<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Imbas Lockdown Covid Buruk pada Penglihatan, Satu dari Tiga Anak Alami Rabun Jauh</title><description>Paraguay dan Uganda, sekitar 1%, memiliki beberapa tingkat miopia terendah, dengan Inggris, Irlandia, dan Amerika Serikat (AS) semuanya sekitar 15%.&#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2024/09/25/18/3067477/imbas-lockdown-covid-buruk-pada-penglihatan-satu-dari-tiga-anak-alami-rabun-jauh</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2024/09/25/18/3067477/imbas-lockdown-covid-buruk-pada-penglihatan-satu-dari-tiga-anak-alami-rabun-jauh"/><item><title>Imbas Lockdown Covid Buruk pada Penglihatan, Satu dari Tiga Anak Alami Rabun Jauh</title><link>https://news.okezone.com/read/2024/09/25/18/3067477/imbas-lockdown-covid-buruk-pada-penglihatan-satu-dari-tiga-anak-alami-rabun-jauh</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2024/09/25/18/3067477/imbas-lockdown-covid-buruk-pada-penglihatan-satu-dari-tiga-anak-alami-rabun-jauh</guid><pubDate>Rabu 25 September 2024 15:39 WIB</pubDate><dc:creator>Susi Susanti</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/09/25/18/3067477/miopia-Ebs5_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Peneliti mengatakan lockdown Covid berdampak negatif pada penglihatan karena anak-anak menghabiskan lebih banyak waktu di depan layar dan lebih sedikit waktu di luar ruangan (Foto: Los Angeles EyeCare)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/09/25/18/3067477/miopia-Ebs5_large.jpg</image><title>Peneliti mengatakan lockdown Covid berdampak negatif pada penglihatan karena anak-anak menghabiskan lebih banyak waktu di depan layar dan lebih sedikit waktu di luar ruangan (Foto: Los Angeles EyeCare)</title></images><description>LONDON &amp;ndash; Para peneliti mengatakan karantina wilayah atau lockdown Covid berdampak negatif pada penglihatan karena anak-anak menghabiskan lebih banyak waktu di depan layar dan lebih sedikit waktu di luar ruangan. Menurut analisis global, penglihatan anak-anak terus memburuk dengan satu dari tiga anak kini mengalami rabun jauh atau tidak dapat melihat benda-benda di kejauhan dengan jelas.&#13;
&#13;
Rabun jauh, atau miopia, merupakan masalah kesehatan global yang terus berkembang yang diperkirakan akan memengaruhi jutaan anak lagi pada tahun 2050, menurut penelitian tersebut.&#13;
&#13;
Angka tertinggi berada di Asia yakni 85% anak-anak di Jepang dan 73% di Korea Selatan mengalami rabun jauh. Lalu lebih dari 40% anak-anak di Tiongkok dan Rusia.&#13;
&#13;
Paraguay dan Uganda, sekitar 1%, memiliki beberapa tingkat miopia terendah, dengan Inggris, Irlandia, dan Amerika Serikat (AS) semuanya sekitar 15%.&#13;
&#13;
Penelitian yang dipublikasikan dalam British Journal of Ophthalmology tersebut mengamati penelitian yang melibatkan lebih dari lima juta anak-anak dan remaja dari 50 negara di seluruh enam benua. Perhitungan angka mereka mengungkapkan bahwa rabun jauh meningkat tiga kali lipat antara tahun 1990 dan 2023, atau meningkat menjadi 36%.&#13;
&#13;
Para peneliti mengatakan peningkatan itu sangat penting setelah pandemi Covid. Miopia biasanya dimulai selama tahun-tahun sekolah dasar dan cenderung memburuk hingga mata berhenti tumbuh, sekitar usia 20 tahun. Ada faktor-faktor yang membuatnya lebih mungkin terjadi, dan tinggal di Asia Timur adalah salah satunya.&#13;
&#13;
Hal itu juga bisa terjadi karena genetika, yakni sifat-sifat yang diwarisi anak-anak dari orang tua mereka. Namun ada juga faktor-faktor lain, seperti usia yang sangat muda (dua tahun) saat anak-anak memulai pendidikan mereka di tempat-tempat seperti Singapura dan Hong Kong.&#13;
&#13;
Menurut penelitian, ini berarti mereka menghabiskan lebih banyak waktu untuk fokus pada buku dan layar dengan mata mereka selama tahun-tahun awal mereka, yang membuat otot-otot mata tegang dan dapat menyebabkan myopia.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Selama karantina wilayah akibat Covid di seluruh dunia, ketika jutaan orang harus tinggal di dalam rumah untuk waktu yang lama, penglihatan anak-anak dan remaja terganggu.&#13;
&#13;
&amp;quot;Bukti yang muncul menunjukkan adanya kemungkinan hubungan antara pandemi dan percepatan penurunan penglihatan di kalangan orang dewasa muda,&amp;quot; tulis para peneliti.&#13;
&#13;
