<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Siap-Siap! Pulau Jawa Akan Diguyur Hujan Sepekan Kedepan, Ini Penyebabnya</title><description>Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan prakiraan cuaca periode 24 hingga 30 September 2024. Dimana, Pulau Jawa berpotensi diguyur hujan sepekan kedepan.&#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2024/09/24/337/3066831/siap-siap-pulau-jawa-akan-diguyur-hujan-sepekan-kedepan-ini-penyebabnya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2024/09/24/337/3066831/siap-siap-pulau-jawa-akan-diguyur-hujan-sepekan-kedepan-ini-penyebabnya"/><item><title>Siap-Siap! Pulau Jawa Akan Diguyur Hujan Sepekan Kedepan, Ini Penyebabnya</title><link>https://news.okezone.com/read/2024/09/24/337/3066831/siap-siap-pulau-jawa-akan-diguyur-hujan-sepekan-kedepan-ini-penyebabnya</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2024/09/24/337/3066831/siap-siap-pulau-jawa-akan-diguyur-hujan-sepekan-kedepan-ini-penyebabnya</guid><pubDate>Selasa 24 September 2024 09:04 WIB</pubDate><dc:creator>Binti Mufarida</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/09/24/337/3066831/ilustrasi-AIOH_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/09/24/337/3066831/ilustrasi-AIOH_large.jpg</image><title>Ilustrasi</title></images><description>JAKARTA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan prakiraan cuaca periode 24 hingga 30 September 2024. Dimana, Pulau Jawa berpotensi diguyur hujan sepekan kedepan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Dalam sepekan ke depan, meskipun angin monsun timuran masih aktif, kelembaban relatif yang tinggi di wilayah Jawa diperkirakan akan meningkatkan potensi hujan,&amp;rdquo; tulis BMKG dalam keterangan resminya, Selasa (24/9/2024).&#13;
&#13;
BMKG mengungkapkan udara lembab yang terbawa dari Samudra Hindia, ditambah dengan suhu permukaan laut yang hangat, dapat mendukung pembentukan awan konvektif, terutama di bagian barat dan tengah Jawa.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kondisi ini menciptakan peluang hujan dengan intensitas ringan hingga sedang, bahkan disertai petir di beberapa daerah, terutama pada sore hingga malam hari. Meskipun aliran udara monsun timuran biasanya kering, kelembaban tinggi ini berperan penting dalam memicu peningkatan intensitas curah hujan di wilayah Jawa,&amp;rdquo; papar BMKG.&#13;
&#13;
Analisis dan pantauan BMKG, bahwa dalam sepekan terakhir curah hujan di beberapa wilayah di Indonesia bagian utara masih cukup tinggi pada sepekan terakhir. Tercatat hujan dengan intensitas sangat lebat (100-150 mm/hari) dan lebat (50-100 mm/hari) terjadi pada tanggal 17 September 2024 di Stasiun Meteorologi Sultan Iskandar Muda (69.0 mm/hari) dan Stasiun Meteorologi Cut Nyak Dhien Nagan Raya (56.0 mm/hari), Aceh serta di Stasiun Meteorologi Eltari (63.0 mm/hari) dan Stasiun Meteorologi David Constatjin Saudele (60.0 mm.hari), Nusa Tenggara Timur.&#13;
&#13;
Tanggal 18 September 2024 di Stasiun Meteorologi Mozez Kilangin, Papua Tengah (71.0 mm/hari). Tanggal 20 September 2024 di Kalimantan Utara yaitu Stasiun Meteorologi Kalimarau (139.0 mm/hari), Stasiun Meteorologi Tanjung Harapan (92.0mm/hari), Stasiun Meteorologi Juwata (86.0 mm/hari), Stasiun Mozez Kilangin, Papua Tengah(73.0mm/hari), dan Stasiun Meteorologi Cut Nyak Dhien Nagan Raya, Aceh (51.0 mm/hari).&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Tanggal 22 September 2024 di Stasiun Meteorologi Nangapinoh (80.0 mm/hari) dan Stasiun Meteorologi Pangsuma (60.0 mm/hari), Kalimantan Barat, Stasiun Meteorologi Tjilik Riwut, Kalimantan Tengah (74.0 mm/hari), dan Stasiun Meteorologi Kasiguncu, Sulawesi Tengah (69.0 mm/hari).&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
