<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Targetkan Pengumpulan Zakat Naik 10%, Kemenag: Entaskan Kemiskinan dan Sejahterakan Umat</title><description>Optimalisasi zakat tidak hanya berfokus pada jumlah yang terkumpul, tetapi juga efektivitas distribusinya.&#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2025/03/18/337/3123630/targetkan-pengumpulan-zakat-naik-10-kemenag-entaskan-kemiskinan-dan-sejahterakan-umat</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2025/03/18/337/3123630/targetkan-pengumpulan-zakat-naik-10-kemenag-entaskan-kemiskinan-dan-sejahterakan-umat"/><item><title>Targetkan Pengumpulan Zakat Naik 10%, Kemenag: Entaskan Kemiskinan dan Sejahterakan Umat</title><link>https://news.okezone.com/read/2025/03/18/337/3123630/targetkan-pengumpulan-zakat-naik-10-kemenag-entaskan-kemiskinan-dan-sejahterakan-umat</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2025/03/18/337/3123630/targetkan-pengumpulan-zakat-naik-10-kemenag-entaskan-kemiskinan-dan-sejahterakan-umat</guid><pubDate>Selasa 18 Maret 2025 15:22 WIB</pubDate><dc:creator>Fahmi Firdaus </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2025/03/18/337/3123630/pemerintah-b2vG_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Targetkan Pengumpulan Zakat Naik 10%, Kemenag: Entaskan Kemiskinan dan Kesejahteraan Umat</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2025/03/18/337/3123630/pemerintah-b2vG_large.jpg</image><title>Targetkan Pengumpulan Zakat Naik 10%, Kemenag: Entaskan Kemiskinan dan Kesejahteraan Umat</title></images><description>JAKARTA - &amp;nbsp;Kementerian Agama RI&amp;nbsp;menargetkan peningkatan pengumpulan zakat nasional sebesar 10% pada 2025. Saat ini, &amp;nbsp;zakat yang terkumpul mencapai Rp42 triliun, namun angka itu masih jauh dari potensi maksimal yang diperkirakan lebih dari Rp327 triliun.&#13;
&#13;
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Abu Rokhmad, mengatakan, peningkatan pengumpulan zakat harus menjadi agenda bersama untuk memperkuat kontribusi zakat dalam pengentasan kemiskinan dan kesejahteraan umat.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kita harus memiliki semangat yang lebih kuat dalam meningkatkan pengumpulan zakat. Tahun ini, kita targetkan kenaikan minimal 10% dari angka sebelumnya,&amp;rdquo; ujar Abu dalam Training of Facilitator (ToF) Pembinaan Lembaga Zakat dan Wakaf di Jakarta, Selasa (18/3/2025).&#13;
&#13;
Dijelaskannya, optimalisasi zakat tidak hanya berfokus pada jumlah yang terkumpul, tetapi juga efektivitas distribusinya.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Oleh karena itu, dia menekankan pentingnya penggunaan Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai acuan dalam penyaluran zakat agar lebih tepat sasaran dan tidak tumpang tindih dengan bantuan sosial lainnya.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Dengan DTSEN, kita bisa memastikan zakat benar-benar sampai kepada mereka yang berhak, tanpa terjadi tumpang tindih dengan program bantuan pemerintah lainnya,&amp;rdquo; jelasnya.&#13;
&#13;
Selain itu, Abu menekankan bahwa kepercayaan publik terhadap pengelolaan zakat harus terus dijaga. Transparansi dan akuntabilitas, menurutnya, menjadi faktor utama dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dalam berzakat.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Jika masyarakat percaya bahwa zakat dikelola dengan baik dan transparan, mereka akan semakin terdorong untuk menyalurkannya melalui lembaga resmi,&amp;rdquo; katanya.&#13;
&#13;
Abu juga mendorong lembaga zakat untuk berinovasi dalam penghimpunan zakat, terutama dengan memanfaatkan teknologi digital agar lebih mudah diakses masyarakat.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Era digital membuka banyak peluang. Lembaga zakat harus lebih kreatif dalam mengembangkan metode pembayaran zakat yang mudah, cepat, dan aman,&amp;rdquo;imbuhnya.&#13;
&#13;
Dia juga mengungkapkan pentingnya sinergi antara pemerintah, lembaga zakat, dan berbagai pihak dalam mengoptimalkan potensi zakat nasional. Kolaborasi ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas program pemberdayaan ekonomi berbasis zakat.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Zakat bukan hanya untuk konsumsi, tetapi juga harus menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi. Kita harus memastikan dana zakat dapat membantu masyarakat miskin untuk berdaya dan mandiri,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Ia mengatakan, Kemenag akan terus melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap lembaga zakat agar semakin profesional dalam mengelola dana umat.&#13;
