<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Nyi Iteng Nekat Menerjang Banjir 2 Meter demi Selamatkan Hartanya di Sukabumi</title><description>Di tengah derasnya arus banjir setinggi 2 meter yang melanda Kampung Mariuk, dan Kampung Baru, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, seorang perempuan tangguh bernama Nyi Iteng menjadi sorotan. &#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2024/12/05/525/3092477/nyi-iteng-nekat-menerjang-banjir-2-meter-demi-selamatkan-hartanya-di-sukabumi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2024/12/05/525/3092477/nyi-iteng-nekat-menerjang-banjir-2-meter-demi-selamatkan-hartanya-di-sukabumi"/><item><title>Nyi Iteng Nekat Menerjang Banjir 2 Meter demi Selamatkan Hartanya di Sukabumi</title><link>https://news.okezone.com/read/2024/12/05/525/3092477/nyi-iteng-nekat-menerjang-banjir-2-meter-demi-selamatkan-hartanya-di-sukabumi</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2024/12/05/525/3092477/nyi-iteng-nekat-menerjang-banjir-2-meter-demi-selamatkan-hartanya-di-sukabumi</guid><pubDate>Kamis 05 Desember 2024 01:02 WIB</pubDate><dc:creator>Ilham Nugraha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/12/05/525/3092477/banjir-1QwH_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Nyi Iteng korban banjir Sukabumi (Foto: Ilham Nugraha/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/12/05/525/3092477/banjir-1QwH_large.jpg</image><title>Nyi Iteng korban banjir Sukabumi (Foto: Ilham Nugraha/Okezone)</title></images><description>SUKABUMI - Di tengah derasnya arus banjir setinggi 2 meter yang melanda Kampung Mariuk, dan Kampung Baru, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, seorang perempuan tangguh bernama Nyi Iteng menjadi sorotan.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Ia menolak meninggalkan rumahnya sebelum berhasil menyelamatkan barang-barang berharganya, meski air sudah mencapai dada orang dewasa. &amp;nbsp;&#13;
&#13;
Dengan gigih, Nyi Iteng terlihat berjuang melawan arus untuk mengamankan dokumen penting dan peralatan rumah tangga yang masih bisa diselamatkan.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;quot;Ini semua yang kami punya. Kalau tidak diselamatkan sekarang, kami kehilangan segalanya,&amp;quot; katanya, Rabu sore (4/12/2024). &amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Sementara itu, sebagian lainnya, seperti Nyi Iteng, memilih bertahan untuk mencoba menyelamatkan harta benda. &amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;quot;Air mulai naik sejak subuh, tidak ada waktu untuk berpikir panjang. Kami hanya mencoba menyelamatkan apa yang bisa diambil,&amp;quot; ujar Tangguh (35), seorang warga lain yang juga berjuang di tengah banjir. &amp;nbsp;&#13;
&amp;nbsp;&#13;
Kondisi warga terdampak semakin sulit dengan terputusnya akses jalan menuju permukiman dan padamnya aliran listrik. Warga kini sangat membutuhkan bantuan logistik, alat evakuasi, serta dukungan medis. &amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;quot;Kami benar-benar butuh bantuan segera. Tidak ada stok makanan, listrik mati, dan beberapa warga mulai sakit karena kondisi dingin,&amp;quot; tambah Tangguh. &amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Pantauan di lapangan, banjir yang melanda wilayah tersebut merupakan akibat dari luapan Sungai Cimandiri, yang dikenal warga sebagai Banjir Si Dongkol musiman yang rutin terjadi setiap tiga tahun sekali.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Namun, kali ini merupakan banjir terparah yang pernah dialami warga, dengan ketinggian air mencapai lebih dari 2 meter. &amp;nbsp;&#13;
&#13;
Sebanyak 32 rumah dan 500 jiwa terdampak, memaksa sebagian besar warga untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman.&amp;nbsp;&#13;
</description><content:encoded>SUKABUMI - Di tengah derasnya arus banjir setinggi 2 meter yang melanda Kampung Mariuk, dan Kampung Baru, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, seorang perempuan tangguh bernama Nyi Iteng menjadi sorotan.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Ia menolak meninggalkan rumahnya sebelum berhasil menyelamatkan barang-barang berharganya, meski air sudah mencapai dada orang dewasa. &amp;nbsp;&#13;
&#13;
Dengan gigih, Nyi Iteng terlihat berjuang melawan arus untuk mengamankan dokumen penting dan peralatan rumah tangga yang masih bisa diselamatkan.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;quot;Ini semua yang kami punya. Kalau tidak diselamatkan sekarang, kami kehilangan segalanya,&amp;quot; katanya, Rabu sore (4/12/2024). &amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Sementara itu, sebagian lainnya, seperti Nyi Iteng, memilih bertahan untuk mencoba menyelamatkan harta benda. &amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;quot;Air mulai naik sejak subuh, tidak ada waktu untuk berpikir panjang. Kami hanya mencoba menyelamatkan apa yang bisa diambil,&amp;quot; ujar Tangguh (35), seorang warga lain yang juga berjuang di tengah banjir. &amp;nbsp;&#13;
&amp;nbsp;&#13;
Kondisi warga terdampak semakin sulit dengan terputusnya akses jalan menuju permukiman dan padamnya aliran listrik. Warga kini sangat membutuhkan bantuan logistik, alat evakuasi, serta dukungan medis. &amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;quot;Kami benar-benar butuh bantuan segera. Tidak ada stok makanan, listrik mati, dan beberapa warga mulai sakit karena kondisi dingin,&amp;quot; tambah Tangguh. &amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Pantauan di lapangan, banjir yang melanda wilayah tersebut merupakan akibat dari luapan Sungai Cimandiri, yang dikenal warga sebagai Banjir Si Dongkol musiman yang rutin terjadi setiap tiga tahun sekali.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Namun, kali ini merupakan banjir terparah yang pernah dialami warga, dengan ketinggian air mencapai lebih dari 2 meter. &amp;nbsp;&#13;
&#13;
Sebanyak 32 rumah dan 500 jiwa terdampak, memaksa sebagian besar warga untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman.&amp;nbsp;&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