BMKG juga mendeteksi Bibit siklon tropis 93W yang berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan, terpantau berada di Laut China Selatan yang membentuk daerah pertemuan angin (konfluensi) memanjang di Laut China Selatan. Sirkulasi siklonik lainnya terpantau di Samudera Pasifik utara Maluku Utara yang membentuk daerah perlambatan kecepatan angin (konvergensi) memanjang di sekitar Papua Barat bagian selatan hingga utara.&#13;
&#13;
Secara umum, BMKG mengungkapkan kombinasi fenomena-fenomena cuaca tersebut diprakirakan menimbulkan potensi cuaca signifikan dalam periode 24 hingga 30 September 2024, berupa hujan sedang hingga lebat disertai kilat/petir dan angin kencang di:&amp;nbsp;&#13;
&#13;
1. &amp;nbsp; &amp;nbsp; Aceh&#13;
&#13;
2. &amp;nbsp; &amp;nbsp; Sumatra Utara&#13;
&#13;
3. &amp;nbsp; &amp;nbsp; Sumatra Barat&#13;
&#13;
4. &amp;nbsp; &amp;nbsp; Riau&#13;
&#13;
5. &amp;nbsp; &amp;nbsp; Kep. Riau&#13;
&#13;
6. &amp;nbsp; &amp;nbsp; Jambi&#13;
&#13;
7. &amp;nbsp; &amp;nbsp; Sumatera Selatan&#13;
&#13;
8. &amp;nbsp; &amp;nbsp; Kep. Bangka Belitung&#13;
&#13;
9. &amp;nbsp; &amp;nbsp; Bengkulu&#13;
&#13;
10. &amp;nbsp;Lampung&#13;
&#13;
11. &amp;nbsp;Banten&#13;
&#13;
12. &amp;nbsp;DKI Jakarta&#13;
&#13;
13. &amp;nbsp;Jawa Barat&#13;
&#13;
14. &amp;nbsp;Jawa Tengah&#13;
&#13;
15. &amp;nbsp;D.I Yogyakarta&#13;
&#13;
16. &amp;nbsp;Jawa Timur&#13;
&#13;
17. &amp;nbsp;Bali&#13;
&#13;
18. &amp;nbsp;NTB&#13;
&#13;
19. &amp;nbsp;NTT&#13;
&#13;
20. &amp;nbsp;Kalimantan Barat&#13;
&#13;
21. &amp;nbsp;Kalimantan Tengah&#13;
&#13;
22. &amp;nbsp;Kalimantan Timur&#13;
&#13;
23. &amp;nbsp;Kalimantan Utara&#13;
&#13;
24. &amp;nbsp;Kalimantan Selatan&#13;
&#13;
25. &amp;nbsp;Sulawesi Utara&#13;
&#13;
26. &amp;nbsp;Gorontalo&#13;
&#13;
27. &amp;nbsp;Sulawesi Tengah&#13;
&#13;
28. &amp;nbsp;Sulawesi Barat&#13;
&#13;
29. &amp;nbsp;Sulawesi Selatan&#13;
&#13;
30. &amp;nbsp;Maluku Utara&#13;
&#13;
31. &amp;nbsp;Maluku&#13;
&#13;
32. &amp;nbsp;Papua Barat Daya&#13;
&#13;
33. &amp;nbsp;Papua Barat&#13;
&#13;
34. &amp;nbsp;Papua Tengah&#13;
&#13;
35. &amp;nbsp;Papua&#13;
&#13;
36. &amp;nbsp;Papua Pegunungan&#13;
&#13;
37. &amp;nbsp;Papua Selatan.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan prakiraan cuaca periode 24 hingga 30 September 2024. Dimana, Pulau Jawa berpotensi diguyur hujan sepekan kedepan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Dalam sepekan ke depan, meskipun angin monsun timuran masih aktif, kelembaban relatif yang tinggi di wilayah Jawa diperkirakan akan meningkatkan potensi hujan,&amp;rdquo; tulis BMKG dalam keterangan resminya, Selasa (24/9/2024).&#13;
&#13;
BMKG mengungkapkan udara lembab yang terbawa dari Samudra Hindia, ditambah dengan suhu permukaan laut yang hangat, dapat mendukung pembentukan awan konvektif, terutama di bagian barat dan tengah Jawa.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kondisi ini menciptakan peluang hujan dengan intensitas ringan hingga sedang, bahkan disertai petir di beberapa daerah, terutama pada sore hingga malam hari. Meskipun aliran udara monsun timuran biasanya kering, kelembaban tinggi ini berperan penting dalam memicu peningkatan intensitas curah hujan di wilayah Jawa,&amp;rdquo; papar BMKG.&#13;
&#13;
