<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Menag Nasaruddin: Madrasah Cetak Pemimpin Masa Depan Bangsa</title><description>Menag mengisahkan tentang Syekh Abdul Qadir Jailani, seorang ulama besar yang sejak kecil dididik untuk jujur dalam segala situasi.&#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2025/07/14/337/3155154/menag-nasaruddin-madrasah-cetak-pemimpin-masa-depan-bangsa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2025/07/14/337/3155154/menag-nasaruddin-madrasah-cetak-pemimpin-masa-depan-bangsa"/><item><title>Menag Nasaruddin: Madrasah Cetak Pemimpin Masa Depan Bangsa</title><link>https://news.okezone.com/read/2025/07/14/337/3155154/menag-nasaruddin-madrasah-cetak-pemimpin-masa-depan-bangsa</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2025/07/14/337/3155154/menag-nasaruddin-madrasah-cetak-pemimpin-masa-depan-bangsa</guid><pubDate>Senin 14 Juli 2025 13:00 WIB</pubDate><dc:creator>Fahmi Firdaus </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2025/07/14/337/3155154/pemerintah-x7w4_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Menag Nasaruddin: Madrasah Cetak Pemimpin Masa Depan Bangsa</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2025/07/14/337/3155154/pemerintah-x7w4_large.jpg</image><title>Menag Nasaruddin: Madrasah Cetak Pemimpin Masa Depan Bangsa</title></images><description>JAKARTA - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar, mengatakan, madrasah memiliki peran strategis dalam mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual dan akhlak yang kuat.&#13;
&#13;
Hal itu diungkapkan Nasaruddin saat membuka kegiatan Masa Ta&amp;rsquo;aruf Siswa Madrasah (Matsama) 2025, di MAN 4 Jakarta, Senin (14/7/2025).&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&amp;quot;Madrasah mencetak anak-anak yang salih dan cerdas. Bukan hanya untuk dunia, tapi juga untuk akhirat. Dari madrasah akan lahir pemimpin-pemimpin masa depan bangsa,&amp;quot; ujar Nasaruddin.&#13;
&#13;
Nasaruddin mengisahkan tentang Syekh Abdul Qadir Jailani, seorang ulama besar yang sejak kecil dididik untuk jujur dalam segala situasi.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Kisah itu kata dia menjadi simbol pentingnya akhlak dan integritas sejak dini, yang menurutnya, hanya bisa tumbuh jika anak-anak mendapat pendidikan agama secara mendalam seperti yang diajarkan di madrasah.&#13;
&#13;
&amp;quot;Jadilah anak yang jujur. Nasihat paling sederhana dari seorang ibu bisa menyelamatkan dunia. Anak-anak madrasah hari ini adalah pejuang kejujuran masa depan,&amp;quot; ujarnya&#13;
&#13;
Nasaruddin juga mengungkapkan bahwa tiga anaknya adalah alumni MAN 4 Jakarta, dan seluruhnya berhasil menempuh pendidikan tinggi hingga menjadi dokter serta melanjutkan studi di dalam dan luar negeri.&#13;
&#13;
&amp;quot;Ini bukti bahwa madrasah adalah tempat terbaik untuk menyiapkan masa depan. Jangan ragu menjadi bagian dari madrasah. Anak-anak hebat akan lahir dari sini,&amp;quot; ujarnya.&#13;
&#13;
Namun tidak hanya siswa, guru-guru juga menjadi perhatian utama, guru madrasah adalah mursyid atau pembimbing spiritual, bukan sekadar pengajar.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Oleh karena itu, dia mendorong semua madrasah untuk mengembangkan program upgrading guru, baik dalam metodologi maupun penguatan spiritualitas.&#13;
&#13;
