<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kemarau Masih Basah, BMKG Ingatkan Cuaca Ekstrem Ancam Wilayah Indonesia</title><description>Meski secara kalender Indonesia telah memasuki musim kemarau, sebagian besar wilayah justru masih diguyur hujan lebat dan dilanda cuaca ekstrem.&#13;
 &#13;
&#13;
 &#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2025/07/12/337/3154702/kemarau-masih-basah-bmkg-ingatkan-cuaca-ekstrem-ancam-wilayah-indonesia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2025/07/12/337/3154702/kemarau-masih-basah-bmkg-ingatkan-cuaca-ekstrem-ancam-wilayah-indonesia"/><item><title>Kemarau Masih Basah, BMKG Ingatkan Cuaca Ekstrem Ancam Wilayah Indonesia</title><link>https://news.okezone.com/read/2025/07/12/337/3154702/kemarau-masih-basah-bmkg-ingatkan-cuaca-ekstrem-ancam-wilayah-indonesia</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2025/07/12/337/3154702/kemarau-masih-basah-bmkg-ingatkan-cuaca-ekstrem-ancam-wilayah-indonesia</guid><pubDate>Sabtu 12 Juli 2025 07:42 WIB</pubDate><dc:creator>Dwinarto</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2025/07/12/337/3154702/cuaca-hlDY_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Cuaca hujan (foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2025/07/12/337/3154702/cuaca-hlDY_large.jpg</image><title>Cuaca hujan (foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Meski secara kalender Indonesia telah memasuki musim kemarau, sebagian besar wilayah justru masih diguyur hujan lebat dan dilanda cuaca ekstrem.&#13;
&#13;
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut, dinamika atmosfer global yang kompleks membuat kemarau tahun ini belum benar-benar terasa kering.&#13;
&#13;
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati menyampaikan, bahwa hingga akhir Juni 2025, baru sekitar 30 persen zona musim di Indonesia yang benar-benar memasuki kemarau. Sisanya, termasuk wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua &amp;mdash; masih mengalami hujan intens yang berpotensi memicu banjir, tanah longsor, hingga pohon tumbang.&#13;
&#13;
&amp;quot;Jangan lengah hanya karena disebut musim kemarau. Cuaca ekstrem bisa muncul sewaktu-waktu dan membawa risiko besar,&amp;quot; ujar Dwikorita, Sabtu (12/7/2025).&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
BMKG menjelaskan, bahwa fenomena atmosfer seperti gelombang Rossby dan Kelvin, zona konvergensi angin, serta potensi sirkulasi siklonik di sekitar Samudra Hindia dan Pasifik terus memicu pembentukan awan hujan berskala luas.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Akibatnya, pada 8 dan 9 Juli, sejumlah wilayah seperti Papua, Kalimantan Barat, Sumatera Barat, dan Maluku mencatat curah hujan harian lebih dari 50 mm, angka yang tergolong tinggi untuk musim kemarau.&#13;
&#13;
BMKG memperkirakan potensi cuaca ekstrem masih tinggi dalam sepekan ke depan. Wilayah yang berisiko mengalami hujan lebat disertai petir dan angin kencang meliputi:&#13;
&#13;
- Aceh&#13;
&#13;
- Sumatera Utara&#13;
&#13;
- Papua Pegunungan dan Papua Selatan&#13;
&#13;
- Jawa Timur&#13;
&#13;
- Sulawesi Selatan&#13;
&#13;
- Nusa Tenggara Timur (NTT)&#13;
&#13;
- Maluku&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Tak hanya di daratan, wilayah laut juga diprediksi terdampak. Gelombang tinggi akibat angin kencang lebih dari 25 knot diperkirakan terjadi di:&#13;
&#13;
- Laut Cina Selatan&#13;
&#13;
- Laut Natuna Utara&#13;
&#13;
- Laut Jawa&#13;
&#13;
- Laut Flores&#13;
&#13;
- Laut Banda&#13;
&#13;
- Laut Arafuru&#13;
&#13;