Analisis dan pantauan BMKG, bahwa dalam sepekan terakhir curah hujan di beberapa wilayah di Indonesia bagian utara masih cukup tinggi pada sepekan terakhir. Tercatat hujan dengan intensitas sangat lebat (100-150 mm/hari) dan lebat (50-100 mm/hari) terjadi pada tanggal 17 September 2024 di Stasiun Meteorologi Sultan Iskandar Muda (69.0 mm/hari) dan Stasiun Meteorologi Cut Nyak Dhien Nagan Raya (56.0 mm/hari), Aceh serta di Stasiun Meteorologi Eltari (63.0 mm/hari) dan Stasiun Meteorologi David Constatjin Saudele (60.0 mm.hari), Nusa Tenggara Timur.&#13;
&#13;
Tanggal 18 September 2024 di Stasiun Meteorologi Mozez Kilangin, Papua Tengah (71.0 mm/hari). Tanggal 20 September 2024 di Kalimantan Utara yaitu Stasiun Meteorologi Kalimarau (139.0 mm/hari), Stasiun Meteorologi Tanjung Harapan (92.0mm/hari), Stasiun Meteorologi Juwata (86.0 mm/hari), Stasiun Mozez Kilangin, Papua Tengah(73.0mm/hari), dan Stasiun Meteorologi Cut Nyak Dhien Nagan Raya, Aceh (51.0 mm/hari).&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Tanggal 22 September 2024 di Stasiun Meteorologi Nangapinoh (80.0 mm/hari) dan Stasiun Meteorologi Pangsuma (60.0 mm/hari), Kalimantan Barat, Stasiun Meteorologi Tjilik Riwut, Kalimantan Tengah (74.0 mm/hari), dan Stasiun Meteorologi Kasiguncu, Sulawesi Tengah (69.0 mm/hari).&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
BMKG juga mendeteksi Bibit siklon tropis 93W yang berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan, terpantau berada di Laut China Selatan yang membentuk daerah pertemuan angin (konfluensi) memanjang di Laut China Selatan. Sirkulasi siklonik lainnya terpantau di Samudera Pasifik utara Maluku Utara yang membentuk daerah perlambatan kecepatan angin (konvergensi) memanjang di sekitar Papua Barat bagian selatan hingga utara.&#13;
&#13;
Secara umum, BMKG mengungkapkan kombinasi fenomena-fenomena cuaca tersebut diprakirakan menimbulkan potensi cuaca signifikan dalam periode 24 hingga 30 September 2024, berupa hujan sedang hingga lebat disertai kilat/petir dan angin kencang di:&amp;nbsp;&#13;
&#13;
1. &amp;nbsp; &amp;nbsp; Aceh&#13;
&#13;
2. &amp;nbsp; &amp;nbsp; Sumatra Utara&#13;
&#13;
3. &amp;nbsp; &amp;nbsp; Sumatra Barat&#13;
&#13;
4. &amp;nbsp; &amp;nbsp; Riau&#13;
&#13;
5. &amp;nbsp; &amp;nbsp; Kep. Riau&#13;
&#13;
6. &amp;nbsp; &amp;nbsp; Jambi&#13;
&#13;
7. &amp;nbsp; &amp;nbsp; Sumatera Selatan&#13;
&#13;
8. &amp;nbsp; &amp;nbsp; Kep. Bangka Belitung&#13;
&#13;
9. &amp;nbsp; &amp;nbsp; Bengkulu&#13;
&#13;
10. &amp;nbsp;Lampung&#13;
&#13;
11. &amp;nbsp;Banten&#13;
&#13;
12. &amp;nbsp;DKI Jakarta&#13;
&#13;
13. &amp;nbsp;Jawa Barat&#13;
&#13;
14. &amp;nbsp;Jawa Tengah&#13;
&#13;
15. &amp;nbsp;D.I Yogyakarta&#13;
&#13;
16. &amp;nbsp;Jawa Timur&#13;
&#13;
17. &amp;nbsp;Bali&#13;
&#13;
18. &amp;nbsp;NTB&#13;
&#13;
19. &amp;nbsp;NTT&#13;
&#13;
20. &amp;nbsp;Kalimantan Barat&#13;
&#13;
21. &amp;nbsp;Kalimantan Tengah&#13;
&#13;
22. &amp;nbsp;Kalimantan Timur&#13;
&#13;
23. &amp;nbsp;Kalimantan Utara&#13;
&#13;
24. &amp;nbsp;Kalimantan Selatan&#13;
&#13;
25. &amp;nbsp;Sulawesi Utara&#13;
&#13;
26. &amp;nbsp;Gorontalo&#13;
&#13;
27. &amp;nbsp;Sulawesi Tengah&#13;
&#13;
28. &amp;nbsp;Sulawesi Barat&#13;
&#13;
29. &amp;nbsp;Sulawesi Selatan&#13;
&#13;
30. &amp;nbsp;Maluku Utara&#13;
&#13;
31. &amp;nbsp;Maluku&#13;
&#13;
32. &amp;nbsp;Papua Barat Daya&#13;
&#13;
33. &amp;nbsp;Papua Barat&#13;
&#13;
34. &amp;nbsp;Papua Tengah&#13;
&#13;
35. &amp;nbsp;Papua&#13;
&#13;
36. &amp;nbsp;Papua Pegunungan&#13;
&#13;
37. &amp;nbsp;Papua Selatan.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
