<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Musim Kemarau Mundur, BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem hingga Oktober 2025</title><description>Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem yang masih akan terjadi di sejumlah wilayah Indonesia hingga Oktober 2025.&#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2025/07/07/337/3153315/musim-kemarau-mundur-bmkg-peringatkan-cuaca-ekstrem-hingga-oktober-2025</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2025/07/07/337/3153315/musim-kemarau-mundur-bmkg-peringatkan-cuaca-ekstrem-hingga-oktober-2025"/><item><title>Musim Kemarau Mundur, BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem hingga Oktober 2025</title><link>https://news.okezone.com/read/2025/07/07/337/3153315/musim-kemarau-mundur-bmkg-peringatkan-cuaca-ekstrem-hingga-oktober-2025</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2025/07/07/337/3153315/musim-kemarau-mundur-bmkg-peringatkan-cuaca-ekstrem-hingga-oktober-2025</guid><pubDate>Senin 07 Juli 2025 13:22 WIB</pubDate><dc:creator>Dwinarto</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2025/07/07/337/3153315/bmkg-Hg17_large.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Kepala BMKG Dwikorita (Foto: Dok Setkab)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2025/07/07/337/3153315/bmkg-Hg17_large.jpeg</image><title>Kepala BMKG Dwikorita (Foto: Dok Setkab)</title></images><description>JAKARTA &amp;mdash; Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem yang masih akan terjadi di sejumlah wilayah Indonesia hingga Oktober 2025. Kondisi ini disebabkan sejumlah faktor atmosfer dan laut yang memengaruhi pola hujan nasional.&#13;
&#13;
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengungkapkan, awal musim kemarau 2025 mengalami keterlambatan di 29% zona musim, terutama di wilayah Lampung, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Hal itu diungkapkan saat konferensi pers di Jakarta, Senin (7/7/2025).&#13;
&#13;
Hingga akhir Juni 2025, hanya sekitar 30% wilayah Indonesia yang telah memasuki musim kemarau&amp;mdash;jauh di bawah normal yang seharusnya mencapai 64%.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Meski fenomena El Ni&amp;ntilde;o&amp;ndash;Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) dalam kondisi netral, curah hujan di atas normal masih diprediksi bertahan hingga Oktober mendatang. Kondisi tersebut diperkuat oleh melemahnya Monsun Australia dan suhu permukaan laut yang hangat di selatan Indonesia, yang berkontribusi pada meningkatnya curah hujan ekstrem.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
BMKG mengidentifikasi lima wilayah utama yang berisiko tinggi mengalami cuaca ekstrem dalam waktu dekat, yakni Jawa, Sulawesi Selatan, NTB, Kalimantan Timur, Maluku, dan Papua. Curah hujan ekstrem di atas 100 mm per hari pada 5&amp;ndash;6 Juli 2025 telah menyebabkan banjir, tanah longsor, dan genangan air di sejumlah daerah seperti Bogor, Mataram, Sulsel, Tangerang, dan Jakarta Timur.&#13;
&#13;
Kondisi cuaca ekstrem ini dipicu aktifnya fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang ekuator, kelembapan udara yang tinggi, suhu laut hangat, serta labilitas atmosfer lokal yang meningkat.&#13;
&#13;
BMKG memperingatkan potensi hujan lebat masih akan berlanjut dalam sepekan ke depan, terutama di wilayah Jawa Barat dan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, NTB, Maluku, dan Papua.&#13;
&#13;
Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap risiko banjir, tanah longsor, pohon tumbang, serta potensi gangguan transportasi darat, laut, dan udara akibat cuaca buruk.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;mdash; Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem yang masih akan terjadi di sejumlah wilayah Indonesia hingga Oktober 2025. Kondisi ini disebabkan sejumlah faktor atmosfer dan laut yang memengaruhi pola hujan nasional.&#13;
&#13;
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengungkapkan, awal musim kemarau 2025 mengalami keterlambatan di 29% zona musim, terutama di wilayah Lampung, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Hal itu diungkapkan saat konferensi pers di Jakarta, Senin (7/7/2025).&#13;
&#13;
Hingga akhir Juni 2025, hanya sekitar 30% wilayah Indonesia yang telah memasuki musim kemarau&amp;mdash;jauh di bawah normal yang seharusnya mencapai 64%.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Meski fenomena El Ni&amp;ntilde;o&amp;ndash;Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) dalam kondisi netral, curah hujan di atas normal masih diprediksi bertahan hingga Oktober mendatang. Kondisi tersebut diperkuat oleh melemahnya Monsun Australia dan suhu permukaan laut yang hangat di selatan Indonesia, yang berkontribusi pada meningkatnya curah hujan ekstrem.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
BMKG mengidentifikasi lima wilayah utama yang berisiko tinggi mengalami cuaca ekstrem dalam waktu dekat, yakni Jawa, Sulawesi Selatan, NTB, Kalimantan Timur, Maluku, dan Papua. Curah hujan ekstrem di atas 100 mm per hari pada 5&amp;ndash;6 Juli 2025 telah menyebabkan banjir, tanah longsor, dan genangan air di sejumlah daerah seperti Bogor, Mataram, Sulsel, Tangerang, dan Jakarta Timur.&#13;
&#13;
Kondisi cuaca ekstrem ini dipicu aktifnya fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang ekuator, kelembapan udara yang tinggi, suhu laut hangat, serta labilitas atmosfer lokal yang meningkat.&#13;
&#13;
BMKG memperingatkan potensi hujan lebat masih akan berlanjut dalam sepekan ke depan, terutama di wilayah Jawa Barat dan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, NTB, Maluku, dan Papua.&#13;
&#13;
Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap risiko banjir, tanah longsor, pohon tumbang, serta potensi gangguan transportasi darat, laut, dan udara akibat cuaca buruk.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
