<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Musim Kemarau, 856 Hektare Sawah di Kabupaten Bandung Alami Kekeringan</title><description>Musim kemarau tahun ini memberikan dampak besar pada sektor pertanian di Kabupaten Bandung, dengan 856 hektar sawah di lima kecamatan mengalami kekeringan.&#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2024/09/07/525/3059924/musim-kemarau-856-hektare-sawah-di-kabupaten-bandung-alami-kekeringan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2024/09/07/525/3059924/musim-kemarau-856-hektare-sawah-di-kabupaten-bandung-alami-kekeringan"/><item><title>Musim Kemarau, 856 Hektare Sawah di Kabupaten Bandung Alami Kekeringan</title><link>https://news.okezone.com/read/2024/09/07/525/3059924/musim-kemarau-856-hektare-sawah-di-kabupaten-bandung-alami-kekeringan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2024/09/07/525/3059924/musim-kemarau-856-hektare-sawah-di-kabupaten-bandung-alami-kekeringan</guid><pubDate>Sabtu 07 September 2024 14:44 WIB</pubDate><dc:creator>Agi Ilman</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/09/07/525/3059924/kekeringan-A7og_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kekeringan (foto: dok Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/09/07/525/3059924/kekeringan-A7og_large.jpg</image><title>Kekeringan (foto: dok Okezone)</title></images><description>&#13;
&#13;
BANDUNG - Musim kemarau tahun ini memberikan dampak besar pada sektor pertanian di Kabupaten Bandung, dengan 856 hektar sawah di lima kecamatan mengalami kekeringan.&#13;
&#13;
Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung, Ningning Hendarsah, yang menyebut situasi sangat mengkhawatirkan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Lima kecamatan yang terdampak adalah Solokan Jeruk, Majalaya, Ciparay, Cileunyi, dan Rancaekek. Kekeringan ini mempengaruhi berbagai fase pertumbuhan tanaman, mulai dari yang baru ditanam hingga yang sudah dalam fase generatif,&amp;rdquo; ujar Ningning saat dikonfirmasi, Sabtu (7/9/2024).&#13;
&#13;
Ia mengungkapkan, bahwa lebih dari 800 hektar sawah terancam gagal panen atau puso. &amp;ldquo;Sebagian besar sawah yang terkena dampak berada di wilayah timur Kabupaten Bandung,&amp;rdquo; tambah Ningning.&#13;
&#13;
Meski begitu, wilayah seperti Pasir Jambu, Ciwidey, dan Rancabali masih dalam kondisi yang relatif baik. Ningning juga mencatat bahwa beberapa area seperti Cadas Gantung masih dapat mengandalkan sistem irigasi teknis.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Untuk wilayah-wilayah yang masih aman, seperti Cadas Gantung, masih ada pasokan air berkat sistem irigasi teknis,&amp;rdquo; kata Ningning.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Namun, ia menekankan bahwa irigasi teknis tidak dapat menjangkau seluruh area yang terdampak kekeringan. Terkait asuransi, Ningning menyebutkan bahwa tidak ada perlindungan untuk tanaman yang sudah berada di fase generatif.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Asuransi hanya berlaku untuk tanaman di fase awal tanam hingga usia tiga bulan. Setelah itu, tidak ada asuransi yang bisa diberikan,&amp;rdquo; jelasnya.&#13;
&#13;
Untuk mengatasi masalah ini, pihak Dinas Pertanian telah melakukan berbagai langkah mitigasi, termasuk pompanisasi dan penyediaan sumur.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kami telah melakukan pompanisasi, menyediakan sumur dalam, dan sumur dangkal untuk sawah yang menggunakan irigasi teknis,&amp;rdquo; tambah Ningning.&#13;
&#13;
