<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kemenangan Besar Ngurah Rai Bersama Pasukan Ciung Wanara Melawan Belanda&amp;nbsp;</title><description>Pasukan Ciung Wanara yang dikomandoi Overste (Letkol) I Gusti Ngurah Rai pada 28 Mei 1946 melakukan long march atau perjalanan panjang. Kala itu Ngurah Rai sempat meminta bantuan senjata ke Jawa pada April di tahun yang sama. &#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2024/10/03/337/3070281/kemenangan-besar-ngurah-rai-bersama-pasukan-ciung-wanara-melawan-belanda-nbsp</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2024/10/03/337/3070281/kemenangan-besar-ngurah-rai-bersama-pasukan-ciung-wanara-melawan-belanda-nbsp"/><item><title>Kemenangan Besar Ngurah Rai Bersama Pasukan Ciung Wanara Melawan Belanda&amp;nbsp;</title><link>https://news.okezone.com/read/2024/10/03/337/3070281/kemenangan-besar-ngurah-rai-bersama-pasukan-ciung-wanara-melawan-belanda-nbsp</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2024/10/03/337/3070281/kemenangan-besar-ngurah-rai-bersama-pasukan-ciung-wanara-melawan-belanda-nbsp</guid><pubDate>Kamis 03 Oktober 2024 07:00 WIB</pubDate><dc:creator>Puteranegara Batubara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/10/02/337/3070281/i_gusti_ngurah_rai-I5rp_large.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">I Gusti Ngurah Rai. Foto: Wikipedia.</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/10/02/337/3070281/i_gusti_ngurah_rai-I5rp_large.jpeg</image><title>I Gusti Ngurah Rai. Foto: Wikipedia.</title></images><description>JAKARTA - Pasukan Ciung Wanara&amp;nbsp;yang dikomandoi&amp;nbsp;Overste&amp;nbsp;(Letkol) I Gusti Ngurah Rai&amp;nbsp;pada&amp;nbsp;28 Mei 1946 melakukan long march atau perjalanan panjang. Kala itu Ngurah Rai sempat meminta bantuan senjata ke Jawa pada April di tahun yang sama.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Alih-alih mendapat yang diinginkan, Markas Besar Tentara memutuskan mengirim pasukan bantuan dari&amp;nbsp;Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI). Sekembalinya ke Bali, Ngurah Rai mengerahkan pasukannya untuk&amp;nbsp;long march&amp;nbsp;ke bagian timur Pulau Dewata itu, demi mengalihkan perhatian Belanda, sekaligus memudahkan kontak dengan Pulau Jawa.&#13;
&#13;
Tentu perjalanan mereka dari Munduk Malang ke Karangasem, tak semulus yang diinginkan. Sejumlah insiden kontak senjata kerap terjadi dengan pasukan&amp;nbsp;NICA (Nederlandsch Indi&amp;euml; Civil Administratie), maupun Brigade Gajah Merah. Kontak senjata terbesar sempat terjadi di Tanah Aron, Karangasem dengan pasukan Belanda pada 9 Juli 1946.&#13;
&#13;
Seperti dikutip dalam &amp;lsquo;Jurnal Sejarah: Pemikiran, Rekonstruksi, Persepsi&amp;rsquo;, pasukan Ngurah Rai dengan diperkuat prajurit ALRI yang dipimpin&amp;nbsp;Kapten (Laut) Markadi, menang telak dengan menewaskan 82 tentara NICA dan tak satu pun dari prajuritnya kehilangan nyawa.&#13;
&#13;
Tak lama, pasukan Ngurah Rai melanjutkan&amp;nbsp;long march&amp;nbsp;mereka ke Desa Marga, Tabanan. Kegemilangan pasukannya juga berlanjut setelah mendapat tambahan senjata, usai melucuti Polisi Belanda di Kota Tabanan pada 18 November 1946.&#13;
&#13;
