<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Fadli Zon Sebut Tak Ada Pemerkosaan Massal saat Kerusuhan 98, Istana: Sejarawan Kredibel yang Tulis</title><description>Pihaknya juga memastikan, sejarawan yang terlibat dalam proyek ini memiliki integritas tinggi.&#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2025/06/16/337/3147740/fadli-zon-sebut-tak-ada-pemerkosaan-massal-saat-kerusuhan-98-istana-sejarawan-kredibel-yang-tulis</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2025/06/16/337/3147740/fadli-zon-sebut-tak-ada-pemerkosaan-massal-saat-kerusuhan-98-istana-sejarawan-kredibel-yang-tulis"/><item><title>Fadli Zon Sebut Tak Ada Pemerkosaan Massal saat Kerusuhan 98, Istana: Sejarawan Kredibel yang Tulis</title><link>https://news.okezone.com/read/2025/06/16/337/3147740/fadli-zon-sebut-tak-ada-pemerkosaan-massal-saat-kerusuhan-98-istana-sejarawan-kredibel-yang-tulis</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2025/06/16/337/3147740/fadli-zon-sebut-tak-ada-pemerkosaan-massal-saat-kerusuhan-98-istana-sejarawan-kredibel-yang-tulis</guid><pubDate>Senin 16 Juni 2025 13:45 WIB</pubDate><dc:creator>Binti Mufarida</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2025/06/16/337/3147740/pemerintah-uHoR_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Menteri Kebudayaan Fadli Zon (Foto: dok Kemenbud)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2025/06/16/337/3147740/pemerintah-uHoR_large.jpg</image><title>Menteri Kebudayaan Fadli Zon (Foto: dok Kemenbud)</title></images><description>JAKARTA - Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan atau Presidential Communication Office (PCO) Hasan Nasbi menanggapi pernyataan Menteri Kebudayaan Fadli Zon yang dikritik karena menyebut tidak ada pemerkosaan massal yang terjadi pada 1998.&#13;
&#13;
Hasan meminta semua pihak tidak terburu-buru mengambil kesimpulan, dan memberikan ruang bagi sejarawan untuk menyusun sejarah secara objektif.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Dalam konteks hal yang sedang disusun oleh Kementerian Kebudayaan, mari kita sama-sama beri waktu para sejarawan untuk menuliskan,&amp;rdquo; katanya saat Konferensi Pers di Kantor PCO, Jakarta, Senin (16/6/2025).&#13;
&#13;
Saat ini kata dia,&amp;nbsp;terlalu banyak spekulasi yang berkembang di masyarakat terkait isu ini. Dia menegaskan pentingnya proses penulisan sejarah dilakukan oleh ahli yang kompeten dan kredibel.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Ini kan sekarang semua dalam proses dan dalam proses ini terlalu banyak spekulasi-spekulasi yang menyatakan ini tidak ada, ini ada, coba kita biarkan para sejarawan ini menuliskan ini, dan untuk nanti kita pantau kita pelototi kita periksa bareng-bareng,&amp;rdquo; tegasnya.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Toh yang menulis ini adalah para sejarawan yang juga kredibel, punya kredibilitas tinggi dan mereka tentu tidak akan mengorbankan kredibilitas mereka ya untuk hal-hal yang tidak perlu,&amp;rdquo; tambahnya.&#13;
&#13;
Pihaknya juga memastikan, sejarawan yang terlibat dalam proyek ini memiliki integritas tinggi dan tidak akan mengorbankan kredibilitasnya demi kepentingan tertentu.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Jadi kekhawatiran kekhawatiran semacam ini mungkin bisa jadi diskusi tapi jangan divonis macam-macam dulu. Lihat saja dulu ya pekerjaan yang sedang dilakukan oleh para ahli sejarah dalam menulis sejarah Indonesia,&amp;rdquo; papar Hasan.&#13;
&#13;
Hasan menegaskan bahwa ini bukan upaya menulis ulang sejarah, melainkan melanjutkan penulisan sejarah nasional yang sudah lama terhenti.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Ini bukan menulis ulang tapi melanjutkan menulis sejarah Indonesia karena mungkin terakhir sejarah Indonesia ditulis tahun berapa? Tahun 98, tahun 97-98 dan dari 98 ke sini tidak tidak ditulis lagi. Jadi kita lihat dulu mereka menulis apa sudah kita punya draft resminya nanti baru kita kita koreksi bareng-bareng,&amp;rdquo; pungkasnya.&amp;nbsp;&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan atau Presidential Communication Office (PCO) Hasan Nasbi menanggapi pernyataan Menteri Kebudayaan Fadli Zon yang dikritik karena menyebut tidak ada pemerkosaan massal yang terjadi pada 1998.&#13;
&#13;
Hasan meminta semua pihak tidak terburu-buru mengambil kesimpulan, dan memberikan ruang bagi sejarawan untuk menyusun sejarah secara objektif.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Dalam konteks hal yang sedang disusun oleh Kementerian Kebudayaan, mari kita sama-sama beri waktu para sejarawan untuk menuliskan,&amp;rdquo; katanya saat Konferensi Pers di Kantor PCO, Jakarta, Senin (16/6/2025).&#13;
&#13;
Saat ini kata dia,&amp;nbsp;terlalu banyak spekulasi yang berkembang di masyarakat terkait isu ini. Dia menegaskan pentingnya proses penulisan sejarah dilakukan oleh ahli yang kompeten dan kredibel.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Ini kan sekarang semua dalam proses dan dalam proses ini terlalu banyak spekulasi-spekulasi yang menyatakan ini tidak ada, ini ada, coba kita biarkan para sejarawan ini menuliskan ini, dan untuk nanti kita pantau kita pelototi kita periksa bareng-bareng,&amp;rdquo; tegasnya.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Toh yang menulis ini adalah para sejarawan yang juga kredibel, punya kredibilitas tinggi dan mereka tentu tidak akan mengorbankan kredibilitas mereka ya untuk hal-hal yang tidak perlu,&amp;rdquo; tambahnya.&#13;
&#13;
Pihaknya juga memastikan, sejarawan yang terlibat dalam proyek ini memiliki integritas tinggi dan tidak akan mengorbankan kredibilitasnya demi kepentingan tertentu.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Jadi kekhawatiran kekhawatiran semacam ini mungkin bisa jadi diskusi tapi jangan divonis macam-macam dulu. Lihat saja dulu ya pekerjaan yang sedang dilakukan oleh para ahli sejarah dalam menulis sejarah Indonesia,&amp;rdquo; papar Hasan.&#13;
&#13;
Hasan menegaskan bahwa ini bukan upaya menulis ulang sejarah, melainkan melanjutkan penulisan sejarah nasional yang sudah lama terhenti.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Ini bukan menulis ulang tapi melanjutkan menulis sejarah Indonesia karena mungkin terakhir sejarah Indonesia ditulis tahun berapa? Tahun 98, tahun 97-98 dan dari 98 ke sini tidak tidak ditulis lagi. Jadi kita lihat dulu mereka menulis apa sudah kita punya draft resminya nanti baru kita kita koreksi bareng-bareng,&amp;rdquo; pungkasnya.&amp;nbsp;&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