Namun, menurut Ninging, beberapa sungai utama yang biasanya digunakan untuk irigasi mengalami penurunan debit air, seperti Sungai Cirasea, Citarum, dan Citarik.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kami masih mengandalkan tadah hujan dan menunggu proyeksi pembangunan master plan irigasi,&amp;rdquo; ungkapnya.&#13;
&#13;
Ningning berharap pembangunan master irigasi dapat dimulai pada tahun 2025. &amp;ldquo;Saat ini, kami masih menunggu pemetaan yang akan dilakukan bersama pihak PUTR. Meskipun ada anggaran, realisasi terpaksa ditunda karena refocusing anggaran. Kami berharap proyek ini bisa dilaksanakan pada tahun 2025,&amp;rdquo; tutup Ningning.&#13;
&amp;nbsp;&#13;
</description><content:encoded>&#13;
&#13;
BANDUNG - Musim kemarau tahun ini memberikan dampak besar pada sektor pertanian di Kabupaten Bandung, dengan 856 hektar sawah di lima kecamatan mengalami kekeringan.&#13;
&#13;
Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung, Ningning Hendarsah, yang menyebut situasi sangat mengkhawatirkan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Lima kecamatan yang terdampak adalah Solokan Jeruk, Majalaya, Ciparay, Cileunyi, dan Rancaekek. Kekeringan ini mempengaruhi berbagai fase pertumbuhan tanaman, mulai dari yang baru ditanam hingga yang sudah dalam fase generatif,&amp;rdquo; ujar Ningning saat dikonfirmasi, Sabtu (7/9/2024).&#13;
&#13;
Ia mengungkapkan, bahwa lebih dari 800 hektar sawah terancam gagal panen atau puso. &amp;ldquo;Sebagian besar sawah yang terkena dampak berada di wilayah timur Kabupaten Bandung,&amp;rdquo; tambah Ningning.&#13;
&#13;
Meski begitu, wilayah seperti Pasir Jambu, Ciwidey, dan Rancabali masih dalam kondisi yang relatif baik. Ningning juga mencatat bahwa beberapa area seperti Cadas Gantung masih dapat mengandalkan sistem irigasi teknis.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Untuk wilayah-wilayah yang masih aman, seperti Cadas Gantung, masih ada pasokan air berkat sistem irigasi teknis,&amp;rdquo; kata Ningning.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Namun, ia menekankan bahwa irigasi teknis tidak dapat menjangkau seluruh area yang terdampak kekeringan. Terkait asuransi, Ningning menyebutkan bahwa tidak ada perlindungan untuk tanaman yang sudah berada di fase generatif.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Asuransi hanya berlaku untuk tanaman di fase awal tanam hingga usia tiga bulan. Setelah itu, tidak ada asuransi yang bisa diberikan,&amp;rdquo; jelasnya.&#13;
&#13;
Untuk mengatasi masalah ini, pihak Dinas Pertanian telah melakukan berbagai langkah mitigasi, termasuk pompanisasi dan penyediaan sumur.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kami telah melakukan pompanisasi, menyediakan sumur dalam, dan sumur dangkal untuk sawah yang menggunakan irigasi teknis,&amp;rdquo; tambah Ningning.&#13;
&#13;
Namun, menurut Ninging, beberapa sungai utama yang biasanya digunakan untuk irigasi mengalami penurunan debit air, seperti Sungai Cirasea, Citarum, dan Citarik.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kami masih mengandalkan tadah hujan dan menunggu proyeksi pembangunan master plan irigasi,&amp;rdquo; ungkapnya.&#13;
&#13;
Ningning berharap pembangunan master irigasi dapat dimulai pada tahun 2025. &amp;ldquo;Saat ini, kami masih menunggu pemetaan yang akan dilakukan bersama pihak PUTR. Meskipun ada anggaran, realisasi terpaksa ditunda karena refocusing anggaran. Kami berharap proyek ini bisa dilaksanakan pada tahun 2025,&amp;rdquo; tutup Ningning.&#13;
&amp;nbsp;&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
