<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Panglima TNI Soal &amp;lsquo;Stop Tut Tut Wuk Wuk&amp;rsquo;: VVIP Boleh, yang Ilegal Ditertibkan</title><description>Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto turut menanggapi ramainya penolakan terhadap praktik pemberian jalan bagi pejabat yang dikawal dengan sirene dan strobo berbunyi ?? tut tut wuk wuk.”&#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2025/09/21/337/3171464/panglima-tni-soal-lsquo-stop-tut-tut-wuk-wuk-rsquo-vvip-boleh-yang-ilegal-ditertibkan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2025/09/21/337/3171464/panglima-tni-soal-lsquo-stop-tut-tut-wuk-wuk-rsquo-vvip-boleh-yang-ilegal-ditertibkan"/><item><title>Panglima TNI Soal &amp;lsquo;Stop Tut Tut Wuk Wuk&amp;rsquo;: VVIP Boleh, yang Ilegal Ditertibkan</title><link>https://news.okezone.com/read/2025/09/21/337/3171464/panglima-tni-soal-lsquo-stop-tut-tut-wuk-wuk-rsquo-vvip-boleh-yang-ilegal-ditertibkan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2025/09/21/337/3171464/panglima-tni-soal-lsquo-stop-tut-tut-wuk-wuk-rsquo-vvip-boleh-yang-ilegal-ditertibkan</guid><pubDate>Minggu 21 September 2025 16:04 WIB</pubDate><dc:creator>Achmad Al Fiqri</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2025/09/21/337/3171464/panglima_tni_jenderal_agus_subiyanto-90Rs_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto  (foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2025/09/21/337/3171464/panglima_tni_jenderal_agus_subiyanto-90Rs_large.jpg</image><title>Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto  (foto: Okezone)</title></images><description>&#13;
&#13;
JAKARTA &amp;ndash; Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto turut menanggapi ramainya penolakan terhadap praktik pemberian jalan bagi pejabat yang dikawal dengan sirene dan strobo berbunyi &amp;ldquo;tut tut wuk wuk.&amp;rdquo;&#13;
&#13;
Ia menegaskan, penggunaan sirene, strobo, maupun rotator memiliki aturan yang jelas. Menurutnya, hal itu hanya diperbolehkan dalam pengawalan tamu VVIP.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Saya rasakan untuk VVIP ya, dalam konvoi itu kan ada aturannya. Itu boleh, kalau khusus VVIP memang ada aturan,&amp;rdquo; ujar Agus saat ditemui di kawasan Monas, Jakarta Pusat, Minggu (21/9/2025).&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Agus juga menilai penggunaan strobo, sirene, dan rotator secara ilegal harus ditindak. &amp;ldquo;Ya mungkin ilegal yang harus ditertibkan lah, nggak boleh,&amp;rdquo; tegasnya.&#13;
&#13;
Sekadar informasi, viral di media sosial gerakan &amp;ldquo;Stop Tut Tut Wuk Wuk&amp;rdquo; sebagai bentuk protes masyarakat terhadap penggunaan sirene dan strobo yang dianggap meresahkan pengguna jalan.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Dalam unggahan warganet, masyarakat meminta agar penggunaan sirene dan strobo diprioritaskan untuk kendaraan dengan kebutuhan darurat, seperti ambulans dan pemadam kebakaran.&#13;
&#13;
Merespons hal itu, Kakorlantas Polri Irjen Agus Suryonugroho memutuskan membekukan penggunaan strobo dan sirene berbunyi &amp;ldquo;tut tut wuk wuk&amp;rdquo; untuk kendaraan pengawalan (patwal). Keputusan ini menyusul ramainya gerakan &amp;lsquo;Stop Tut Tut Wuk Wuk&amp;rsquo;.&#13;
&#13;
Menurut Agus, pihaknya juga telah menghentikan penggunaan strobo dan sirene pada kendaraan patwal, khususnya saat lalu lintas padat.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Bahkan saya, Kakorlantas, sudah membekukan pengawalan menggunakan suara-suara itu karena masyarakat terganggu, apalagi saat lalu lintas padat. Ini kita evaluasi, walaupun memang ada ketentuannya kapan sirene boleh digunakan, termasuk &amp;lsquo;tut tut&amp;rsquo; itu,&amp;rdquo; ujar Agus di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (19/9/2025).&#13;
</description><content:encoded>&#13;
&#13;
JAKARTA &amp;ndash; Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto turut menanggapi ramainya penolakan terhadap praktik pemberian jalan bagi pejabat yang dikawal dengan sirene dan strobo berbunyi &amp;ldquo;tut tut wuk wuk.&amp;rdquo;&#13;
&#13;
Ia menegaskan, penggunaan sirene, strobo, maupun rotator memiliki aturan yang jelas. Menurutnya, hal itu hanya diperbolehkan dalam pengawalan tamu VVIP.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Saya rasakan untuk VVIP ya, dalam konvoi itu kan ada aturannya. Itu boleh, kalau khusus VVIP memang ada aturan,&amp;rdquo; ujar Agus saat ditemui di kawasan Monas, Jakarta Pusat, Minggu (21/9/2025).&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Agus juga menilai penggunaan strobo, sirene, dan rotator secara ilegal harus ditindak. &amp;ldquo;Ya mungkin ilegal yang harus ditertibkan lah, nggak boleh,&amp;rdquo; tegasnya.&#13;
&#13;
Sekadar informasi, viral di media sosial gerakan &amp;ldquo;Stop Tut Tut Wuk Wuk&amp;rdquo; sebagai bentuk protes masyarakat terhadap penggunaan sirene dan strobo yang dianggap meresahkan pengguna jalan.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Dalam unggahan warganet, masyarakat meminta agar penggunaan sirene dan strobo diprioritaskan untuk kendaraan dengan kebutuhan darurat, seperti ambulans dan pemadam kebakaran.&#13;
&#13;
Merespons hal itu, Kakorlantas Polri Irjen Agus Suryonugroho memutuskan membekukan penggunaan strobo dan sirene berbunyi &amp;ldquo;tut tut wuk wuk&amp;rdquo; untuk kendaraan pengawalan (patwal). Keputusan ini menyusul ramainya gerakan &amp;lsquo;Stop Tut Tut Wuk Wuk&amp;rsquo;.&#13;
&#13;
Menurut Agus, pihaknya juga telah menghentikan penggunaan strobo dan sirene pada kendaraan patwal, khususnya saat lalu lintas padat.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Bahkan saya, Kakorlantas, sudah membekukan pengawalan menggunakan suara-suara itu karena masyarakat terganggu, apalagi saat lalu lintas padat. Ini kita evaluasi, walaupun memang ada ketentuannya kapan sirene boleh digunakan, termasuk &amp;lsquo;tut tut&amp;rsquo; itu,&amp;rdquo; ujar Agus di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (19/9/2025).&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