- Samudra Hindia selatan Jawa dan NTT&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Dwikorita mengingatkan masyarakat agar tidak meremehkan ancaman cuaca ekstrem, meski berada di musim kemarau. Ia menekankan pentingnya tindakan preventif seperti:&#13;
&#13;
- Menghindari area terbuka saat terjadi petir&#13;
&#13;
- Menjauhi pohon besar saat angin kencang&#13;
&#13;
- Menjaga kesehatan karena suhu panas dan kelembapan tinggi bisa terjadi bersamaan&#13;
&#13;
&amp;quot;Masyarakat perlu terus memantau informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG. Jangan hanya mengandalkan kebiasaan atau ramalan lama, karena kondisi atmosfer saat ini sangat dinamis,&amp;quot; pungkas Dwikorita.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Meski secara kalender Indonesia telah memasuki musim kemarau, sebagian besar wilayah justru masih diguyur hujan lebat dan dilanda cuaca ekstrem.&#13;
&#13;
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut, dinamika atmosfer global yang kompleks membuat kemarau tahun ini belum benar-benar terasa kering.&#13;
&#13;
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati menyampaikan, bahwa hingga akhir Juni 2025, baru sekitar 30 persen zona musim di Indonesia yang benar-benar memasuki kemarau. Sisanya, termasuk wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua &amp;mdash; masih mengalami hujan intens yang berpotensi memicu banjir, tanah longsor, hingga pohon tumbang.&#13;
&#13;
&amp;quot;Jangan lengah hanya karena disebut musim kemarau. Cuaca ekstrem bisa muncul sewaktu-waktu dan membawa risiko besar,&amp;quot; ujar Dwikorita, Sabtu (12/7/2025).&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
BMKG menjelaskan, bahwa fenomena atmosfer seperti gelombang Rossby dan Kelvin, zona konvergensi angin, serta potensi sirkulasi siklonik di sekitar Samudra Hindia dan Pasifik terus memicu pembentukan awan hujan berskala luas.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Akibatnya, pada 8 dan 9 Juli, sejumlah wilayah seperti Papua, Kalimantan Barat, Sumatera Barat, dan Maluku mencatat curah hujan harian lebih dari 50 mm, angka yang tergolong tinggi untuk musim kemarau.&#13;
&#13;
BMKG memperkirakan potensi cuaca ekstrem masih tinggi dalam sepekan ke depan. Wilayah yang berisiko mengalami hujan lebat disertai petir dan angin kencang meliputi:&#13;
&#13;
- Aceh&#13;
&#13;
- Sumatera Utara&#13;
&#13;
- Papua Pegunungan dan Papua Selatan&#13;
&#13;
- Jawa Timur&#13;
&#13;
- Sulawesi Selatan&#13;
&#13;
- Nusa Tenggara Timur (NTT)&#13;
&#13;
- Maluku&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Tak hanya di daratan, wilayah laut juga diprediksi terdampak. Gelombang tinggi akibat angin kencang lebih dari 25 knot diperkirakan terjadi di:&#13;
&#13;
- Laut Cina Selatan&#13;
&#13;
- Laut Natuna Utara&#13;
&#13;
- Laut Jawa&#13;
&#13;
- Laut Flores&#13;
&#13;
- Laut Banda&#13;
&#13;
- Laut Arafuru&#13;
&#13;
- Samudra Hindia selatan Jawa dan NTT&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Dwikorita mengingatkan masyarakat agar tidak meremehkan ancaman cuaca ekstrem, meski berada di musim kemarau. Ia menekankan pentingnya tindakan preventif seperti:&#13;
&#13;
- Menghindari area terbuka saat terjadi petir&#13;
&#13;
- Menjauhi pohon besar saat angin kencang&#13;
&#13;
- Menjaga kesehatan karena suhu panas dan kelembapan tinggi bisa terjadi bersamaan&#13;
&#13;
&amp;quot;Masyarakat perlu terus memantau informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG. Jangan hanya mengandalkan kebiasaan atau ramalan lama, karena kondisi atmosfer saat ini sangat dinamis,&amp;quot; pungkas Dwikorita.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
