<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Momen Pajak Rakyat Digunakan untuk Pesta hingga Bangun Istana Majapahit</title><description>Cara ini dijelaskan pada Kakawin Nagarakretagama Pupuh 15.&#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2025/04/29/337/3134661/momen-pajak-rakyat-digunakan-untuk-pesta-hingga-bangun-istana-majapahit</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2025/04/29/337/3134661/momen-pajak-rakyat-digunakan-untuk-pesta-hingga-bangun-istana-majapahit"/><item><title>Momen Pajak Rakyat Digunakan untuk Pesta hingga Bangun Istana Majapahit</title><link>https://news.okezone.com/read/2025/04/29/337/3134661/momen-pajak-rakyat-digunakan-untuk-pesta-hingga-bangun-istana-majapahit</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2025/04/29/337/3134661/momen-pajak-rakyat-digunakan-untuk-pesta-hingga-bangun-istana-majapahit</guid><pubDate>Selasa 29 April 2025 12:01 WIB</pubDate><dc:creator>Avirista Midaada</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2025/04/29/337/3134661/ilustrasi-UtNl_large.JPG" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2025/04/29/337/3134661/ilustrasi-UtNl_large.JPG</image><title>Ilustrasi</title></images><description>Kerajaan Majapahit mengumpulkan pajak-pajak dari daerah ke pusat. Pajak-pajak itu dikirimkan melalui pegawai pajak khusus dan pendeta - pendeta yang dikirim Majapahit ke daerah seberang untuk menarik upeti pajak. Cara ini dijelaskan pada Kakawin Nagarakretagama Pupuh 15.&#13;
&#13;
Saat menjalankan tugas itu, para pegawai dan para pendeta dilarang keras mencari untung demi kepentingannya sendiri. Maksudnya, agar jangan sampai tugas negara itu dilalaikan. Mungkin sekali perjalanan mereka ke daerah-daerah dikawal oleh angkatan laut, sehingga keamanan mereka terjamin dan pengumpulan upeti berjalan lancar, karena pembesar daerah takut kepadanya.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Di samping mengumpulkan upeti, mereka membuat laporan tentang keadaan tempat-tempat yang mereka kunjungi. Dengan jalan demikian, pemerintahan pusat mengetahui seluk-beluk keadaan daerah. Boleh dipastikan bahwa Prapanca sebagai dharmmadyaksa kasogatan memanfaatkan laporan-laporan para pendeta yang pernah berkunjung ke daerah-daerah, sehingga pengetahuannya tentang keadaan daerah, baik di seberang maupun di Jawa, sangat luas lagi mendalam.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Sejarawan Prof. Slamet Muljana, pada bukunya &amp;quot;Tafsir Sejarah Nagarakretagama&amp;quot; menuturkan, bagaimana hartg benda persembahan upeti diserahkan kepada pemerintah pusat, terutama dimasukkan sebagai harta kekayaan raja untuk membiayai segala macam pengeluaran istana.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa raja dapat membangun istana dan gedung-gedung para pembesar seperti diuraikan dalam pupuh 8-13, dan membuat pesta besar-besaran, baik demi kepentingan pribadi keluarga raja maupun demi perayaan-perayaan sepanjang tahun, dimana rakyat juga ikut menikmati.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Segala-galanya serba besar lagi mewah untuk menunjukkan keagungan kerajaan, yang memang subur makmur. Kekayaan raja berupa abdi, harta, kereta, gajah, dan kuda dikatakan berlimpah-limpah bagai samudra. Perluasan wilayah juga membawa akibat peningkatan hubungan dagang antara pusat dan daerah.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Pelabuhan Tuban, Gresik, dan Surabaya ramai dikunjungi pedagang dari daerah dan negara-negara asing tetangga. Ma Huan, pedahang Cina yang juga mengunjungi Majapahit pada tahun 1413 setelah Majapahit mengalami kemunduran berkata bahwa, pelabuhan-pelabuhan itu banyak didiami oleh pedagang Cina dan asli, yang kaya-kaya.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Segala macam barang dagangan banyak diperjualbelikan di situ. Mutu manikam dan barang-barang buatan luar negeri banyak diborong oleh pedagang asli dalam jumlah besar.&#13;
&amp;nbsp;&#13;
</description><content:encoded>Kerajaan Majapahit mengumpulkan pajak-pajak dari daerah ke pusat. Pajak-pajak itu dikirimkan melalui pegawai pajak khusus dan pendeta - pendeta yang dikirim Majapahit ke daerah seberang untuk menarik upeti pajak. Cara ini dijelaskan pada Kakawin Nagarakretagama Pupuh 15.&#13;
&#13;
Saat menjalankan tugas itu, para pegawai dan para pendeta dilarang keras mencari untung demi kepentingannya sendiri. Maksudnya, agar jangan sampai tugas negara itu dilalaikan. Mungkin sekali perjalanan mereka ke daerah-daerah dikawal oleh angkatan laut, sehingga keamanan mereka terjamin dan pengumpulan upeti berjalan lancar, karena pembesar daerah takut kepadanya.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Di samping mengumpulkan upeti, mereka membuat laporan tentang keadaan tempat-tempat yang mereka kunjungi. Dengan jalan demikian, pemerintahan pusat mengetahui seluk-beluk keadaan daerah. Boleh dipastikan bahwa Prapanca sebagai dharmmadyaksa kasogatan memanfaatkan laporan-laporan para pendeta yang pernah berkunjung ke daerah-daerah, sehingga pengetahuannya tentang keadaan daerah, baik di seberang maupun di Jawa, sangat luas lagi mendalam.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Sejarawan Prof. Slamet Muljana, pada bukunya &amp;quot;Tafsir Sejarah Nagarakretagama&amp;quot; menuturkan, bagaimana hartg benda persembahan upeti diserahkan kepada pemerintah pusat, terutama dimasukkan sebagai harta kekayaan raja untuk membiayai segala macam pengeluaran istana.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa raja dapat membangun istana dan gedung-gedung para pembesar seperti diuraikan dalam pupuh 8-13, dan membuat pesta besar-besaran, baik demi kepentingan pribadi keluarga raja maupun demi perayaan-perayaan sepanjang tahun, dimana rakyat juga ikut menikmati.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Segala-galanya serba besar lagi mewah untuk menunjukkan keagungan kerajaan, yang memang subur makmur. Kekayaan raja berupa abdi, harta, kereta, gajah, dan kuda dikatakan berlimpah-limpah bagai samudra. Perluasan wilayah juga membawa akibat peningkatan hubungan dagang antara pusat dan daerah.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Pelabuhan Tuban, Gresik, dan Surabaya ramai dikunjungi pedagang dari daerah dan negara-negara asing tetangga. Ma Huan, pedahang Cina yang juga mengunjungi Majapahit pada tahun 1413 setelah Majapahit mengalami kemunduran berkata bahwa, pelabuhan-pelabuhan itu banyak didiami oleh pedagang Cina dan asli, yang kaya-kaya.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Segala macam barang dagangan banyak diperjualbelikan di situ. Mutu manikam dan barang-barang buatan luar negeri banyak diborong oleh pedagang asli dalam jumlah besar.&#13;
&amp;nbsp;&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
