<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Jane Foster, Intelijen Cantik Amerika yang Memata-matai Soekarno Setelah Kemerdekaan Indonesia</title><description>Salah satu sosok penting yang berperan mengintai Republik Indonesia adalah Jane Foster, seorang intelijen cantik asal Amerika Serikat yang beroperasi di masa kritis tersebut. &#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2025/08/08/337/3161391/jane-foster-intelijen-cantik-amerika-yang-memata-matai-soekarno-setelah-kemerdekaan-indonesia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2025/08/08/337/3161391/jane-foster-intelijen-cantik-amerika-yang-memata-matai-soekarno-setelah-kemerdekaan-indonesia"/><item><title>Jane Foster, Intelijen Cantik Amerika yang Memata-matai Soekarno Setelah Kemerdekaan Indonesia</title><link>https://news.okezone.com/read/2025/08/08/337/3161391/jane-foster-intelijen-cantik-amerika-yang-memata-matai-soekarno-setelah-kemerdekaan-indonesia</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2025/08/08/337/3161391/jane-foster-intelijen-cantik-amerika-yang-memata-matai-soekarno-setelah-kemerdekaan-indonesia</guid><pubDate>Jum'at 08 Agustus 2025 15:44 WIB</pubDate><dc:creator>Dian AF</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2025/08/08/337/3161391/jane_foster_seorang_agen_intelijen_amerika_serikat_yang_memata_matai_indonesia-V4jX_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Jane Foster seorang agen intelijen Amerika Serikat yang memata-matai Indonesia  (Foto ilustrasi/befreetour.com)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2025/08/08/337/3161391/jane_foster_seorang_agen_intelijen_amerika_serikat_yang_memata_matai_indonesia-V4jX_large.jpg</image><title>Jane Foster seorang agen intelijen Amerika Serikat yang memata-matai Indonesia  (Foto ilustrasi/befreetour.com)</title></images><description>PASCA Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, negara ini tidak hanya menjadi sorotan dunia Internasional, tetapi juga menjadi target pengawasan berbagai agen mata-mata asing. Salah satu sosok penting yang berperan mengintai Republik Indonesia adalah Jane Foster, seorang intelijen cantik asal Amerika Serikat yang beroperasi di masa kritis tersebut.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Siapakah Jane Foster dan bagaimana perannya dalam perpolitikan Indonesia pasca perang dunia kedua?&#13;
&#13;
Profil Singkat Jane Foster&#13;
&#13;
Jane Foster lahir pada tahun 1912 di San Francisco, California. Setelah menempuh pendidikan di Mills College, Oakland, ia memasuki dunia intelijen dengan bergabung ke Office of Strategic Services (OSS) pada tahun 1943, lembaga intelijen Amerika Serikat yang merupakan cikal bakal CIA.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Foster awalnya bertugas di Salzburg, Austria, lalu dipindahkan ke Sri Lanka sebelum akhirnya terlibat dalam operasi intelijen di Asia Tenggara, termasuk Indonesia pasca kemerdekaan 1945.&#13;
&#13;
Foster pernah menikah dengan diplomat Belanda dan menetap di Jawa pada 1936, Foster memiliki pemahaman mendalam soal budaya dan kondisi lokal Indonesia, membuatnya mudah beradaptasi dan memperoleh akses penting ke tokoh-tokoh nasionalis seperti Soekarno dan Mohammad Hatta.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Misi Utama: Memata-matai Indonesia yang Baru Merdeka&#13;
&#13;
Pada Agustus 1945, lewat perintah Kolonel John Coughlin dari OSS, Jane Foster diberi tugas utama melaporkan situasi politik dan pandangan para pemimpin Indonesia.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Foster mengadakan wawancara langsung dengan Soekarno, Mohammad Hatta, Amir Syarifudin, serta tokoh penting lainnya, untuk mengetahui sejauh mana dukungan atau ancaman gerakan nasionalis terhadap kepentingan Amerika dan Sekutu.&#13;
&#13;
Dari laporannya, Foster menyimpulkan bahwa gerakan nasionalis Indonesia tidak bagian rencana komunis Rusia ataupun Jepang, melainkan ledakan alami akibat penindasan kolonial yang sudah berlangsung lama. Menariknya, ia menegaskan bahwa para pemimpin Indonesia lebih mengutamakan diplomasi dan perdamaian ketimbang revolusi bersenjata.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Reaksi dan Kecewa Jane Foster terhadap Kebijakan AS&#13;
&#13;
Meskipun Foster menunjukkan simpati terhadap perjuangan Indonesia dalam laporan rahasianya, kebijakan luar negeri Amerika saat itu berbeda. Presiden Truman, menggantikan Roosevelt, lebih mendukung kembalinya kekuatan kolonial, seperti Belanda, untuk menguasai kembali wilayah jajahan mereka, termasuk Indonesia. Kebijakan ini memicu kekecewaan Foster yang secara pribadi menyaksikan kekejaman penjajahan Eropa di Asia Tenggara dan mengutuk keras keputusan tersebut&#13;
