinnya generasi yang barunya sudah ada, satu diproduksi dari Denmark, satu diproduksi dari Jepang,&amp;quot; imbuhnya.&#13;
&#13;
Budi meminta, masyarakat untuk tidak khawatir secara berlebihan. Sebab, dirinya memastikan bahwa obat sudah tersedia di seluruh rumah sakit di Indonesia.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;quot;Obat-obatan rumah sakit sudah kita persiapkan dan teman-teman wartawan bisa bantu mengedukasi masyarakat. Kita waspada, tapi tidak usah khawatir berlebihan,&amp;quot; kata Budi.&#13;
&#13;
Budi menjelaskan bahwa penularan Mpox seperti HIV dan Aids, di mana harus ada kontak fisik. Dirinya juga menyebut bahwa mewabahnya Mpox di Afrika dikarenakan anak-anak maupun orang dewasa berbagai baju ataupun handuk dengan tempat tidur yang sama.&#13;
&#13;
&amp;quot;Buat pengetahuan teman-teman, penularannya ini mirip HIV sama AIDS. Jadi terjadi di kelompok-kelompok tertentu dan hampir seluruhnya terjadi karena kontak fisik,&amp;quot; kata Budi.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;quot;Tadi Bapak Presiden sempat tanya &amp;#39;Pak Menkes kalau ini mirip HIV-AIDS penularannya kontaknya fisik, kok banyak anak-anak banyak anak-anak?&amp;#39; karena di Afrika itu mereka sharing baju, sharing anduk, sharing selimut tidur di tempat tidur yang sama. Jadi kalau orangtuanya kena, anak-anak di Afrika itu jadi tertular karena kan cairannya juga akhirnya kena ke anaknya. Itu sebabnya kenapa di Afrika banyak anak-anak,&amp;quot; sambungnya.&#13;
&#13;
Saat ini, kata Budi, pemerintah akan mengaktifkan kembali Electronic Surveillance Card yang menurutnya seperti peduli lindungi saat pandemi Covid-19. Nantinya para turis yang berasal dari luar negeri akan diberikan QR Code dengan menampilkan kode warna kuning, hijau dan merah.&#13;
&#13;
&amp;quot;Jadi orang-orang datang dari luar negeri dia isi nanti dikasih QR Code kalau dia kuning, hijau, merah. Kalau hijau ya enggak usah diapa-apain. Kalau kuning, merah kita lihat suhunya, kalau ternyata memang tinggi dan ada ruam-ruam nanti diambil PCR. Kita sudah siapkan 2 mesin PCR yang bisa 30-40 menit di Jakarta, Cengkareng dan di Bali. Karena ada acara Asia-Afrika Leaders Meeting,&amp;quot; tuturnya.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