&#13;
Dengan peningkatan pengumpulan dan optimalisasi distribusi zakat, imbuhnya, diharapkan zakat dapat memberi dampak yang lebih besar dalam penanggulangan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan umat secara berkelanjutan.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&amp;ldquo;Kita tidak boleh berhenti. Harus ada perbaikan terus-menerus, baik dalam sistem penghimpunan, pengelolaan, maupun pendistribusiannya,&amp;rdquo; tandasnya.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - &amp;nbsp;Kementerian Agama RI&amp;nbsp;menargetkan peningkatan pengumpulan zakat nasional sebesar 10% pada 2025. Saat ini, &amp;nbsp;zakat yang terkumpul mencapai Rp42 triliun, namun angka itu masih jauh dari potensi maksimal yang diperkirakan lebih dari Rp327 triliun.&#13;
&#13;
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Abu Rokhmad, mengatakan, peningkatan pengumpulan zakat harus menjadi agenda bersama untuk memperkuat kontribusi zakat dalam pengentasan kemiskinan dan kesejahteraan umat.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kita harus memiliki semangat yang lebih kuat dalam meningkatkan pengumpulan zakat. Tahun ini, kita targetkan kenaikan minimal 10% dari angka sebelumnya,&amp;rdquo; ujar Abu dalam Training of Facilitator (ToF) Pembinaan Lembaga Zakat dan Wakaf di Jakarta, Selasa (18/3/2025).&#13;
&#13;
Dijelaskannya, optimalisasi zakat tidak hanya berfokus pada jumlah yang terkumpul, tetapi juga efektivitas distribusinya.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Oleh karena itu, dia menekankan pentingnya penggunaan Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai acuan dalam penyaluran zakat agar lebih tepat sasaran dan tidak tumpang tindih dengan bantuan sosial lainnya.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Dengan DTSEN, kita bisa memastikan zakat benar-benar sampai kepada mereka yang berhak, tanpa terjadi tumpang tindih dengan program bantuan pemerintah lainnya,&amp;rdquo; jelasnya.&#13;
&#13;
Selain itu, Abu menekankan bahwa kepercayaan publik terhadap pengelolaan zakat harus terus dijaga. Transparansi dan akuntabilitas, menurutnya, menjadi faktor utama dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dalam berzakat.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Jika masyarakat percaya bahwa zakat dikelola dengan baik dan transparan, mereka akan semakin terdorong untuk menyalurkannya melalui lembaga resmi,&amp;rdquo; katanya.&#13;
&#13;
Abu juga mendorong lembaga zakat untuk berinovasi dalam penghimpunan zakat, terutama dengan memanfaatkan teknologi digital agar lebih mudah diakses masyarakat.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Era digital membuka banyak peluang. Lembaga zakat harus lebih kreatif dalam mengembangkan metode pembayaran zakat yang mudah, cepat, dan aman,&amp;rdquo;imbuhnya.&#13;
&#13;
Dia juga mengungkapkan pentingnya sinergi antara pemerintah, lembaga zakat, dan berbagai pihak dalam mengoptimalkan potensi zakat nasional. Kolaborasi ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas program pemberdayaan ekonomi berbasis zakat.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Zakat bukan hanya untuk konsumsi, tetapi juga harus menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi. Kita harus memastikan dana zakat dapat membantu masyarakat miskin untuk berdaya dan mandiri,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Ia mengatakan, Kemenag akan terus melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap lembaga zakat agar semakin profesional dalam mengelola dana umat.&#13;
&#13;
Dengan peningkatan pengumpulan dan optimalisasi distribusi zakat, imbuhnya, diharapkan zakat dapat memberi dampak yang lebih besar dalam penanggulangan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan umat secara berkelanjutan.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&amp;ldquo;Kita tidak boleh berhenti. Harus ada perbaikan terus-menerus, baik dalam sistem penghimpunan, pengelolaan, maupun pendistribusiannya,&amp;rdquo; tandasnya.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