Penelitian memprediksi bahwa pada tahun 2050, kondisi tersebut dapat memengaruhi lebih dari separuh remaja di seluruh dunia.&#13;
&#13;
Penelitian menunjukkan bahwa anak perempuan dan wanita muda cenderung memiliki tingkat yang lebih tinggi daripada anak laki-laki dan pria muda karena mereka cenderung menghabiskan lebih sedikit waktu untuk melakukan aktivitas luar ruangan di sekolah dan di rumah saat mereka tumbuh dewasa.&#13;
&#13;
Penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan dan perkembangan anak perempuan, termasuk pubertas, dimulai lebih awal yang berarti mereka cenderung mengalami rabun jauh di usia yang lebih dini juga.&#13;
&#13;
Meskipun Asia diperkirakan memiliki tingkat tertinggi dibandingkan dengan semua benua lain pada tahun 2050, dengan hampir 69% rabun jauh, namun negara-negara berkembang mungkin juga mencapai 40%.&#13;
</description><content:encoded>LONDON &amp;ndash; Para peneliti mengatakan karantina wilayah atau lockdown Covid berdampak negatif pada penglihatan karena anak-anak menghabiskan lebih banyak waktu di depan layar dan lebih sedikit waktu di luar ruangan. Menurut analisis global, penglihatan anak-anak terus memburuk dengan satu dari tiga anak kini mengalami rabun jauh atau tidak dapat melihat benda-benda di kejauhan dengan jelas.&#13;
&#13;
Rabun jauh, atau miopia, merupakan masalah kesehatan global yang terus berkembang yang diperkirakan akan memengaruhi jutaan anak lagi pada tahun 2050, menurut penelitian tersebut.&#13;
&#13;
Angka tertinggi berada di Asia yakni 85% anak-anak di Jepang dan 73% di Korea Selatan mengalami rabun jauh. Lalu lebih dari 40% anak-anak di Tiongkok dan Rusia.&#13;
&#13;
Paraguay dan Uganda, sekitar 1%, memiliki beberapa tingkat miopia terendah, dengan Inggris, Irlandia, dan Amerika Serikat (AS) semuanya sekitar 15%.&#13;
&#13;
Penelitian yang dipublikasikan dalam British Journal of Ophthalmology tersebut mengamati penelitian yang melibatkan lebih dari lima juta anak-anak dan remaja dari 50 negara di seluruh enam benua. Perhitungan angka mereka mengungkapkan bahwa rabun jauh meningkat tiga kali lipat antara tahun 1990 dan 2023, atau meningkat menjadi 36%.&#13;
&#13;
Para peneliti mengatakan peningkatan itu sangat penting setelah pandemi Covid. Miopia biasanya dimulai selama tahun-tahun sekolah dasar dan cenderung memburuk hingga mata berhenti tumbuh, sekitar usia 20 tahun. Ada faktor-faktor yang membuatnya lebih mungkin terjadi, dan tinggal di Asia Timur adalah salah satunya.&#13;
&#13;
Hal itu juga bisa terjadi karena genetika, yakni sifat-sifat yang diwarisi anak-anak dari orang tua mereka. Namun ada juga faktor-faktor lain, seperti usia yang sangat muda (dua tahun) saat anak-anak memulai pendidikan mereka di tempat-tempat seperti Singapura dan Hong Kong.&#13;
&#13;
Menurut penelitian, ini berarti mereka menghabiskan lebih banyak waktu untuk fokus pada buku dan layar dengan mata mereka selama tahun-tahun awal mereka, yang membuat otot-otot mata tegang dan dapat menyebabkan myopia.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Selama karantina wilayah akibat Covid di seluruh dunia, ketika jutaan orang harus tinggal di dalam rumah untuk waktu yang lama, penglihatan anak-anak dan remaja terganggu.&#13;
&#13;
&amp;quot;Bukti yang muncul menunjukkan adanya kemungkinan hubungan antara pandemi dan percepatan penurunan penglihatan di kalangan orang dewasa muda,&amp;quot; tulis para peneliti.&#13;
&#13;
Penelitian memprediksi bahwa pada tahun 2050, kondisi tersebut dapat memengaruhi lebih dari separuh remaja di seluruh dunia.&#13;
&#13;
Penelitian menunjukkan bahwa anak perempuan dan wanita muda cenderung memiliki tingkat yang lebih tinggi daripada anak laki-laki dan pria muda karena mereka cenderung menghabiskan lebih sedikit waktu untuk melakukan aktivitas luar ruangan di sekolah dan di rumah saat mereka tumbuh dewasa.&#13;
&#13;
Penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan dan perkembangan anak perempuan, termasuk pubertas, dimulai lebih awal yang berarti mereka cenderung mengalami rabun jauh di usia yang lebih dini juga.&#13;
&#13;
Meskipun Asia diperkirakan memiliki tingkat tertinggi dibandingkan dengan semua benua lain pada tahun 2050, dengan hampir 69% rabun jauh, namun negara-negara berkembang mungkin juga mencapai 40%.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