&amp;quot;Guru itu seperti gergaji. Jika tak diasah, ia akan tumpul. Maka guru harus terus belajar, terus diasah, baik intelektual maupun batinnya,&amp;quot; ucapnya.&#13;
&#13;
&amp;quot;Pendidikan di madrasah bukan hanya diawali dengan belajar, tapi dengan penyucian jiwa. Tazkiyah dulu, baru ta&amp;rsquo;lim,&amp;rdquo; tandasnya.&#13;
&#13;
Dirjen Pendidikan Islam, Amien Suyitno, menambahkan, madrasah harus mengembangkan iklim pembelajaran yang membangkitkan semangat batin siswa.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Madrasah mencetak siswa yang bukan hanya tahu, tetapi juga menghayati. Maka pendidikan spiritual seperti salat dhuha, tadarus pagi, harus menjadi budaya harian madrasah,&amp;rdquo; tutupnya.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar, mengatakan, madrasah memiliki peran strategis dalam mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual dan akhlak yang kuat.&#13;
&#13;
Hal itu diungkapkan Nasaruddin saat membuka kegiatan Masa Ta&amp;rsquo;aruf Siswa Madrasah (Matsama) 2025, di MAN 4 Jakarta, Senin (14/7/2025).&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&amp;quot;Madrasah mencetak anak-anak yang salih dan cerdas. Bukan hanya untuk dunia, tapi juga untuk akhirat. Dari madrasah akan lahir pemimpin-pemimpin masa depan bangsa,&amp;quot; ujar Nasaruddin.&#13;
&#13;
Nasaruddin mengisahkan tentang Syekh Abdul Qadir Jailani, seorang ulama besar yang sejak kecil dididik untuk jujur dalam segala situasi.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Kisah itu kata dia menjadi simbol pentingnya akhlak dan integritas sejak dini, yang menurutnya, hanya bisa tumbuh jika anak-anak mendapat pendidikan agama secara mendalam seperti yang diajarkan di madrasah.&#13;
&#13;
&amp;quot;Jadilah anak yang jujur. Nasihat paling sederhana dari seorang ibu bisa menyelamatkan dunia. Anak-anak madrasah hari ini adalah pejuang kejujuran masa depan,&amp;quot; ujarnya&#13;
&#13;
Nasaruddin juga mengungkapkan bahwa tiga anaknya adalah alumni MAN 4 Jakarta, dan seluruhnya berhasil menempuh pendidikan tinggi hingga menjadi dokter serta melanjutkan studi di dalam dan luar negeri.&#13;
&#13;
&amp;quot;Ini bukti bahwa madrasah adalah tempat terbaik untuk menyiapkan masa depan. Jangan ragu menjadi bagian dari madrasah. Anak-anak hebat akan lahir dari sini,&amp;quot; ujarnya.&#13;
&#13;
Namun tidak hanya siswa, guru-guru juga menjadi perhatian utama, guru madrasah adalah mursyid atau pembimbing spiritual, bukan sekadar pengajar.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Oleh karena itu, dia mendorong semua madrasah untuk mengembangkan program upgrading guru, baik dalam metodologi maupun penguatan spiritualitas.&#13;
&#13;
&amp;quot;Guru itu seperti gergaji. Jika tak diasah, ia akan tumpul. Maka guru harus terus belajar, terus diasah, baik intelektual maupun batinnya,&amp;quot; ucapnya.&#13;
&#13;
&amp;quot;Pendidikan di madrasah bukan hanya diawali dengan belajar, tapi dengan penyucian jiwa. Tazkiyah dulu, baru ta&amp;rsquo;lim,&amp;rdquo; tandasnya.&#13;
&#13;
Dirjen Pendidikan Islam, Amien Suyitno, menambahkan, madrasah harus mengembangkan iklim pembelajaran yang membangkitkan semangat batin siswa.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Madrasah mencetak siswa yang bukan hanya tahu, tetapi juga menghayati. Maka pendidikan spiritual seperti salat dhuha, tadarus pagi, harus menjadi budaya harian madrasah,&amp;rdquo; tutupnya.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