Keesokan harinya, Ngurah Rai mengumpulkan para perwira lainnya, Kapten I Gusti Wayan Debes, Mayor I Gusti Putu Wisnu serta Kapten Sugianyar dan Wagimin, untuk mengatur siasat jika kembali terjadi kontak senjata dalam skala besar dengan Belanda.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Sementara di pihak Belanda, pasukan dengan persenjataan lengkap diketahui pengintai dari laskar rakyat, bergerak ke sebelah utara dan selatan Desa Marga pada 20 November 1946.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Letusan pistol dari Ngurah Rai sekira pukul 09.00 pagi pun menandai pertempuran dahsyat &amp;ldquo;Puputan Margarana&amp;rdquo;. Kendati sekitar 400 tentara NICA tewas, namun Ngurah Rai ikut gugur bersama 96 prajuritnya.&#13;
&#13;
Namun hal itu memicu kemarahan Belanda hingga menyerbu posisi pasukan Ngurah Rai di Desa Marga pada 20 November. Dalam pertempuran dahsyat itu, Ngurah Rai gugur bersama 96 prajuritnya.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Pasukan Ciung Wanara&amp;nbsp;yang dikomandoi&amp;nbsp;Overste&amp;nbsp;(Letkol) I Gusti Ngurah Rai&amp;nbsp;pada&amp;nbsp;28 Mei 1946 melakukan long march atau perjalanan panjang. Kala itu Ngurah Rai sempat meminta bantuan senjata ke Jawa pada April di tahun yang sama.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Alih-alih mendapat yang diinginkan, Markas Besar Tentara memutuskan mengirim pasukan bantuan dari&amp;nbsp;Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI). Sekembalinya ke Bali, Ngurah Rai mengerahkan pasukannya untuk&amp;nbsp;long march&amp;nbsp;ke bagian timur Pulau Dewata itu, demi mengalihkan perhatian Belanda, sekaligus memudahkan kontak dengan Pulau Jawa.&#13;
&#13;
Tentu perjalanan mereka dari Munduk Malang ke Karangasem, tak semulus yang diinginkan. Sejumlah insiden kontak senjata kerap terjadi dengan pasukan&amp;nbsp;NICA (Nederlandsch Indi&amp;euml; Civil Administratie), maupun Brigade Gajah Merah. Kontak senjata terbesar sempat terjadi di Tanah Aron, Karangasem dengan pasukan Belanda pada 9 Juli 1946.&#13;
&#13;
Seperti dikutip dalam &amp;lsquo;Jurnal Sejarah: Pemikiran, Rekonstruksi, Persepsi&amp;rsquo;, pasukan Ngurah Rai dengan diperkuat prajurit ALRI yang dipimpin&amp;nbsp;Kapten (Laut) Markadi, menang telak dengan menewaskan 82 tentara NICA dan tak satu pun dari prajuritnya kehilangan nyawa.&#13;
&#13;
Tak lama, pasukan Ngurah Rai melanjutkan&amp;nbsp;long march&amp;nbsp;mereka ke Desa Marga, Tabanan. Kegemilangan pasukannya juga berlanjut setelah mendapat tambahan senjata, usai melucuti Polisi Belanda di Kota Tabanan pada 18 November 1946.&#13;
&#13;
Keesokan harinya, Ngurah Rai mengumpulkan para perwira lainnya, Kapten I Gusti Wayan Debes, Mayor I Gusti Putu Wisnu serta Kapten Sugianyar dan Wagimin, untuk mengatur siasat jika kembali terjadi kontak senjata dalam skala besar dengan Belanda.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Sementara di pihak Belanda, pasukan dengan persenjataan lengkap diketahui pengintai dari laskar rakyat, bergerak ke sebelah utara dan selatan Desa Marga pada 20 November 1946.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Letusan pistol dari Ngurah Rai sekira pukul 09.00 pagi pun menandai pertempuran dahsyat &amp;ldquo;Puputan Margarana&amp;rdquo;. Kendati sekitar 400 tentara NICA tewas, namun Ngurah Rai ikut gugur bersama 96 prajuritnya.&#13;
&#13;
Namun hal itu memicu kemarahan Belanda hingga menyerbu posisi pasukan Ngurah Rai di Desa Marga pada 20 November. Dalam pertempuran dahsyat itu, Ngurah Rai gugur bersama 96 prajuritnya.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
