<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Menag Nasaruddin: Alam Bukan Objek Eksploitasi tapi Mitra Kehidupan</title><description>Nasaruddin menambahkan, manusia perlu membangun hubungan emosional dan spiritual dengan alam.&#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2025/07/15/337/3155458/menag-nasaruddin-alam-bukan-objek-eksploitasi-tapi-mitra-kehidupan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2025/07/15/337/3155458/menag-nasaruddin-alam-bukan-objek-eksploitasi-tapi-mitra-kehidupan"/><item><title>Menag Nasaruddin: Alam Bukan Objek Eksploitasi tapi Mitra Kehidupan</title><link>https://news.okezone.com/read/2025/07/15/337/3155458/menag-nasaruddin-alam-bukan-objek-eksploitasi-tapi-mitra-kehidupan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2025/07/15/337/3155458/menag-nasaruddin-alam-bukan-objek-eksploitasi-tapi-mitra-kehidupan</guid><pubDate>Selasa 15 Juli 2025 15:34 WIB</pubDate><dc:creator>Fahmi Firdaus </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2025/07/15/337/3155458/pemerintah-rWgQ_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Menag Nasaruddin: Alam Bukan Objek Eksploitasi tapi Mitra Kehidupan</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2025/07/15/337/3155458/pemerintah-rWgQ_large.jpg</image><title>Menag Nasaruddin: Alam Bukan Objek Eksploitasi tapi Mitra Kehidupan</title></images><description>JAKARTA - &amp;nbsp;Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengungkapkan pentingnya menata ulang cara pandang umat Islam terhadap alam semesta. Menurutnya, alam perlu diposisikan bukan sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai mitra dalam kehidupan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kalau kita menganggap alam hanya objek, maka matilah rasa kita,&amp;rdquo; ujarnya saat membuka kegiatan International Conference on Islamic Ecotheology for the Future of the Earth (ICIEFE) 2025 dan Kick-Off for the Refinement of MoRA&amp;rsquo;s Qur&amp;rsquo;anic di Jakarta, dikutip Selasa (15/7/2025).&#13;
&#13;
Nasaruddin menambahkan, manusia perlu membangun hubungan emosional dan spiritual dengan alam. Untuk itu, ia mendorong pemanfaatan &amp;ldquo;otak kanan&amp;rdquo; dalam memahami alam, bukan sekadar logika dan nalar semata.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Dia memberi contoh masyarakat ribuan tahun lalu yang mampu bertahan hidup tanpa bantuan teknologi modern. Mereka mengandalkan kedekatan dan persahabatan dengan alam dalam menjalani kehidupan sehari-hari.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Mereka tidak membutuhkan laboratorium dan teknologi canggih, tetapi bisa bertahan hidup. Cara mereka adalah melalui persahabatannya dengan alam,&amp;rdquo; ungkapnya.&#13;
&#13;
Pemahaman terhadap ekoteologi, katanya, tidak bisa dilepaskan dari kajian kosmologi. Ia merujuk pandangan sufi Ibnu Arabi yang menyatakan bahwa hanya Tuhan yang benar-benar memiliki wujud sejati, sementara alam adalah bayangan dari-Nya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Demikian pula kalau kita lihat tradisi Hindu di Bali, mereka sangat menghormati pohon-pohon besar. Sejak dulu telah menganggap alam ini sebagai partner. Makanya, mereka tidak berani menebangnya, bukan karena takut, tetapi dianggap sebagai bagian yang sama dengan dirinya,&amp;rdquo;ulasnya.&#13;
&#13;
Menurutnya, perubahan perilaku terhadap alam juga tidak bisa terjadi tanpa perubahan teologi. Menurutnya, teologi saat ini terlalu maskulin, padahal Tuhan sangat erat dengan sifat feminin yang penuh kasih sayang terhadap ciptaan-Nya. &amp;ldquo;Untuk itu, kita butuh kelembutan dalam memahami Tuhan dan alam,&amp;rdquo; pungkasnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Selain menjadi forum dialog, momen ini juga menandai dimulainya tahapan penyempurnaan tafsir Al-Qur&amp;rsquo;an versi Kemenag melalui Kick-Off for the Refinement of MoRA&amp;rsquo;s Qur&amp;rsquo;anic.&#13;
&#13;
Proses penyempurnaan ini diarahkan untuk menghasilkan tafsir yang tidak hanya sahih secara teologis, tetapi juga selaras dengan nilai-nilai kebangsaan, keberagaman budaya, serta tanggap terhadap persoalan kemanusiaan dan lingkungan hidup.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - &amp;nbsp;Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengungkapkan pentingnya menata ulang cara pandang umat Islam terhadap alam semesta. Menurutnya, alam perlu diposisikan bukan sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai mitra dalam kehidupan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kalau kita menganggap alam hanya objek, maka matilah rasa kita,&amp;rdquo; ujarnya saat membuka kegiatan International Conference on Islamic Ecotheology for the Future of the Earth (ICIEFE) 2025 dan Kick-Off for the Refinement of MoRA&amp;rsquo;s Qur&amp;rsquo;anic di Jakarta, dikutip Selasa (15/7/2025).&#13;
&#13;
Nasaruddin menambahkan, manusia perlu membangun hubungan emosional dan spiritual dengan alam. Untuk itu, ia mendorong pemanfaatan &amp;ldquo;otak kanan&amp;rdquo; dalam memahami alam, bukan sekadar logika dan nalar semata.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Dia memberi contoh masyarakat ribuan tahun lalu yang mampu bertahan hidup tanpa bantuan teknologi modern. Mereka mengandalkan kedekatan dan persahabatan dengan alam dalam menjalani kehidupan sehari-hari.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Mereka tidak membutuhkan laboratorium dan teknologi canggih, tetapi bisa bertahan hidup. Cara mereka adalah melalui persahabatannya dengan alam,&amp;rdquo; ungkapnya.&#13;
&#13;
Pemahaman terhadap ekoteologi, katanya, tidak bisa dilepaskan dari kajian kosmologi. Ia merujuk pandangan sufi Ibnu Arabi yang menyatakan bahwa hanya Tuhan yang benar-benar memiliki wujud sejati, sementara alam adalah bayangan dari-Nya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Demikian pula kalau kita lihat tradisi Hindu di Bali, mereka sangat menghormati pohon-pohon besar. Sejak dulu telah menganggap alam ini sebagai partner. Makanya, mereka tidak berani menebangnya, bukan karena takut, tetapi dianggap sebagai bagian yang sama dengan dirinya,&amp;rdquo;ulasnya.&#13;
&#13;
Menurutnya, perubahan perilaku terhadap alam juga tidak bisa terjadi tanpa perubahan teologi. Menurutnya, teologi saat ini terlalu maskulin, padahal Tuhan sangat erat dengan sifat feminin yang penuh kasih sayang terhadap ciptaan-Nya. &amp;ldquo;Untuk itu, kita butuh kelembutan dalam memahami Tuhan dan alam,&amp;rdquo; pungkasnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Selain menjadi forum dialog, momen ini juga menandai dimulainya tahapan penyempurnaan tafsir Al-Qur&amp;rsquo;an versi Kemenag melalui Kick-Off for the Refinement of MoRA&amp;rsquo;s Qur&amp;rsquo;anic.&#13;
&#13;
Proses penyempurnaan ini diarahkan untuk menghasilkan tafsir yang tidak hanya sahih secara teologis, tetapi juga selaras dengan nilai-nilai kebangsaan, keberagaman budaya, serta tanggap terhadap persoalan kemanusiaan dan lingkungan hidup.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
