<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title> 11 Fakta di Balik Gempa yang Merusak Sukabumi dan Bogor</title><description>Direktur Gempabumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Daryono membeberkan 11 fakta terkait gempa merusak yang mengguncang Kabupaten Sukabumi dan Bogor, Jawa Barat sejak Sabtu (20/9) malam hingga Minggu (21/9).&#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2025/09/21/337/3171514/11-fakta-di-balik-gempa-yang-merusak-sukabumi-dan-bogor</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2025/09/21/337/3171514/11-fakta-di-balik-gempa-yang-merusak-sukabumi-dan-bogor"/><item><title> 11 Fakta di Balik Gempa yang Merusak Sukabumi dan Bogor</title><link>https://news.okezone.com/read/2025/09/21/337/3171514/11-fakta-di-balik-gempa-yang-merusak-sukabumi-dan-bogor</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2025/09/21/337/3171514/11-fakta-di-balik-gempa-yang-merusak-sukabumi-dan-bogor</guid><pubDate>Minggu 21 September 2025 21:51 WIB</pubDate><dc:creator>Binti Mufarida</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2025/09/21/337/3171514/gempa_sukabumi-IM5T_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Gempa Sukabumi (foto: freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2025/09/21/337/3171514/gempa_sukabumi-IM5T_large.jpg</image><title>Gempa Sukabumi (foto: freepik)</title></images><description>&#13;
&#13;
JAKARTA - Direktur Gempabumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Daryono membeberkan 11 fakta terkait gempa merusak yang mengguncang Kabupaten Sukabumi dan Bogor, Jawa Barat sejak Sabtu (20/9) malam hingga Minggu (21/9).&#13;
&#13;
Berikut fakta-fakta gempa merusak yang mengguncang Sukabumi-Bogor, diantaranya:&#13;
&#13;
1. Gempa utama (mainshock) memiliki magnitudo M4,0 dengan kedalaman hiposenter 7 km. Terjadi pada hari Sabtu 20 September 2025 pukul 23:47:44 WIB.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
2. Episenter gempa terletak di darat, di wilayah Kecamatan Kabandungan Kabupaten Sukabumi.&#13;
&#13;
3. Jenis gempa yang terjadi adalah gempa tektonik kerak dangkal (shallow crustal earthquake) yang dipicu aktivitas sesar aktif.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
4. Bukti bahwa Gempa Sukabumi-Bogor adalah gempa tektonik tampak pada bentuk gelombang gempa (waveform) hasil catatan Sensor Seismik DBJI (Darmaga) dan CBJI (Citeko) dengan karakteristik gelombang S (shear) yang tampak kuat dengan komponen frekuensi tinggi. Fakta ini sekaligus memastikan bahwa gempa yang terjadi bukan dipicu gempa vulkanik.&#13;
&#13;
5. Hasil analisis mekanisme sumber gempa menunjukkan bahwa gempa ini memiliki mekanisme pergerakan mendatar/geser (strike-slip fault).&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
6. Gempa yang terjadi tidak dipicu oleh aktivitas sesar Citarik, karena pusat gempa utama dan susulannya tersebar jauh di sebelah barat jalur Sesar Citarik.&#13;
&#13;
7. Gempa ini dirasakan di Kalapanunggal dan Kabandungan dalam Skala Intensitas III - IV MMI, di Pamijahan dan Leuwiliang dalam III MMI, di Bogor dalam II - III MMI, dan di Palabuhanratu dan Depok dalam II MMI.&#13;
&#13;
8. Gempa yang terjadi menimbulkan kerusakan ringan pada beberapa bangunan rumah warga di Desa Cipeuteuy, Kecamatan Kabandungan. Catatan sementara menunjukkan ada 5 rumah yang terdampak, 20 jiwa harus menghadapi situasi darurat. Patut disyukuri bahwa, gempa yang terjadi tidak menimbulkan korban meninggal dunia dan luka-luka.&#13;
&#13;
9. Kerusakan bangunan rumah disebabkan karena hiposenter gempa yang dangkal, kondisi tanah lunak di zona gempa dan struktur bangunan yang lemah tidak standar tahan gempa.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