&#13;
&amp;quot;Ini adalah pengkhianatan terhadap cita-cita kemerdekaan yang harus dihormati,&amp;quot; ungkap Foster dalam salah satu laporan rahasianya yang dikutip media internasional.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Jane Foster dan Warisan Intelijen yang Tersisa&#13;
&#13;
Setelah meninggalkan OSS pada 1946, Foster memilih menetap di Paris dan menghindari dunia intelijen. Namun, jejaknya tetap menjadi bukti bahwa Indonesia pasca-kemerdekaan adalah pusat perhatian dunia, terutama dalam perebutan pengaruh geopolitik antara Barat dan negara-negara bekas penjajah.&#13;
&#13;
Dengan menyelami sejarah Jane Foster, kita dapat lebih memahami betapa strategisnya posisi Indonesia dalam panggung dunia, yang tidak hanya dilihat dari sisi politik dan diplomasi, tetapi juga dalam ranah intelijen.&#13;
&amp;nbsp;&#13;
</description><content:encoded>PASCA Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, negara ini tidak hanya menjadi sorotan dunia Internasional, tetapi juga menjadi target pengawasan berbagai agen mata-mata asing. Salah satu sosok penting yang berperan mengintai Republik Indonesia adalah Jane Foster, seorang intelijen cantik asal Amerika Serikat yang beroperasi di masa kritis tersebut.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Siapakah Jane Foster dan bagaimana perannya dalam perpolitikan Indonesia pasca perang dunia kedua?&#13;
&#13;
Profil Singkat Jane Foster&#13;
&#13;
Jane Foster lahir pada tahun 1912 di San Francisco, California. Setelah menempuh pendidikan di Mills College, Oakland, ia memasuki dunia intelijen dengan bergabung ke Office of Strategic Services (OSS) pada tahun 1943, lembaga intelijen Amerika Serikat yang merupakan cikal bakal CIA.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Foster awalnya bertugas di Salzburg, Austria, lalu dipindahkan ke Sri Lanka sebelum akhirnya terlibat dalam operasi intelijen di Asia Tenggara, termasuk Indonesia pasca kemerdekaan 1945.&#13;
&#13;
Foster pernah menikah dengan diplomat Belanda dan menetap di Jawa pada 1936, Foster memiliki pemahaman mendalam soal budaya dan kondisi lokal Indonesia, membuatnya mudah beradaptasi dan memperoleh akses penting ke tokoh-tokoh nasionalis seperti Soekarno dan Mohammad Hatta.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Misi Utama: Memata-matai Indonesia yang Baru Merdeka&#13;
&#13;
Pada Agustus 1945, lewat perintah Kolonel John Coughlin dari OSS, Jane Foster diberi tugas utama melaporkan situasi politik dan pandangan para pemimpin Indonesia.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Foster mengadakan wawancara langsung dengan Soekarno, Mohammad Hatta, Amir Syarifudin, serta tokoh penting lainnya, untuk mengetahui sejauh mana dukungan atau ancaman gerakan nasionalis terhadap kepentingan Amerika dan Sekutu.&#13;
&#13;
Dari laporannya, Foster menyimpulkan bahwa gerakan nasionalis Indonesia tidak bagian rencana komunis Rusia ataupun Jepang, melainkan ledakan alami akibat penindasan kolonial yang sudah berlangsung lama. Menariknya, ia menegaskan bahwa para pemimpin Indonesia lebih mengutamakan diplomasi dan perdamaian ketimbang revolusi bersenjata.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Reaksi dan Kecewa Jane Foster terhadap Kebijakan AS&#13;
&#13;
Meskipun Foster menunjukkan simpati terhadap perjuangan Indonesia dalam laporan rahasianya, kebijakan luar negeri Amerika saat itu berbeda. Presiden Truman, menggantikan Roosevelt, lebih mendukung kembalinya kekuatan kolonial, seperti Belanda, untuk menguasai kembali wilayah jajahan mereka, termasuk Indonesia. Kebijakan ini memicu kekecewaan Foster yang secara pribadi menyaksikan kekejaman penjajahan Eropa di Asia Tenggara dan mengutuk keras keputusan tersebut&#13;
&#13;
&amp;quot;Ini adalah pengkhianatan terhadap cita-cita kemerdekaan yang harus dihormati,&amp;quot; ungkap Foster dalam salah satu laporan rahasianya yang dikutip media internasional.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Jane Foster dan Warisan Intelijen yang Tersisa&#13;
&#13;
Setelah meninggalkan OSS pada 1946, Foster memilih menetap di Paris dan menghindari dunia intelijen. Namun, jejaknya tetap menjadi bukti bahwa Indonesia pasca-kemerdekaan adalah pusat perhatian dunia, terutama dalam perebutan pengaruh geopolitik antara Barat dan negara-negara bekas penjajah.&#13;
&#13;
Dengan menyelami sejarah Jane Foster, kita dapat lebih memahami betapa strategisnya posisi Indonesia dalam panggung dunia, yang tidak hanya dilihat dari sisi politik dan diplomasi, tetapi juga dalam ranah intelijen.&#13;
&amp;nbsp;&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