10. Hasil monitoring BMKG menunjukkan gempa susulan telah terjadi sebanyak 39 kali. Gempa susulan dirasakan sebanyak 5 kali (M3,0 M3,8 M26, M2,8 dan 3,8). Magnitudo gempa susulan terbesar: M 3,8 dan terkecil: M 1,9.&#13;
&#13;
11. Gempa merusak di wilayah ini bukan yang pertama kali terjadi. Kejadian serupa pernah terjadi pada Maret 2020 dimana ratusan rumah rusak di 6 kecamatan yang termasuk Kabandungan.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Pada Desember 2023 juga terjadi di Pamijahan dan Kabandungan yang menyebabkan 61 rumah rusak, dan pada Juli 2000 gempa juga merusak banyak rumah di beberapa kecamatan, termasuk Kabandungan.&#13;
</description><content:encoded>&#13;
&#13;
JAKARTA - Direktur Gempabumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Daryono membeberkan 11 fakta terkait gempa merusak yang mengguncang Kabupaten Sukabumi dan Bogor, Jawa Barat sejak Sabtu (20/9) malam hingga Minggu (21/9).&#13;
&#13;
Berikut fakta-fakta gempa merusak yang mengguncang Sukabumi-Bogor, diantaranya:&#13;
&#13;
1. Gempa utama (mainshock) memiliki magnitudo M4,0 dengan kedalaman hiposenter 7 km. Terjadi pada hari Sabtu 20 September 2025 pukul 23:47:44 WIB.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
2. Episenter gempa terletak di darat, di wilayah Kecamatan Kabandungan Kabupaten Sukabumi.&#13;
&#13;
3. Jenis gempa yang terjadi adalah gempa tektonik kerak dangkal (shallow crustal earthquake) yang dipicu aktivitas sesar aktif.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
4. Bukti bahwa Gempa Sukabumi-Bogor adalah gempa tektonik tampak pada bentuk gelombang gempa (waveform) hasil catatan Sensor Seismik DBJI (Darmaga) dan CBJI (Citeko) dengan karakteristik gelombang S (shear) yang tampak kuat dengan komponen frekuensi tinggi. Fakta ini sekaligus memastikan bahwa gempa yang terjadi bukan dipicu gempa vulkanik.&#13;
&#13;
5. Hasil analisis mekanisme sumber gempa menunjukkan bahwa gempa ini memiliki mekanisme pergerakan mendatar/geser (strike-slip fault).&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
6. Gempa yang terjadi tidak dipicu oleh aktivitas sesar Citarik, karena pusat gempa utama dan susulannya tersebar jauh di sebelah barat jalur Sesar Citarik.&#13;
&#13;
7. Gempa ini dirasakan di Kalapanunggal dan Kabandungan dalam Skala Intensitas III - IV MMI, di Pamijahan dan Leuwiliang dalam III MMI, di Bogor dalam II - III MMI, dan di Palabuhanratu dan Depok dalam II MMI.&#13;
&#13;
8. Gempa yang terjadi menimbulkan kerusakan ringan pada beberapa bangunan rumah warga di Desa Cipeuteuy, Kecamatan Kabandungan. Catatan sementara menunjukkan ada 5 rumah yang terdampak, 20 jiwa harus menghadapi situasi darurat. Patut disyukuri bahwa, gempa yang terjadi tidak menimbulkan korban meninggal dunia dan luka-luka.&#13;
&#13;
9. Kerusakan bangunan rumah disebabkan karena hiposenter gempa yang dangkal, kondisi tanah lunak di zona gempa dan struktur bangunan yang lemah tidak standar tahan gempa.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
10. Hasil monitoring BMKG menunjukkan gempa susulan telah terjadi sebanyak 39 kali. Gempa susulan dirasakan sebanyak 5 kali (M3,0 M3,8 M26, M2,8 dan 3,8). Magnitudo gempa susulan terbesar: M 3,8 dan terkecil: M 1,9.&#13;
&#13;
11. Gempa merusak di wilayah ini bukan yang pertama kali terjadi. Kejadian serupa pernah terjadi pada Maret 2020 dimana ratusan rumah rusak di 6 kecamatan yang termasuk Kabandungan.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Pada Desember 2023 juga terjadi di Pamijahan dan Kabandungan yang menyebabkan 61 rumah rusak, dan pada Juli 2000 gempa juga merusak banyak rumah di beberapa kecamatan, termasuk Kabandungan.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
